Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hadir di Indonesia, Plaud Bawa Teknologi Transkripsi AI untuk 112 Bahasa

📅 Sabtu, 03 Okt 2026, 14:53 WIB | Oleh:

Dalam praktiknya, hal tersebut dapat mengurangi pekerjaan administratif. Namun, semakin jauh AI mengubah hasil percakapan menjadi dokumen atau tindakan, semakin penting pula pengguna memahami bagaimana informasi tersebut diproses.

Rekaman Suara Membawa Persoalan Privasi

Di balik kemudahan transkripsi, terdapat persoalan yang tidak kalah penting: rekaman percakapan mengandung informasi mengenai orang lain selain pemilik perangkat.

Sebuah rekaman rapat dapat memuat nama, nomor telepon, informasi perusahaan, kondisi kesehatan, informasi keuangan, strategi bisnis, atau pembicaraan yang belum ditujukan untuk publik. Karena itu, perangkat perekam AI tidak hanya berhubungan dengan persoalan teknis, tetapi juga pengelolaan data pribadi.

Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi menetapkan prinsip-prinsip seperti pelindungan, kehati-hatian, keseimbangan, pertanggungjawaban, dan kerahasiaan dalam pemrosesan data pribadi. UU tersebut juga membedakan data pribadi umum dan data pribadi yang bersifat spesifik.

Dalam penggunaan perangkat perekam, persoalannya tidak berhenti pada data yang dimiliki pengguna sendiri. Orang lain yang ikut berbicara juga dapat menjadi bagian dari rekaman.

Karena itu, Plaud sendiri menyarankan pengguna memberi tahu pihak lain sebelum merekam percakapan dan mengingatkan bahwa aturan mengenai perekaman dapat berbeda menurut wilayah hukum.

Bagi penggunaan profesional, langkah sederhana seperti memberitahukan bahwa percakapan akan direkam dapat menjadi bagian dari praktik perlindungan privasi, terutama ketika percakapan menyangkut informasi sensitif.

Bagaimana Plaud Mengelola Data?

Menurut dokumentasi privasi Plaud yang diperbarui pada 2026, rekaman pada dasarnya disimpan pada perangkat dan aplikasi pengguna. Ketika pengguna meminta proses transkripsi atau rangkuman, data yang diperlukan dapat dikirimkan ke layanan AI untuk diproses. Plaud menyatakan transmisi tersebut dienkripsi.

Plaud juga menyatakan data pengguna tidak digunakan untuk melatih model AI. Perusahaan menyebut penyedia AI yang digunakan untuk transkripsi dan rangkuman terikat perjanjian yang menerapkan kebijakan zero data retention dan melarang penggunaan data pelanggan untuk pelatihan model.

Dalam dokumentasi terbarunya, Plaud menyebut layanan AI dapat melibatkan penyedia seperti OpenAI, Google, dan Microsoft untuk proses transkripsi dan rangkuman. Menurut perusahaan, data dikirim melalui API untuk diproses dan kemudian hasilnya dikembalikan ke aplikasi, sementara penyedia AI tidak menyimpan data tersebut setelah proses selesai.

Plaud juga menjelaskan bahwa ketika Private Cloud Sync tidak diaktifkan, rekaman, transkrip, dan rangkuman tidak disimpan secara permanen di server setelah proses selesai. Jika fitur tersebut diaktifkan, data dapat disimpan di cloud terenkripsi untuk kebutuhan sinkronisasi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.