Pemerintah Kabupaten Bekasi Minta Pemuda Tidak Ragu Terjun ke Sektor Pertanian

Senin, 28 Sep 2026, 11:43 WIB

KABUPATEN BEKASI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi, Jawa Barat, mengajak generasi muda untuk tidak ragu terjun ke sektor pertanian sebagai peluang usaha menjanjikan di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan perusahaan meski wilayahnya dikenal kawasan industri terbesar se-Asia Tenggara.

Pelaksana Tugas Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, mendorong anak muda di Kabupaten Bekasi untuk menjadi petani modern, mengingat sektor pertanian memiliki peluang jangka panjang serta tidak mengenal batas usia seperti pekerjaan di perusahaan.

Ket. Foto: Pelaksana Tugas Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja (kedua dari kanan) saat meninjau progres normalisasi Saluran Sekunder Bendungan Kedung Gede 15 di Kecamatan Pebayuran pada Rabu (2/9/2026). — Sumber: ANTARA

"Kalau bekerja di perusahaan ada bangkrut, ada batas usianya. Tapi kalau kita jadi petani unggul, petani tangguh, itu tidak ada batasnya," katanya, di Cikarang, Minggu (27/9).

Dia menjelaskan pengelolaan sektor pertanian dewasa ini cenderung dilakukan melalui pendekatan teknologi maupun pola edukasi yang lebih modern. Salah satu aspek yang perlu diperkuat adalah edukasi awal kepada petani mengenai pengelolaan lahan sebelum musim tanam.

Ia mencontohkan pentingnya pemeriksaan tingkat keasaman atau pH tanah untuk mencegah risiko gagal panen. Petani muda yang melek teknologi diharapkan mampu mengaplikasikan teknologi secara lebih cepat dan tepat.

"Nanti kita kasih bekal petani-petani muda itu dengan alat pengukur pH tanah, sehingga kondisi lahan dapat diketahui sebelum ditanami. Dengan begitu, mereka dapat menentukan langkah pengolahan tanah sesuai kondisinya. Kalau pH-nya 5, jangan tanam, diolah lagi. Kalau pH-nya 7, tanam," ujarnya lagi.

Asep mengaku peluang anak muda di sektor pertanian tidak hanya berada pada aktivitas bercocok tanam. Generasi muda juga dapat masuk ke sektor pengolahan dan pemasaran hasil pertanian yang turut sejalan dengan upaya pemerintah daerah meningkatkan produktivitas pertanian.

Ia mencontohkan hasil panen padi yang dapat diolah menjadi beras dan dipasarkan kembali di wilayah desa. Model tersebut dinilai dapat membuka ruang bagi anak muda untuk mengembangkan usaha berbasis hasil pertanian.

"Bertani bukan harus bercocok tanam. Bisa saja hasil pertanian itu diolah menjadi beras, kemudian dijual untuk wilayah sekitar mereka atau di desa-desa," katanya pula.

Seperti yang telah dipraktikkan petani muda di Desa Waluya, Kecamatan Cikarang Utara. Mereka mengumpulkan hasil panen untuk diolah menjadi beras sebelum dipasarkan ke sejumlah pasar maupun toko-toko sekitar lingkungannya.

"Mereka kumpulkan hasil panen kemudian dikembangkan lagi setelah diolah menjadi beras melalui teknik pemasaran hingga distribusi dan itu generasi muda yang terjun," katanya lagi.

Asep melanjutkan pengembangan sektor pertanian dari sekadar menanam padi dan menjualnya menjadi hingga pengembangan pasar, juga dapat dikaitkan dengan upaya pemenuhan kebutuhan pangan, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Pasarnya sudah ada, mau ke MBG, Koperasi Merah Putih maupun jejaring organisasi kepemudaan yang bergerak di sektor pangan. Kita sangat concern pada upaya penguatan sektor pertanian dan itu membutuhkan anak-anak muda kreatif yang melek teknologi," kata dia.

Redaktur: Bambang Wijanarko

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.