PDB Per Kapita Vietnam Salip Indonesia, Alarm bagi Daya Saing Industri

Senin, 02 Nov 2026, 03:15 WIB

JAKARTA - Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita Vietnam diproyeksikan melampaui Indonesia dalam pada 2026. Pergeseran tersebut menjadi sinyal meningkatnya daya saing ekonomi Vietnam sekaligus peringatan bagi Indonesia bahwa besarnya pasar domestik dan sumber daya alam belum menjamin peningkatan produktivitas serta pendapatan masyarakat.

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook Oktober 2026 memperkirakan PDB nominal per kapita Vietnam mencapai 5.259 dollar AS, sedikit di atas Indonesia sebesar 5.153 dollar AS, terdapat selisih 106 dollar AS atau sekitar 2,1 persen.

Ket. Foto: Tingkat Produktivitas - Pemerintah Perlu Evaluasi Arah Pembangunan Ekonomi Nasional — Sumber: antara

Meski relatif tipis, perubahan posisi tersebut mencerminkan perbedaan momentum pertumbuhan kedua negara. IMF memperkirakan ekonomi Vietnam tumbuh 8,4 persen pada 2026, sedangkan Indonesia sekitar 5,1 persen. Dengan perbedaan pertumbuhan tersebut, Vietnam diproyeksikan mempertahankan keunggulan pada 2027 dengan PDB per kapita 5.659 dollar AS, dibandingkan Indonesia sebesar 5.550 dollar AS.

Pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, menilai perkembangan tersebut harus menjadi peringatan bagi pemerintah untuk mengevaluasi arah pembangunan ekonomi nasional.

Menurut dia, Indonesia tidak seharusnya terus berlindung di balik status sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara ketika kemampuan meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat masih tertinggal dari negara tetangga.

“Besarnya ekonomi belum cukup kalau kemampuan meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat justru tertinggal dari negara tetangga,” kata Aditya.

Tantangan tersebut semakin penting di tengah tekanan pasar keuangan dan melemahnya kepercayaan investor. Persoalan tata kelola serta kepastian kebijakan perlu dibenahi agar tidak meningkatkan pembiayaan dan mempersempit ruang fiskal pemerintah.

Besarnya belanja negara tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan berkualitas apabila investasi tidak diarahkan pada penciptaan pekerjaan produktif, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan penguatan industri domestik.

“Vietnam harus menjadi pengingat bahwa negara lain terus bergerak. Kita tidak bisa puas hanya karena ekonomi masih tumbuh. Pertanyaannya, pertumbuhan itu membawa masyarakat ke pekerjaan yang lebih produktif dan upah yang lebih baik atau tidak?” katanya.

Kesenjangan Struktur Industri

Peluang Vietnam melampaui Indonesia tidak terlepas dari transformasi sektor manufakturnya. Negara tersebut semakin berkembang sebagai alternatif pusat produksi global di luar Tiongkok, terutama untuk industri elektronik, semikonduktor, dan teknologi tinggi.

Laporan S&P Global Market Intelligence bertajuk Commodities at the Core: Outlook for Indonesia as a Reshoring Center, yang dipublikasikan 25 Agustus 2026, memperlihatkan tantangan struktural Indonesia.

Ekspor nasional masih didominasi komoditas. Sektor pangan, energi, dan bijih logam menyumbang 54,1 persen dari total ekspor, sedangkan produk otomotif dan mesin hanya 11,6 persen. Padahal, Indonesia memiliki keunggulan biaya tenaga kerja. Kompensasi rata-rata pekerja manufaktur pada 2026 sekitar 1,4 dollar AS per jam, atau 39,7 persen lebih rendah dibandingkan Vietnam.

Namun, keunggulan tersebut belum cukup menarik relokasi industri global. Ketidakstabilan kebijakan, risiko pemogokan buruh, serta keterbatasan tenaga kerja terampil masih menjadi hambatan. Sekitar 36 persen angkatan kerja Indonesia pada 2024 juga tercatat hanya menyelesaikan pendidikan dasar.

S&P Global memperkirakan pertumbuhan ekspor Indonesia setelah disesuaikan dengan inflasi melambat menjadi 2,5 persen pada 2026, dari 9,6 persen pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, Vietnam terus memperluas keterlibatannya dalam rantai pasok global. Salah satu indikatornya adalah rencana investasi Samsung Electronics senilai 39 triliun dong Vietnam atau sekitar 1,5 miliar dollar AS untuk membangun fasilitas pengujian semikonduktor di Provinsi Thai Nguyen.

Fasilitas yang ditargetkan beroperasi pada November 2027 tersebut akan menguji cip memori DRAM dan NAND. Investasi itu memperkuat posisi Vietnam yang selama ini menjadi basis produksi elektronik Samsung, dengan total investasi perusahaan tersebut di negara itu telah melampaui 23 miliar dollar AS.

Jaringan Perdagangan

Peneliti Ekonomi CORE Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, menilai pergeseran peringkat PDB per kapita tidak semata-mata menunjukkan perbedaan ukuran ekonomi, tetapi juga menggambarkan momentum pertumbuhan yang lebih kuat di Vietnam.

Vietnam berhasil memperdalam keterlibatan dalam rantai pasok global melalui manufaktur berorientasi ekspor dan jaringan perjanjian perdagangan yang luas. Sebaliknya, Indonesia masih mengandalkan hilirisasi komoditas yang padat modal, sementara keterkaitannya dengan industri domestik belum optimal.

Kemampuan Vietnam menguasai teknologi tinggi perlu dilihat secara proporsional. Sebagian besar aktivitas semikonduktornya masih berada pada tahap perakitan, pengujian, dan pengemasan. Penguasaan teknologi serta nilai tambah tertinggi masih banyak berada di tangan perusahaan asing.

Perubahan posisi PDB per kapita dalam dollar AS tambahnya juga turut dipengaruhi nilai tukar. Proyeksi pertumbuhan PDB per kapita nominal Indonesia hanya sekitar 1,5 persen, meskipun ekonomi tumbuh sekitar 5 persen dan inflasi berada di kisaran 3 persen. Pelemahan rupiah menahan peningkatan pendapatan ketika dikonversi ke dollar AS.

Namun, pergeseran tersebut bukan semata persoalan kurs. Secara paritas daya beli, Vietnam juga telah lebih dahulu unggul dengan PDB per kapita sekitar 19.974 dollar AS, dibandingkan Indonesia sebesar 19.091 dollar AS. Pada 2020, Indonesia masih berada di posisi lebih tinggi.

Meski demikian, Indonesia tetap memiliki skala ekonomi terbesar di ASEAN, dengan PDB sekitar 1,48 triliun dollar AS, hampir tiga kali lipat Vietnam yang mencapai 542 miliar dollar AS.

Perbedaan tersebut menunjukkan tantangan utama Indonesia bukan sekadar mempertahankan besarnya ekonomi, melainkan memastikan pertumbuhan menghasilkan produktivitas, keterampilan, pekerjaan berkualitas, dan nilai tambah industri yang lebih tinggi.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.