100 Peserta Ikut Pelatihan Barista SMK Go Global, Ada Peluang ke Dunia Internasional?

Rabu, 30 Sep 2026, 05:26 WIB

JAKARTA - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menyatakan bahwa sebanyak 100 peserta mengikuti pelatihan barista yang diadakan Balai Latihan Kerja (BLK) selama 16 hari, sebagai bagian dari program SMK Go Global.

"Melalui program SMK Go Global ini, lulusan SMK bisa mendapatkan pelatihan skill, kemudian mendapatkan sertifikat yang itu bisa menunjang kemampuan dan nilai jualnya ketika nanti berada di tempat kerja," kata instruktur Barista BLK Kabupaten Garut, Aline Novita Dewi, dalam keterangan KP2MI, Jakarta, Selasa.

Ket. Foto: Salah satu peserta tengah mengikuti pelatihan barista yang diadakan Balai Latihan Kerja (BLK) selama 16 hari, sebagai bagian dari program SMK Go Global. — Sumber: Antara foto/HO KP2MI

Aline menilai pelatihan dalam program SMK Go Global tidak hanya meningkatkan kemampuan peserta untuk menghasilkan secangkir kopi yang enak.

Lebih dari itu, peserta, katanya, dipersiapkan agar memiliki sikap dan kebiasaan kerja yang dibutuhkan ketika memasuki dunia industri. Peserta juga perlu dibekali kedisiplinan, etika, kemampuan berkomunikasi, dan sikap kerja agar mampu beradaptasi ketika berada di lingkungan kerja yang baru.

Selama 160 jam pelajaran, peserta mempelajari berbagai kompetensi, mulai dari mengelola bahan dan peralatan, mengelola area kerja, menggunakan alat manual brew dan mesin espresso, menangani pelanggan, hingga menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja, kata Aline lebih lanjut.

Komposisi pembelajaran juga tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis. Sekitar 70 persen pelatihan diarahkan pada hard skill, sementara 30 persen lainnya merupakan soft skill yang mendukung kesiapan peserta di lingkungan kerja.

Kemudian, pada dua hari terakhir, peserta mengikuti simulasi open kedai. Mereka bergantian menjalankan peran sebagai barista, kasir, pelayan, maupun pelanggan. Simulasi tersebut memberikan pengalaman menghadapi situasi yang lebih mendekati kondisi kerja sebenarnya.

"Selain itu, kedisiplinan juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter peserta. Seluruh peserta jam tujuh pagi harus sudah sampai di sini. Jadi kita ada kegiatan rutin apel pagi jam setengah delapan, itu semuanya wajib hadir," kata Aline.

"Kalau tidak hadir, ada konsekuensinya. Jadi itu adalah untuk membentuk etos kerja dan kedisiplinan peserta. Kalau kita permudah, 'kan kita tidak tahu ya nanti di tempat kerjanya seperti apa," tambah Aline.

Saat disinggung mengenai perbedaan lulusan SMK dengan yang lain, Aline mengatakan bahwa lulusan SMK lebih unggul karena sudah dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja. Hal itu bisa terlihat dari kemampuan dasar pesertanya.

"Memang yang dari lulusan-lulusan SMK ini lebih sigap kalau bisa dikatakan. Jadi ketika praktik dan menerima materi, mereka sudah lebih paham bagaimana harus bersikap. Mereka saat belajar di SMK sudah diajarkan untuk siap bekerja, jadi ketika mendapat pelatihan di sini, mereka memang sudah siap," katanya.

"Kalau saya sebagai instruktur itu melihatnya memang berbeda dari etos kerjanya, dari mulai kedisiplinannya dan kemandiriannya. Intinya memang kalau dari lulusan SMK itu memang sudah siap untuk bekerja," kata Aline lebih lanjut.

Aline mengakui kelebihan program SMK Go Global memberikan kesempatan kepada para peserta, baik itu lulusan SMK maupun SMA, untuk mendapatkan kesempatan kerja. Apalagi saat ini mendapatkan pekerjaan tidak mudah, terlebih bagi yang belum memiliki pengalaman kerja.

Bagi peserta yang belum memiliki pengalaman, lanjut Aline, proses belajar membutuhkan latihan berulang. BLK Garut menerapkan praktik dan evaluasi melalui battle barista untuk melihat kemampuan peserta sekaligus mengetahui bagian yang masih perlu ditingkatkan.

Peserta yang membutuhkan latihan tambahan diberikan kesempatan untuk berlatih di luar jam pelatihan. Sejumlah peserta bahkan memilih tetap berlatih hingga malam karena merasa masih perlu meningkatkan kemampuan.

"Ada yang sampai jam delapan malam, ada juga yang sampai jam 11 malam. Karena mereka merasa, 'oh saya tertinggal'. Jadi ketika battle itu, mereka jadi bisa mengukur kemampuannya, jadi tahu mana yang harus diperbaiki dan ditingkatkan," lanjutnya.

Menurut Aline, semangat tersebut menjadi salah satu hal yang berkesan selama mendampingi peserta SMK Go Global.

Saat ditanya tentang kurikulum pelatihan, Aline menyampaikan bahwa BLK Garut mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Kementerian Ketenagakerjaan. Namun, karena peserta dipersiapkan untuk bekerja di luar negeri, pembelajaran diperkuat dengan praktik dan simulasi agar mereka memiliki gambaran mengenai kondisi kerja yang akan mereka hadapi.

Sementara itu, salah satu peserta lulusan SMK Negeri 1 Garut yang sebelumnya belum memiliki pengalaman di bidang kopi, Tiara, mengatakan informasi tentang program SMK Go Global ia dapatkan melalui media sosial. Ia kemudian mengikuti pelatihan karena memiliki keinginan untuk bekerja di luar negeri.

"Dengan bekerja ke luar negeri, saya ingin memperoleh pengalaman baru, mengenal budaya lain, sekaligus mempelajari cara bekerja di lingkungan internasional," kata Tiara saat ditemui, Kamis (17/9).

Selama pelatihan, Tiara mempelajari berbagai jenis kopi, teknik penyeduhan, resep minuman, hingga manual brew. Ia menyadari bahwa kesiapan bekerja di luar negeri membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis.

Kemampuan bahasa, pemahaman budaya, kedisiplinan, dan kemampuan beradaptasi juga menjadi bagian penting yang harus terus dipersiapkan. Itu semua akan membuatnya lebih percaya diri dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Selain itu, peserta asal Garut bernama Muhammad Zaki mengemukakan bahwa sebelum mengikuti program SMK Go Global, dirinya belum memiliki pengalaman sebagai barista.

"Saya mendapatkan informasi program ini melalui sosial media dari BP3MI Jawa Barat. Saya jadi tertarik karena saya mempunyai keinginan yang tinggi untuk menjadi seorang barista yang profesional, tentunya di luar negeri atau di kancah internasional," jelas Zaki.

Selama pelatihan, Zaki belajar mengenal berbagai jenis kopi, teknik penyeduhan, hingga cara membuat beragam minuman berbahan dasar kopi.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.