Pulau Flores Diproyeksikan Menjadi Destinasi Utama Wisata Rohani Katolik. Ikuti Camino de Flores 23-27 Oktober

Rabu, 14 Okt 2026, 00:23 WIB

JAKARTA – Berbagai kegiatan rohani Katolik banyak dimiliki warga Flores. Maka, pantas bila Flores dipromosikan sebagai destinasi wisata rohani Katolik unggulan. Misalnya, dalam waktu dekat akan dilaksanakan kegiatan rohani berjalan kaki sambil berziarah bertajuk "Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores" pada tanggal 23-27 Oktober 2026.

"Selama ini kita tahu wisatawan lebih terkonsentrasi di Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo. Melalui kehadiran Camino de Flores, wisatawan akan mengunjungi destinasi di berbagai daratan Flores," kata Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Ket. Foto: Flores kaya kegiatan rohani — Sumber: ist

Dia mengatakan bahwa "Camino de Flores" berpotensi berkembang menjadi tujuan perjalanan wisata baru yang sangat menarik bagi wisatawan. "Camino de Flores" memadukan kegiatan wisata spiritualitas, budaya, dan sejarah dengan dukungan dari masyarakat lokal. 

Kegiatan wisata ini bisa menghadirkan pengalaman bermakna bagi wisatawan, mendorong wisatawan tinggal lebih lama untuk merasakan budaya lokal serta membeli produk-produk lokal. "Dengan cara ini, perputaran ekonomi tidak lagi terpusat pada satu wilayah, atau pelaku industri besar saja, melainkan langsung menyentuh perekonomian rakyat Flores," kata Widiyanti.

Inisiator "Camino de Flores," Mari Elka Pangestu menjelaskan bahwa pelaksanaan "Camino de Flores" utamanya ditujukan untuk mendorong pelaksanaan kegiatan pariwisata yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat serta memperkenalkan kekayaan budaya dan tradisi Flores. Kegiatan itu, menurut dia, juga ditujukan untuk menghadirkan pilihan pengalaman perjalanan yang reflektif, sehat, dan bermakna. Ini juga mengembangkan jalur wisata tematik yang menghubungkan destinasi, situs rohani, dan atraksi budaya.

Dalam "Camino de Flores: The Sacred Journey of Flores," sebanyak 70 peserta dari komunitas kreatif akan berjalan kaki sekitar 70 kilometer melewati berbagai lokasi di Pulau Flores. Di sela perjalanan, mereka akan mengunjungi gereja, kampung adat, dan situs budaya. Juga mencicipi kuliner local, berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat serta menikmati pemandangan alam Flores.

"Ini mulai dari Bajawa dan ujungnya selesainya di Ende, melintasi tiga kabupaten: Ngada, Nagekeo, dan Ende," kata Mari. Program yang dirancang dengan inspirasi dari konsep "Camino de Santiago" di Spanyol ini diharapkan dalam menampilkan Pulau Flores sebagai salah satu tujuan perjalanan bernilai spiritual dan budaya.

Mari menyampaikan bahwa penyelenggara program "Camino de Flores" juga akan menggalang sumbangan dana untuk membantu pembangunan kembali bagian wilayah Flores yang terdampak gempa bumi pada Agustus 2026. "Kami ingin menghubungkan pengembangan pariwisata, membantu masyarakat bangkit sekaligus membangun fondasi bagi pariwisata Flores yang lebih kuat, berkelanjutan dan berbasis masyarakat," katanya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.