Operasi Katarak Tak Lagi Sekadar Mengembalikan Penglihatan, Kualitas Penglihatan Jadi Perhatian
Rabu, 30 Sep 2026, 16:20 WIBJAKARTA â Operasi katarak selama ini dikenal sebagai tindakan untuk mengangkat lensa mata yang keruh dan menggantinya dengan lensa buatan. Namun, seiring meningkatnya usia harapan hidup dan semakin aktifnya masyarakat lanjut usia, tujuan operasi katarak kini berkembang.
Kini penglihatan yang lebih jelas tetap menjadi sasaran utama dari operasi katarak, tetapi kualitas penglihatan setelah tindakan juga semakin diperhatikan agar sesuai dengan kebutuhan aktivitas pasien sehari-hari.
Indonesia sendiri telah memasuki fase ageing population. Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Badan Pusat Statistik, penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai 11,97 persen dari total populasi Indonesia.
Perubahan demografi tersebut membuat kesehatan mata menjadi semakin penting, terutama untuk mempertahankan kemampuan masyarakat lanjut usia agar tetap aktif dan mandiri. Kementerian Kesehatan RI mencatat sekitar 600 ribu hingga 650 ribu kasus kebutaan akibat katarak. Katarak juga menjadi penyebab utama kebutaan pada penduduk berusia di atas 50 tahun, dengan proporsi mencapai 81,2 persen.
Dari jutaan peserta skrining kesehatan dalam program nasional, sebagian besar di antaranya teridentifikasi mengalami gangguan mata. Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 94 juta orang mengalami gangguan penglihatan sedang hingga berat atau kebutaan akibat katarak. Persoalan akses juga masih menjadi tantangan. WHO menyoroti bahwa hampir separuh orang dengan kebutaan terkait katarak di dunia belum mendapatkan akses terhadap operasi.
Di sisi lain, kebutuhan masyarakat terhadap fungsi penglihatan semakin beragam. Banyak orang tetap bekerja setelah memasuki usia lanjut, menggunakan komputer dan perangkat digital, membaca, berkendara, bepergian, hingga melakukan berbagai aktivitas yang membutuhkan kemampuan melihat pada jarak yang berbeda.
Kondisi tersebut membuat pembahasan mengenai operasi katarak tidak lagi berhenti pada pertanyaan apakah pasien dapat melihat lebih jelas setelah operasi. Dokter juga perlu mempertimbangkan bagaimana kualitas penglihatan tersebut dapat menunjang aktivitas pasien sehari-hari.
Dokter spesialis mata JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Milzan Murtadha, SpM, mengatakan perkembangan teknologi memberikan semakin banyak pilihan dalam penanganan katarak.
âTujuan operasi katarak bukan hanya membuat pasien kembali melihat lebih jelas, tetapi bagaimana kualitas penglihatan tersebut dapat mendukung aktivitas sehari-hari. Karena kondisi mata, kebutuhan visual, dan aktivitas setiap orang berbeda, pemeriksaan dan konsultasi menjadi penting untuk menentukan pendekatan operasi serta pilihan lensa yang paling sesuai,â ujarnya di Jakarta.
Katarak Tidak Hanya Berkaitan dengan Usia
Katarak terjadi ketika lensa alami mata yang semula jernih mengalami kekeruhan. Lensa tersebut berfungsi membantu memfokuskan cahaya ke retina. Ketika mengalami kekeruhan, cahaya yang masuk ke mata dapat berkurang atau tersebar sehingga penglihatan menjadi buram.
Gejalanya dapat berupa pandangan seperti berkabut, silau ketika melihat sumber cahaya, kesulitan melihat pada kondisi cahaya redup, perubahan persepsi warna, hingga kebutuhan mengganti ukuran kacamata yang semakin sering.
Proses degeneratif akibat pertambahan usia merupakan salah satu penyebab paling umum. Namun, katarak juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain.
