Lima Dokumen Strategis Diluncurkan untuk Perkuat Pengelolaan Ekosistem Darat dan Laut
📅 Senin, 28 Sep 2026, 17:41 WIB | Oleh: Haryo Brono3.Kajian Pengembangan Bioprospeksi di Indonesia: Membahas pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi hijau dan biru berbasis riset, tanpa mengorbankan kelestarian hutan dan laut serta tetap memperhatikan pembagian keuntungan yang adil bagi masyarakat pemilik pengetahuan tradisional.
4.Strategi Nasional untuk Pendanaan Inovatif: Mengembangkan kerangka pembiayaan yang memadukan dana publik dan swasta melalui skema blended finance serta instrumen pendanaan alternatif lainnya.
5.Masterplan Regional Padagimo (Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong): Berfungsi sebagai model percontohan tata kelola ruang terpadu di Sulawesi Tengah yang menyelaraskan pembangunan lintas sektor dari wilayah hulu sungai, daratan, wilayah pesisir, hingga lautan.
Diversifikasi Sumber Pendanaan di Luar APBN dan APBD
Program Solusi juga secara aktif mendorong pencarian sumber pembiayaan alternatif di luar APBN dan APBD guna memastikan keberlangsungan program pengelolaan darat dan laut dalam jangka panjang.
Project Manager Proyek Solusi GIZ Indonesia & ASEAN sekaligus perwakilan Konsorsium Solusi, Yuliana Cahya Wulan, menekankan bahwa tantangan pengelolaan bentang alam tidak pernah mengenal batas administratif maupun sekat sektoral.
“Pendekatan terintegrasi antara bentang darat dan laut membantu para pemangku kepentingan melihat hubungan antara ekosistem, masyarakat, dan kegiatan ekonomi sebagai satu kesatuan,” kata Yuliana.
Berdasarkan pengalaman di tiga provinsi percontohan, pelibatan aktif seluruh pemangku kepentingan sejak tahap perencanaan awal, pelaksanaan, hingga perumusan strategi pasca-proyek menjadi kunci utama keberhasilan.
Dalam forum Solusi Day, peluang pendanaan non-APBN dan non-APBD tersebut dibahas secara mendalam bersama jajaran pemerintah daerah, sektor swasta, lembaga keuangan, serta komunitas masyarakat. Yuliana menambahkan, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadikan perlindungan keanekaragaman hayati sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan yang bernilai tambah.
Komitmen Keberlanjutan Pasca-2028
Konsorsium Solusi menargetkan agar seluruh capaian dan sistem yang dibangun dalam program ini dapat terus berjalan secara mandiri setelah proyek resmi berakhir pada 2028.
Green Growth Planning and Policy Specialist Landscape Alliance, Feri Johana, menegaskan bahwa proyek percontohan di tiga provinsi dirancang agar perencanaannya tidak berhenti sebatas dokumen kebijakan di atas kertas.
“Melainkan menjadi panduan pembangunan yang mampu memberikan dampak nyata dan menyentuh masyarakat langsung di tingkat tapak,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Country Director SNV Indonesia, Putra Agung, menjelaskan bahwa lembaganya memfokuskan pendampingan pada pengembangan komoditas ramah lingkungan melalui kemitraan strategis bersama masyarakat lokal. Pendekatan ini diarahkan untuk menjamin kemandirian ekonomi masyarakat, antara lain melalui penerapan skema pembiayaan inovatif.
“Sehingga setelah Proyek Solusi berakhir pada 2028, pengelolaan yang berkelanjutan ini tetap dapat dilanjutkan untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim, baik di darat maupun laut,” ungkap Putra.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!