Kebijakan Hentikan Impor Singkong akan Dongkrak Harga Naik dan Bioetanol Jadi Pasar Baru
📅 Kamis, 24 Sep 2026, 03:46 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoJAKARTA - Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) menyatakan kebijakan pemerintah menghentikan impor singkong mendongkrak harga di tingkat petani sekaligus membuka peluang pasar baru melalui pengembangan industri bioetanol.
Ketua Umum MSI Arifin Lambaga mengatakan kebijakan tersebut mulai memperkuat pasar singkong domestik, dengan harga di sejumlah sentra produksi kini mencapai sekitar Rp2.400 per kilogram sekaligus membuka pasar baru bagi petani melalui industri bioetanol.
"Alhamdulillah, terutama di Lampung sebagai salah satu sentra produksi singkong, harganya sudah bagus, sekitar Rp2.400 per kilogram. Kami berterima kasih kepada Pak Menteri dan Pak Presiden atas dukungan dan beberapa kebijakan, misalnya stop impor singkong," kata Arifin setelah audiensi dengan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Rabu.
Karena itu, Arifin mengapresiasi kebijakan Mentan Amran dalam menghentikan impor singkong dan mendorong pengembangan bioetanol.
Kebijakan tersebut dinilai memberikan dampak positif bagi petani singkong. Menurutnya, berkurangnya pasokan impor membuat ruang pasar domestik semakin terbuka bagi produksi petani dalam negeri.
Arifin mengatakan penguatan pasar domestik perlu diikuti peningkatan produksi secara bertahap. Hal itu penting mengingat kebutuhan singkong berpotensi meningkat seiring dengan pengembangan industri bioetanol nasional.
Menurut Arifin, dorongan Mentan terhadap pengembangan bioetanol dapat menciptakan pasar baru dengan skala besar bagi komoditas singkong. Kebutuhan bahan baku yang meningkat akan memberikan peluang bagi petani untuk memperluas produksi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi singkong.
"Ini kebutuhan yang besar. Ini pasar yang sangat besar bagi kita," ujarnya.
Arifin menyebut kebutuhan bioetanol untuk mendukung program pencampuran bahan bakar berpotensi mencapai skala besar. Untuk mendukung E20 saja, menurutnya dibutuhkan sekitar 2,2 juta kiloliter bioetanol.
Karena itu, Arifin menyatakan kesiapan mendukung program pemerintah menuju E20. Asosiasi juga telah berkoordinasi dengan pelaku singkong di berbagai daerah untuk mempersiapkan pasokan bahan baku.
"Kami siap 100 persen mendukung program E50. Yang penting bahannya," tegas Arifin.
Untuk mendukung kebutuhan bahan baku tersebut, MSI menyatakan siap berpartisipasi dalam pengembangan sekitar 500 ribu hektare lahan singkong.
Namun, Arifin mengatakan pengembangan dalam skala besar membutuhkan penguatan sektor hulu, terutama penyediaan benih unggul, pupuk, alat dan mesin pertanian, serta skema pembiayaan.
Kebutuhan benih menjadi salah satu perhatian utama. Arifin menjelaskan satu hektare lahan membutuhkan sekitar 8.000 hingga 10.000 stek. Karena itu, pengembangan ratusan ribu hektare membutuhkan penyediaan benih dalam jumlah sangat besar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!