âKatarak memang paling sering ditemukan seiring bertambahnya usia, tetapi faktor yang memengaruhinya cukup beragam. Kondisi seperti diabetes, riwayat trauma atau operasi pada mata, penggunaan obat tertentu, hingga faktor genetik juga perlu diperhatikan. Karena itu, pemeriksaan mata penting untuk memahami kondisi setiap pasien secara menyeluruh, bukan hanya melihat faktor usia,â jelas Dr. Milzan.
Pada tahap awal, katarak mungkin belum banyak mengganggu aktivitas. Namun, ketika kekeruhan semakin berkembang, pasien dapat mengalami kesulitan membaca, bekerja di depan komputer, melihat dalam kondisi minim cahaya, berkendara, atau mengenali objek di lingkungan sekitar.
Karena itu, keputusan untuk menjalani operasi tidak hanya didasarkan pada keberadaan katarak, tetapi juga tingkat gangguan penglihatan dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
âYang perlu diperhatikan bukan hanya ada atau tidaknya katarak, tetapi sejauh mana kondisi tersebut sudah memengaruhi fungsi penglihatan dan aktivitas pasien. Perjalanan katarak dan kebutuhan setiap orang berbeda, sehingga waktu serta pilihan penanganannya juga perlu ditentukan berdasarkan pemeriksaan dan diskusi bersama dokter,â kata Dr. Milzan.
Bagaimana Operasi Katarak Dilakukan?
Secara umum, operasi katarak dilakukan dengan mengangkat lensa alami mata yang telah keruh dan menggantinya dengan lensa intraokular atau intraocular lens (IOL).
Sebelum operasi, dokter melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi mata secara menyeluruh. Pemeriksaan dapat mencakup kondisi kornea, retina, saraf mata, anatomi mata, hingga pengukuran yang diperlukan untuk menentukan kekuatan lensa tanam.
Tahap berikutnya adalah membuka bagian depan kapsul yang membungkus lensa, memecah lensa yang keruh, mengeluarkannya dari mata, kemudian memasukkan IOL sebagai pengganti lensa alami.
Pada operasi katarak konvensional, sejumlah tahapan tersebut dilakukan menggunakan instrumen bedah manual dan energi ultrasonik. Salah satu teknologi yang kemudian berkembang adalah Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery atau FLACS. Teknologi ini menggunakan laser femtosecond untuk membantu sejumlah tahapan operasi yang sebelumnya dilakukan secara manual.
FLACS dan Operasi Konvensional, Apa Bedanya?
Perbedaan utama FLACS dan operasi katarak konvensional terletak pada teknologi yang digunakan untuk membantu beberapa tahapan operasi.
Pada operasi katarak konvensional, dokter menggunakan instrumen bedah untuk membuat sayatan pada kornea dan melakukan tahapan pembukaan kapsul lensa. Lensa yang keruh kemudian dipecah menggunakan energi ultrasonik melalui teknik yang dikenal sebagai phacoemulsification sebelum material lensa dikeluarkan.
Sementara pada FLACS, laser femtosecond digunakan untuk membantu membuat sayatan tertentu, membuat bukaan kapsul lensa, serta memfragmentasi lensa yang keruh sebelum proses pengangkatan. Dengan bantuan laser, beberapa tahapan dapat dilakukan dengan pola dan ukuran yang telah direncanakan berdasarkan hasil pemeriksaan mata pasien.
Di JEC Eye Hospitals and Clinics, FLACS menjadi salah satu teknologi yang tersedia dalam penanganan operasi katarak. Teknologi laser tersebut dapat membantu dokter melakukan beberapa tahapan secara lebih presisi dan konsisten. Fragmentasi lensa sebelum pengangkatan juga dapat membantu mengurangi kebutuhan energi ultrasonik pada tahap berikutnya.
Namun, perbedaan teknologi tersebut tidak berarti bahwa semua pasien otomatis membutuhkan FLACS. Pemilihan teknik operasi tetap perlu mempertimbangkan kondisi mata, tingkat kekeruhan lensa, anatomi mata, kebutuhan pasien, serta pertimbangan klinis lainnya. Dengan kata lain, FLACS merupakan salah satu pilihan teknologi dalam operasi katarak, bukan pengganti mutlak bagi seluruh teknik operasi katarak konvensional.
