Olah 30 Kg Sampah per Minggu, Program Maggot Warga Karet Tengsin Diapresiasi DPRD DKI

Kamis, 22 Okt 2026, 18:55 WIB

JAKARTA - Program pengolahan sampah organik menggunakan maggot di Kelurahan Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat, mampu mengolah hampir 30 kilogram sampah setiap minggu. Keberhasilan warga RT 10/RW 09 tersebut mendapat apresiasi dari anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Elva Farhi Qolbina, yang menilai inisiatif berbasis masyarakat itu berpotensi membantu mengurangi persoalan sampah di Ibu Kota.

Menurut Elva, pengolahan sampah langsung dari lingkungan permukiman merupakan langkah yang dapat membantu menekan penumpukan sampah organik. Program semacam ini dinilai layak dikembangkan lebih luas agar masyarakat memiliki peran aktif dalam mengurangi beban penanganan sampah di Jakarta.

Ket. Foto: Program pengolahan sampah organik menggunakan maggot di Kelurahan Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat, mampu mengolah hampir 30 kilogram sampah setiap minggu. Keberhasilan warga RT 10/RW 09 tersebut mendapat apresiasi dari anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Elva Farhi Qolbina, yang menilai inisiatif berbasis masyarakat itu berpotensi membantu mengurangi persoalan sampah di Ibu Kota. — Sumber: DPRD DKI Jakarta

“Keberhasilan ini membuktikan bahwa masyarakat dapat mengatasi persoalan sampah di lingkungannya masing-masing,” ujar Elva beberapa waktu lalu.

Program tersebut dikelola oleh Ketua RT 10/RW 09, Yustian, dengan dukungan sejumlah fasilitas budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Sarana yang tersedia meliputi 20 biopon atau wadah budidaya maggot, satu mesin pencacah sampah organik, dua kandang lalat BSF, serta sejumlah silinder biopori.

Sampah organik yang dikumpulkan warga dimanfaatkan sebagai pakan dalam proses budidaya maggot. Larva yang dihasilkan kemudian digunakan sebagai pakan ikan di kolam buatan yang berada di sekitar lokasi pengolahan.

Elva menilai keberadaan kolam ikan menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan program tersebut. Fasilitas itu memungkinkan hasil budidaya maggot dimanfaatkan secara langsung sehingga tidak menumpuk dan dapat memberikan nilai guna tambahan bagi warga.

“Kolam ikan membantu memanfaatkan hasil budidaya maggot. Tanpa fasilitas pendukung, maggot bisa menumpuk dan warga kesulitan memanfaatkannya,” kata Elva.

Program pengolahan sampah berbasis maggot tersebut mulai dirintis pada Juni 2026 dengan melibatkan warga di lima wilayah Jakarta. Setelah berjalan selama empat bulan, kawasan Karet Tengsin menunjukkan hasil pengolahan yang dinilai paling optimal dibandingkan wilayah lain yang terlibat dalam program tersebut.

Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pengolahan sampah dari tingkat lingkungan dapat berjalan dengan dukungan partisipasi warga dan fasilitas yang sesuai. Meski demikian, peningkatan kapasitas pengolahan masih membutuhkan tambahan sarana agar jumlah sampah organik yang dapat diproses bisa ditingkatkan.

Saat meninjau lokasi, Elva menyebut Satuan Pelaksana Lingkungan Hidup Kecamatan Tanah Abang telah menyatakan kesiapan membantu pembangunan rak tambahan untuk mendukung peningkatan kapasitas budidaya maggot. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat fasilitas yang telah tersedia dan membantu kelancaran operasional program.

Selain rak tambahan, warga masih membutuhkan mesin pencacah sampah dengan kapasitas lebih besar. Peralatan tersebut diperlukan agar sampah organik dapat diproses dengan lebih mudah sebelum digunakan sebagai pakan maggot.

Kebutuhan lainnya adalah alat penyaring untuk memisahkan hasil pengolahan maggot dari larvanya. Peralatan ini dibutuhkan untuk mendukung proses pemisahan pupuk hasil pengolahan sehingga hasil budidaya dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

Elva berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup memberikan dukungan berkelanjutan terhadap program yang digerakkan masyarakat tersebut. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan peralatan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan efektivitas pengolahan sekaligus menjaga keberlangsungan program.

Penguatan pengelolaan sampah di tingkat permukiman juga dinilai semakin penting di tengah tantangan kapasitas penanganan sampah di Jakarta. Dengan mengolah sampah organik sejak dari sumbernya, volume sampah yang harus ditangani melalui sistem pengangkutan dan pengolahan lanjutan berpotensi dikurangi.

Karena itu, Elva menilai inisiatif warga perlu diiringi pendampingan dan dukungan konkret dari pemerintah daerah. Sinergi antara masyarakat dan instansi terkait diharapkan dapat membantu mengembangkan praktik pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan di berbagai wilayah Jakarta.

“Inisiatif warga seperti ini perlu dikawal,” pungkas Elva.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.