Alami Kekeringan Sumur, 21 KK di Kota Madiun Dapat Bantuan Air Bersih dari BPBD

Senin, 28 Sep 2026, 18:52 WIB

MADIUN, JAWA TIMUR - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Madiun, Jawa Timur mendistribusikan air bersih untuk 21 kepala keluarga di dua kelurahan guna membantu warga yang mengalami kesulitan air karena sumur yang mengering.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Madiun Deddy Purnomo Santoso di Madiun, Senin (28/9) mengatakan penyaluran air bersih dilakukan di dua lokasi, yakni di Kelurahan Kelun dan Tawangrejo. Rinciannya, 14 KK berada di wilayah Kelurahan Kelun dan tujuh KK di Kelurahan Tawangrejo, Kecamatan Kartoharjo.

Ket. Foto: Petugas BPBD Kota Madiun medistribusikan air bersih untuk warga Kelurahan Kelun yang kesulitan air karena sumur mereka mengering, Senin (28/9). — Sumber: ANTARA/Louis Rika

"Sebelumnya ada permintaan dari warga melalui kelurahan yang disampaikan ke kami. Untuk itu kami tindak lanjuti dengan dropping air bersih," ujarnya.

Menurut dia, dua kelurahan tersebut mengalami kesulitan air bersih karena sumber air warga, yakni dari sumur sudah menyusut. Kondisi tersebut karena lingkungan Kelurahan Kelun dan Tawangrejo banyak petani yang juga mengambil air tanah melalui sibel untuk keperluan pengairan sawah.

"Jadi sumur-sumur warga kalah dengan sibel, sehingga akhirnya mengering pada puncak musim kemarau ini," kata Deddy.

Ia menjelaskan permintaan bantuan air bersih dari warga mulai masuk sekitar dua pekan sebelumnya. BPBD kemudian menempatkan sejumlah tandon air di titik-titik yang membutuhkan di wilayah Kelun dan Tawangrejo tersebut.

Untuk wilayah Kelun, BPBD menyiapkan tiga tandon masing-masing berkapasitas 1.200 liter yang ditempatkan di dua titik. Sementara di Kelurahan Tawangrejo terdapat dua tandon di satu titik untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.

BPBD mengisi tandon air itu setiap dua hari sekali secara bergantian dengan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Kota Madiun.

Deddy menjelaskan, kekeringan yang dialami warga terutama terjadi karena mereka masih mengandalkan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari. Pada saat bersamaan di musim kemarau, penggunaan air tanah untuk kebutuhan pertanian turut meningkat sehingga debit air tanah yang dimanfaatkan warga untuk rumah tangga menurun. Kondisi tersebut menjadi persoalan rutin setiap memasuki musim kemarau.

Pemerintah Kota Madiun sudah memfasilitasi warga yang masih mengandalkan sumur atau air tanah untuk memanfaatkan layanan PDAM dengan skema bantuan pemasangan gratis. Namun ada beberapa warga yang kesulitan melakukan pembayaran tagihan tiap bulan, sehingga menunggak dan dicabut.

Sementara Lurah Kelun Pardi menyatakan bahwa suplai air bersih sangat membantu warganya yang belum menggunakan layanan PDAM dan masih mengandalkan air bawah tanah.

"Terima kasih, permintaan warga yang kesulitan air bersih langsung direspon. Terlebih di wilayah ini juga untuk menunjang produksi industri rumah tangga tempe, sehingga aktivitas warga bisa normal kembali," kata Pardi.

BPBD Kota Madiun memprediksi potensi kebutuhan suplai air bersih di tandon tersebut masih berlangsung hingga memasuki musim hujan pada kisaran bulan Oktober dan November 2026. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.