RW 06 Srengseng Sawah Jadi Percontohan Kolaborasi Pilah Angkut Sampah
📅 Senin, 28 Sep 2026, 16:19 WIB | Oleh: SujarJAKARTA -- Pemerintah Provinsi DKI memilih RW 06 Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, menjadi proyek percontohan (pilot project) kolaborasi pilah angkut sampah yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan perguruan tinggi.
“Pengelolaan sampah tidak mungkin hanya dikerjakan pemerintah sendiri dan tidak harus seluruhnya bertumpu pada APBD. Pemerintah menyiapkan arah kebijakan dan sistem, masyarakat berperan dari sumber, sementara dunia usaha, komunitas, dan perguruan tinggi dapat memberikan dukungan sesuai kapasitas masing-masing,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi di Jakarta, Senin.
Dia menilai pendekatan tersebut mendorong pengelolaan sampah tidak hanya bertumpu pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), tetapi juga diperkuat melalui partisipasi dan kontribusi berbagai pemangku kepentingan.
Pengelolaan sampah dari sumber di wilayah ini telah berjalan sejak Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber dicanangkan. Melalui pilot project itu, praktik yang sudah berjalan diperkuat menjadi sistem pilah-angkut-olah yang lebih terintegrasi.
Penguatan tersebut dilakukan melalui Kolaborasi Sosial Berskala Besar (KSBB) Lingkungan Hidup Klaster Persampahan, dengan dukungan mitra berupa sarana, edukasi, pendampingan, dan penguatan sistem pengelolaan. Sebanyak lebih dari 400 rumah menjadi sasaran pendampingan secara door-to-door.
"Kolaborasi menjadi salah satu kunci mempercepat transformasi pengelolaan sampah dari pola kumpul-angkut-buang menuju pengelolaan yang dimulai dari sumber," ujar Dudi.
Menurut dia, dukungan mitra, termasuk melalui program tanggung jawab perusahaan (CSR), dapat menjadi pengungkit untuk memperluas praktik baik yang telah tumbuh di masyarakat.
“Di Srengseng Sawah, kita tidak memulai dari nol. Warganya sudah bergerak sejak kebijakan pemilahan dari sumber dijalankan. Sekarang, praktik itu kita perkuat dan kita dorong menjadi model yang lebih konsisten serta dapat dipelajari wilayah lain,” tutur Dudi.
Sementara itu, Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Purwanti Suryandari mengatakan penguatan di RW 06 diarahkan agar pemilahan yang dilakukan warga tersambung dengan sistem pengumpulan, pengangkutan, dan pengolahan.
“Yang kita perkuat adalah seluruh rantainya. Warga memilah dari rumah, sampah dikumpulkan secara terpisah, diangkut secara terpilah, kemudian diarahkan ke fasilitas pengolahan sesuai jenisnya. Jadi, yang dibangun bukan hanya perilaku memilah, tetapi sistemnya,” ungkap Purwanti.
Pendampingan itu dilakukan di RT 02, RT 03, RT 06, dan RT 11. Warga mendapatkan edukasi sekaligus sarana untuk memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.
Sampah organik, terutama sisa makanan, kemudian dikumpulkan dan diangkut secara terpisah menuju fasilitas pengolahan agar tidak kembali tercampur.
Sistem tersebut juga dikembangkan melalui pendekatan co-design, dengan melibatkan warga, pemerintah, mitra swasta, komunitas, dan perguruan tinggi dalam merancang pola pengelolaan yang sesuai kondisi setempat.
Dengan demikian, dukungan mitra tidak sekadar berupa bantuan sarana, tetapi juga menjadi bagian dari sistem yang dibutuhkan masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!