Mengapa Energi Ultrasonik Perlu Diperhatikan?
Dalam operasi katarak konvensional dengan teknik phacoemulsification, energi ultrasonik digunakan untuk memecah lensa yang keruh menjadi bagian-bagian kecil sehingga dapat dikeluarkan dari mata. Penggunaan energi tersebut merupakan bagian penting dari teknik operasi modern. Namun, jumlah energi yang dibutuhkan dapat berbeda tergantung pada karakteristik katarak dan kondisi pasien.
Pada FLACS, laser digunakan terlebih dahulu untuk membantu membuat fragmentasi pada lensa. Dengan lensa yang telah terfragmentasi, dokter dapat melanjutkan proses pengangkatan menggunakan instrumen yang sesuai. Pendekatan tersebut dapat membantu mengurangi penggunaan energi ultrasonik pada tahap operasi tertentu.
Meski demikian, hasil operasi tetap dipengaruhi oleh banyak faktor. Kondisi kornea, retina, saraf mata, tingkat katarak, teknik dokter, pemilihan IOL, serta kondisi kesehatan mata secara keseluruhan tetap menjadi bagian penting dari evaluasi. Karena itu, istilah âlebih canggihâ pada suatu teknologi tidak dengan sendirinya berarti teknologi tersebut selalu menjadi pilihan yang paling sesuai bagi setiap pasien.
Presisi Teknologi Bertemu dengan Kebutuhan Pasien
Salah satu perubahan penting dalam operasi katarak modern adalah meningkatnya kemampuan untuk melakukan perencanaan tindakan secara individual. Dalam FLACS, laser femtosecond membantu dokter menjalankan sejumlah tahapan sesuai parameter yang telah ditentukan. Hal ini dapat memberikan konsistensi pada bentuk dan lokasi beberapa tindakan yang dilakukan selama operasi.
Namun, presisi teknologi tetap harus diikuti dengan perencanaan klinis yang tepat. Dokter perlu mengevaluasi kondisi mata pasien secara menyeluruh sebelum menentukan pendekatan operasi dan jenis IOL yang akan digunakan. Hal tersebut penting karena tujuan operasi bukan hanya menghilangkan lensa yang keruh, melainkan juga menentukan target penglihatan setelah lensa tersebut diganti.
âTidak ada satu jenis lensa yang otomatis paling baik untuk semua pasien. Dokter perlu mempertimbangkan kondisi kornea, retina dan saraf mata, anatomi mata, hasil kalkulasi lensa, pola aktivitas, serta ekspektasi penggunaan kacamata setelah operasi. Dari situ, pasien dapat memahami pilihan yang paling sesuai dengan kondisinya,â ujar Dr. Milzan.
Pilihan Lensa Menentukan Target Penglihatan
Setelah lensa alami yang keruh diangkat, mata membutuhkan pengganti berupa IOL. Pemilihan lensa menjadi bagian penting karena masing-masing memiliki karakteristik dan target penglihatan yang berbeda.
·Lensa Multifokal: Dirancang untuk mendukung penglihatan pada lebih dari satu jarak, termasuk jauh, menengah, dan dekat. Lensa ini dapat membantu mengurangi ketergantungan pada kacamata untuk sejumlah aktivitas.
·Lensa EDOF (Extended Depth of Focus): Dirancang untuk memberikan rentang fokus yang lebih luas, dengan manfaat yang menonjol pada penglihatan jarak jauh dan menengah (seperti menggunakan komputer atau melihat dashboard kendaraan).
·Lensa Monofokal: Memiliki satu titik fokus yang umumnya diarahkan untuk jarak jauh. Pasien mungkin masih membutuhkan kacamata untuk aktivitas pada jarak lain, tergantung target koreksi yang dipilih.
·Lensa Toric: Dirancang khusus untuk pasien dengan astigmatisme (mata silinder) dan dapat dikombinasikan dengan karakteristik lensa lainnya (monofokal, EDOF, atau multifokal).
