Bukan Sekadar Perjuangkan Emansipasi, Srikandi Kartini Bekasi Ubah Limbah Plastik Jadi BBM
📅 Minggu, 27 Sep 2026, 19:06 WIB | Oleh: OpikKOTA BEKASI - Pagi itu, pukul 06.30 WIB, mentari baru terbit di ufuk timur ketika Hesti Warih MR dan tujuh perempuan tangguh lainnya bersiap di Bank Sampah Unit (BSU) Gempita, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Beberapa di antaranya membersihkan area bank sampah, sementara yang lain menyiapkan galon bekas, keranjang penampung, air, hingga gas elpiji tiga kilogram. Sebagian lagi sibuk menyiapkan mesin pirolisis, peralatan utama yang berfungsi sebagai alat destilasi pengolah limbah plastik.
Di sudut kompleks Puri Gading Cluster Villa Carita RT 05/RW 08, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, para Kartini Bekasi ini tidak lagi sekadar memperjuangkan emansipasi. Mereka telah berevolusi menjadi srikandi resik, penggerak swadaya, sekaligus arsitek ekologi.
Misi utama mereka adalah menggempur sampah dan limbah plastik bernilai rendah yang sulit didaur ulang secara konvensional, seperti kantong plastik, kemasan styrofoam, hingga bubble wrap. Tak berhenti di situ, mereka juga mengolah sampah organik.
Dua jam berlalu, matahari mulai meninggi saat pasokan sampah yang ditunggu tiba. Satu per satu pengayuh becak dan pengendara motor roda tiga berdatangan. Dengan handuk kecil di leher untuk menyeka peluh, mereka membawa sisa sampah yang telah dipilah oleh warga.
Aktivitas ini berfokus mengolah sampah sesuai jenisnya: sampah organik diubah menjadi kompos dan media budidaya maggot, sedangkan limbah plastik diolah seminggu sekali menjadi kerajinan tangan hingga Bahan Bakar Minyak (BBM) cair.
Semangat para ibu ini dipicu oleh persoalan klasik bangsa: pengelolaan sampah yang belum optimal. Menurut data peneliti pusat BRIN, Indonesia menghasilkan 38 juta ton sampah pada tahun 2024, dengan 19–20 persen di antaranya berupa sampah plastik.
Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat total timbulan sampah Indonesia mencapai 24,8 juta hingga 25,14 juta ton sepanjang tahun 2025.
Indonesia masih menghadapi tantangan besar: baru sekitar 34,55 persen sampah yang berhasil terkelola dengan baik. Sisanya, sekitar 65,45 persen, belum tertangani secara optimal sehingga menumpuk di TPA maupun mencemari lingkungan.
Aktivitas pengolahan di BSU Gempita Kota Bekasi, meski berkonsep skala kecil, menyelipkan pesan bagi generasi muda untuk terus berkarya dan berkontribusi positif bagi bangsa melalui upaya penekanan volume sampah secara berkelanjutan.
Hesti Warih MR mengaku, ide mengolah sampah menjadi BBM muncul saat mereka menyadari masih adanya sisa sampah plastik setelah proses pemilahan, berbeda dari konsep pengolahan sampah organik yang sebelumnya telah mereka terapkan.

Aktivitas olah sampah Bank Sampah Unit Gempita di Perumahan Puri Gading Cluster Villa Carita RT 05, RW 08, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu (27/9). Antara/Pradita Kurniawan Syah.
Berangkat dari kondisi tersebut, para ibu ini memutar otak agar bank sampah mereka tidak lagi menyisakan residu. Pencarian solusi itu akhirnya membuahkan hasil dengan ditemukannya alat pengolah sampah plastik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!