Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rantai Nilai EV-Biofuel Digenjot, Hilirisasi Rendah Karbon Dipacu

📅 Selasa, 29 Sep 2026, 18:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Rantai Nilai EV-Biofuel Digenjot, Hilirisasi Rendah Karbon Dipacu Doc: ANTARA/ Alif Bintang
Ket. Arsip - Pelanggan mengisi daya mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) PLN di Jakarta.

JAKARTA – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mendorong pendalaman rantai nilai mulai dari kendaraan listrik (EV), baterai, panel surya, hingga biofuel, sebagai bagian dari strategi hilirisasi yang rendah karbon.

Sekretaris Kementerian Investasi dan Hilirisasi/ Sekretaris Utama BKPM M Rudy Salahuddin menyampaikan pengembangan industri tersebut menjadi bagian dari pemetaan 28 komoditas strategis di delapan sektor utama dengan potensi investasi sekitar 618,1 miliar dolar AS hingga 2040, serta diproyeksikan membuka hingga 3 juta lapangan kerja baru.

"Rantai nilai yang perlu diperdalam mencakup komponen panel surya, biofuel, molekul bersih seperti sustainable aviation fuel dan hidrogen, hingga kendaraan listrik dan baterai, serta battery energy storage system atau BESS," kata dia di Jakarta, Selasa (29/9).

Rudy menilai peluang tersebut semakin terbuka seiring meningkatnya perdagangan global kendaraan listrik dan baterai. Berdasarkan data UN Comtrade Environmental Goods List, perdagangan kendaraan listrik dan baterai meningkat dari sekitar 90 miliar dolar AS pada 2019 menjadi hampir 450 miliar dolar AS pada 2025.

Pada periode yang sama, perdagangan teknologi energi terbarukan juga meningkat dari sekitar 210 miliar dolar AS menjadi lebih dari 350 miliar dolar AS.

Rudy menuturkan Indonesia memiliki basis yang kuat untuk masuk lebih dalam ke pasar industri rendah karbon tersebut, salah satunya melalui potensi energi terbarukan nasional yang mencapai sekitar 3.687 gigawatt (GW).

Potensi tenaga surya menjadi yang terbesar, yakni sekitar 3.294 GW. Namun, kapasitas energi baru terbarukan (EBT) yang telah dimanfaatkan saat ini baru sekitar 16,33 GW atau kurang dari 0,5 persen dari total potensi nasional.

Selain potensi sumber energi, pengembangan industri rendah karbon juga didukung kebutuhan penambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi.

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, Indonesia membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan sebesar 69,5 GW.

Dari kebutuhan tersebut, sebanyak 42,6 GW atau 61 persen berasal dari EBT, 10,3 GW dari penyimpanan energi, dan 16,6 GW dari pembangkit fosil.

Implementasi RUPTL tersebut diproyeksikan membuka peluang investasi sekitar Rp2.133,7 triliun, termasuk sekitar Rp1.341,8 triliun untuk pengembangan EBT melalui skema independent power producer (IPP).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Megapolitan
Aparat Perketat Gerakan Pel...
Luar Negeri
Menlu RI Ungkap Reformasi P...

Jangan Pernah Tinggalkan Anak Sendirian

41 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Jangan Pernah Tinggalkan An...

Cara Unik Banten Mengembangkan Sikap Nasionalisme

52 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Cara Unik Banten Mengembang...
Nasional
Puluhan Jam di Meja Operasi...
Advertisement
Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

Usai Prancis Membara, Kini Meksiko Rusuh Gara-gara Krisis Air

19 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.