Dengan berbagai pilihan tersebut, kebutuhan gaya hidup pasien menjadi faktor penting dalam menentukan IOL. Seseorang yang banyak membaca tentu memiliki kebutuhan visual yang berbeda dengan mereka yang sering berkendara atau bekerja di depan komputer. Karena itu, diskusi mendalam sebelum operasi sangat diperlukan untuk menetapkan ekspektasi secara realistis.
Bukan Sekadar Bebas dari Katarak
Perkembangan teknologi membuat ukuran keberhasilan operasi katarak semakin luas. Keberhasilan tidak hanya berkaitan dengan apakah lensa keruh telah berhasil diangkat, tetapi juga bagaimana penglihatan setelah operasi mendukung aktivitas pasien. Konsep tersebut dikenal sebagai quality of vision.
Kualitas penglihatan tidak semata-mata berarti seberapa kecil tulisan yang dapat dibaca pada pemeriksaan ketajaman penglihatan, tetapi juga pengalaman visual pasien dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, pemeriksaan sebelum operasi tidak hanya berfungsi menentukan tingkat keparahan katarak, melainkan juga mendeteksi kondisi lain seperti kesehatan retina, kornea, saraf mata, tekanan bola mata, hingga permukaan mata yang dapat memengaruhi hasil akhir penglihatan.
Teknologi Tetap Harus Disesuaikan dengan Kondisi Mata
Bagi pasien yang mempertimbangkan operasi katarak, perkembangan teknologi memberikan semakin banyak pilihan. Namun, pilihan tersebut tetap harus disesuaikan dengan kondisi individu. FLACS dan konvensional (phacoemulsification) memiliki prinsip dasar yang sama, yakni mengangkat lensa yang keruh dan menggantinya dengan IOL. Perbedaannya terletak pada sarana bantu teknologi yang digunakan.
Dengan demikian, pertanyaan yang perlu dibicarakan pasien dengan dokter bukan sekadar âmana yang paling canggihâ, tetapi teknik mana yang paling tepat dengan kondisi medis dan target penglihatan mereka.
Pendekatan personal tersebut menjadi semakin relevan seiring bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia. Kemampuan melihat dengan baik dapat mendukung berbagai aspek kehidupanâmulai dari mobilitas, membaca, bekerja, hingga mempertahankan kemandirian di usia lanjut.
Sebagai penyedia layanan kesehatan mata yang telah berdiri sejak 1984, JEC Eye Hospitals and Clinics terus mengembangkan inovasi diagnostik dan bedah. Saat ini, JEC memiliki 16 fasilitas di sembilan kota, termasuk JEC BALI @ Sanur di Kawasan Ekonomi Khusus Sanur, serta persiapan fasilitas baru di Tangerang dan Kediri. JEC juga tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham JECX.
Melalui evolusi layanan ini, teknologi senantiasa ditempatkan sebagai sarana pendukung utama bagi keahlian dokter dalam merawat pasien.
âTeknologi memberi semakin banyak pilihan, tetapi pusat dari seluruh proses tetap pasien. Yang terpenting adalah bagaimana pasien dapat kembali menggunakan penglihatannya untuk menjalani aktivitas dengan baik sesuai kondisi dan kebutuhannya,â lanjut Dr. Milzan.
- Katarak
- JEC Eye Hospitals & Clinics
- operasi katarak
- kesehatan mata
- FLACS
- Kualitas Penglihatan
- Lensa IOL
- Lensa Multifokal
- Lensa EDOF
- Lensa Monofokal
- Lensa Toric
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Pusat Operasi Mata Juling Dibuka, Deteksi Dini Strabismus pada Anak Jadi Perhatian
-
Hujan Lebat dan Banjir Melanda Nagoya Jepang, Satu Orang Tewas
-
Menanti Data NFP di AS, 3 Juli 2026
-
BRI Life Dorong Keberlanjutan Lewat Program Kesehatan dan Pelestarian Lingkungan
-
Lebih dari 400 Peserta Meramaikan Musabaqah Adzan Nusantara di Bogor
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.