Kenapa ASN Bekasi Diminta Belanja di Pasar Tradisional? Ini Penjelasannya

Selasa, 29 Sep 2026, 01:52 WIB

KOTA BEKASI - Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat diminta belanja berbagai kebutuhan di pasar tradisional sebagai langkah strategis penguatan ekonomi lokal sekaligus pengembangan ekosistem pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UKMM).

Instruksi tersebut disampaikan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono dalam rangka implementasi Program Gebrak Pasar atau gerakan belanja ke pasar yang mulai efektif diberlakukan pada Jumat pekan depan, serta secara berkelanjutan setiap momentum program.

Ket. Foto: Ilustrasi. Berbagai komoditas pangan dijual di Pasar Minggu, Jakarta. — Sumber: Antara foto

"Program ini mendorong penguatan ekonomi lokal dengan mengajak aparatur dan masyarakat untuk kembali berbelanja di pasar-pasar tradisional," katanya di Bekasi, Senin.

Dia mengatakan Program Gebrak Pasar menjadi salah satu upaya pemerintah daerah menggerakkan kembali aktivitas ekonomi para pedagang pasar tradisional sekaligus memperkuat ekosistem pelaku UMKM di Kota Bekasi.

Tri menilai kondisi pasar tradisional di Kota Bekasi saat ini semakin baik, baik dari aspek kebersihan, keamanan maupun penataan.

Selain itu, harga sejumlah kebutuhan di pasar juga dinilai kompetitif sehingga masyarakat memiliki pilihan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membantu menggerakkan perekonomian pedagang.

Ia menjelaskan pelaksanaan Program Gebrak Pasar akan diselaraskan dengan momentum tanggal muda atau ketika masyarakat dan aparatur umumnya mulai memenuhi kebutuhan belanja bulanan.

Dirinya berharap melalui program ini, sebagian besar kebutuhan belanja pegawai dapat dialihkan dari pusat perbelanjaan ke pasar rakyat sehingga perputaran uang dapat dirasakan secara langsung oleh pedagang maupun pelaku UMKM.

"Kita inisiasi minimal setiap awal bulan di tanggal muda dengan harapan belanja bulanan pegawai beralih ke pasar. Jika rata-rata belanja Rp100.000 dan dihadiri sekitar 1.500 orang, setidaknya ada Rp150 juta perputaran uang yang beredar di pasar tradisional pada hari itu," ujarnya.

Menurutnya, gerakan tersebut bukan semata-mata sebagai aktivitas berbelanja tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan masyarakat untuk menjadikan pasar tradisional sebagai salah satu pilihan utama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Dengan semakin banyaknya masyarakat yang berbelanja di pasar, diharapkan aktivitas perdagangan meningkat dan memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan pedagang serta pelaku UMKM," kata dia.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.