Menteri Ekraf Sebut Fesyen Indonesia Miliki Kekuatan Luar Biasa

Sabtu, 26 Sep 2026, 13:55 WIB

JAKARTA - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, menempatkan fesyen sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor tersebut dinilai strategis untuk memperkuat daya saing, memperluas pasar global, hingga membuka lapangan kerja.

Hal tersebut disampaikan Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, saat menghadiri Gaya Archive Chapter 4. Ia pun mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat, dalam pameran instalasi mode tersebut.

Ket. Foto: — Sumber: Kementerian Ekraf

“Memasuki gelaran keempatnya, kegiatan ini berhasil menjadi ruang untuk merekam perjalanan kreativitas para perancang mode Indonesia melalui karya, instalasi, dan pendekatan kuratorial. Fesyen Indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa, bukan hanya dari segi kualitas dan kreativitas, tetapi juga kekayaan budaya yang senantiasa menjadi sumber inspirasinya,” ujar Menteri Teuku Riefky di Senayan City, Jakarta, Kamis (24/9).

Berdasarkan data Kementerian Ekonomi Kreatif, industri fesyen berkontribusi besar terhadap ekspor ekonomi kreatif. Nilainya mencapai 5,85 miliar dollar AS, meningkat dibandingkan tahun lalu sebesar 5,58 miliar dollar AS.

Tahun ini, fesyen juga menyumbang 14,77% terhadap Produk Domestik Bruto ekonomi kreatif, dengan pertumbuhan sebesar 5,07%. Capaian itu menunjukkan potensi produk fesyen nasional, dapat terus berkembang di pasar internasional.

“Di balik setiap karya fesyen terdapat talenta, keterampilan, inovasi, serta cerita tentang identitas Indonesia. Karena itu, fesyen memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas,” ujar Teuku Riefky.

Kementerian Ekraf juga membuka ruang kolaborasi dengan desainer senior melalui Gaya Archive Chapter 4. Kolaborasi tersebut melibatkan Indonesian Fashion Designer Council atau IFDC/IPMI sebagai penyelenggara.

Pameran berlangsung pada 18 hingga 27 September 2026 dengan menghadirkan arsip karya 23 desainer IFDC. Karya tersebut diterjemahkan menjadi instalasi empat musim, yakni Spring, Summer, Autumn, dan Winter.

Konsep tersebut memadukan sejarah, identitas, kearifan lokal, dan eksplorasi mode Indonesia. Kolaborasi Pagelaran Sabang Merauke dan IFDC juga menghadirkan instalasi karya 12 desainer melalui Hikayat Nusantara.

“Melalui Gaya Archive dan Kanvas Budaya, kami ingin membuka ruang bagi masyarakat luas untuk mengenal lebih dekat perjalanan mode dan kekayaan budaya Indonesia. Gaya Archive menghadirkan jejak dan karya masa lalu sebagai arsip penting, sementara Kanvas Budaya menampilkan warisan Nusantara dalam interpretasi kontemporer,” ujar Ketua Dewan Pengurus IFDC, Sjamsidar Isa.

Kolaborasi tersebut menunjukkan keterkaitan antara kekayaan budaya dan kreativitas, dalam pengembangan fesyen kontemporer. Sementara, Kanvas Budaya menghadirkan warisan Nusantara melalui interpretasi mode yang lebih kekinian.

Menteri Ekraf turut meninjau instalasi Pagelaran Sabang Merauke, dan penggalangan amal bagi korban gempa NTT. Kunjungan ditutup dengan menyaksikan peragaan busana Kanvas Budaya “SATU NAPAS”, perpaduan Batik Kudus dan denim karya 23 desainer.

“Melalui pameran di jantung ibu kota ini, kita tidak hanya menggerakkan ekonomi kreatif dan memberdayakan UMKM, tetapi juga membangun ekosistem fesyen baru yang mengedukasi masyarakat. Harapannya, karya-karya lokal ini mampu meningkatkan apresiasi publik sekaligus merangsang kecintaan terhadap tren fesyen Indonesia yang berkelas,” ujar Head of Business Development IFDC, Ivan Gunawan. ils/I-1

  • Kemenekraf
  • industri fesyen lokal

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.