Deretan Pelatih Baru Siap Unjuk Gigi di UEFA Nations League 2026-27

Rabu, 23 Sep 2026, 06:00 WIB

PARIS- UEFA Nations League (UNL) 2026-27 memasuki babak baru dengan wajah-wajah baru menukangi sejumlah tim papan atas Eropa. Pertandingan atau matchday 1 bukan sekadar pembuka kompetisi, tetapi juga menjadi panggung pertama bagi para pelatih yang datang dengan reputasi, pengalaman, dan ambisi berbeda. Zinedine Zidane, Juergen Klopp, Xavi Hernandez, Roberto Mancini hingga Jorge Jesus menjadi nama besar yang akan langsung menghadapi tekanan untuk membangun fondasi baru bagi tim nasional masing-masing.

Perubahan paling menarik terjadi di Jerman. Juergen Klopp, yang ditunjuk pada bulan Juli 2026, memasuki wilayah yang belum pernah disentuhnya sepanjang lebih dari dua dekade karier sebagai pelatih klub. Setelah meninggalkan Liverpool pada tahun 2024, Klopp kini menghadapi tantangan berbeda: mengelola tim nasional Jerman tanpa rutinitas pertandingan setiap pekan dan dengan waktu persiapan yang jauh lebih terbatas.

Ket. Foto: Jurgen Klopp — Sumber: Istimewa

Selama sembilan tahun di Liverpool, Klopp membangun salah satu periode paling sukses dalam sejarah klub. Dia membawa The Reds menjuarai Liga Champions 2018-19 dan Liga Inggris semusim kemudian. Sebelumnya, dia juga mengantarkan Borussia Dortmund meraih dua gelar Bundesliga serta tampil di final Liga Champions 2013. Bersama Mainz, Klopp mencatat sejarah dengan membawa klub tersebut promosi ke Bundesliga pada tahun 2004.

Penunjukan sebagai pelatih Jerman disebut Klopp sebagai puncak kariernya. “Ini adalah puncaknya, titik tertinggi dalam karier saya sebagai pelatih. Saya akan memberikan seluruh kemampuan yang saya miliki,” ujar Klopp.

Ujian pertamanya langsung berat. Jerman menghadapi Belanda pada tanggal 24 September.

Belanda juga memulai era baru dengan Xavi Hernandez. Mantan maestro Barcelona dan timnas Spanyol itu membawa pengalaman sebagai pemain elite sekaligus pelatih yang pernah merasakan tekanan di level tertinggi.

Karier bermain Xavi nyaris lengkap. Dalam 17 musim di tim utama Barcelona, dia memenangkan delapan gelar liga dan empat Liga Champions. Bersama Spanyol, dia meraih dua gelar Piala Eropa pada tahun 2008 dan 2012 serta Piala Dunia 2010.

Kini, Xavi mencoba membawa filosofi sepak bola yang berakar pada Barcelona ke timnas Belanda. Dia mengakui memiliki hubungan khusus dengan tradisi sepak bola Negeri Kincir Angin, terutama karena pengaruh Johan Cruyff dan Rinus Michels terhadap pendidikan sepak bolanya.

“Sebagai seseorang yang mendapat pendidikan di akademi FC Barcelona, dengan pengaruh kuat dari Johan Cruyff dan Rinus Michels, saya merasa memiliki hubungan khusus dengan sepak bola Belanda,” ujar Xavi.

Setelah memulai karier kepelatihan pada tahun 2019, Xavi membawa Al-Sadd meraih gelar liga Qatar sebelum kembali ke Barcelona pada bulan November 2021. Dia mengantarkan Barcelona menjadi juara La Liga 2022-23, sebelum meninggalkan klub pada bulan Mei 2024.

Di timnas Prancis, perhatian tertuju kepada Zidane. Sang legenda kembali ke panggung internasional, kali ini bukan sebagai pemain, melainkan sebagai pelatih tim nasional Prancis. Zidane memiliki hubungan erat dengan kesuksesan Prancis. Dia mencetak dua gol di final Piala Dunia 1998 dan menjadi bagian penting ketika Les Bleus menjuarai Piala Eropa 2000.

Karier kepelatihannya bersama Real Madrid juga menghasilkan catatan luar biasa. Zidane membawa Madrid menjuarai Liga Champions tiga kali berturut-turut setelah ditunjuk pada tahun 2016. Dia meninggalkan klub pada tahun 2018, kemudian kembali pada tahun 2019 hingga 2021 dan menambah satu gelar Liga Spanyol.

Zidane mengungkapkan bahwa dirinya menolak berbagai tawaran klub dalam beberapa tahun terakhir demi menunggu kesempatan menangani Prancis.

“Saya mendapat beberapa tawaran dari klub dalam empat atau lima tahun terakhir, tetapi semuanya saya tolak demi Prancis,” ucapnya..

Debut Zidane akan berlangsung 25 September ketika Prancis menghadapi Turki.

Portugal juga memasuki era baru bersama Jorge Jesus. Pelatih berusia 72 tahun itu memiliki pengalaman panjang di level klub, termasuk tiga gelar liga bersama Benfica. Kesuksesannya kemudian berlanjut di Flamengo dengan gelar liga dan Copa Libertadores pada tahun 2019, sebelum kembali meraih gelar liga di Arab Saudi musim lalu.

Cristiano Ronaldo juga menjadi bagian dari skuad Al Nassr yang meraih gelar tersebut. Jorge Jesus menyebut Ronaldo sebagai simbol sepak bola Portugal dan kini ingin membangun tim nasional dengan mentalitas juara.

“Saya ingin para pemain memahami bahwa jika ingin menang, mereka harus membayar harganya. Kami semua harus membayar harga tersebut,” ujarnya.

Portugal akan memulai perjalanan melawan Wales pada tanggal 24 September.

Beban Mancini

Italia menghadirkan cerita berbeda. Roberto Mancini kembali dipercaya menangani Gli Azzurri setelah sebelumnya membawa Italia menjuarai Piala Eropa 2020. Di periode pertamanya sebagai pelatih timnas Italia, 2018 hingga 2023, Mancini juga membawa Italia finis ketiga di UNL 2020-21 dan 2022-23.

Mancini memiliki pengalaman meraih gelar liga di Inggris, Italia dan Qatar. Sebagai pemain, dia mencatat 36 penampilan bersama Italia dan menjadi bagian dari skuad yang mencapai semifinal Piala Eropa 1988.

“Saya akan berusaha memastikan tim ini begitu indah dan bermain begitu baik sehingga para penggemar jatuh cinta kepadanya,” ujar Mancini.

Laga pertama Italia akan menghadapi Belgia pada tanggal 25 September, lawan yang menyimpan kenangan khusus karena pernah dikalahkan Italia di perempat final Piala Eropa 2020.

Belgia sendiri juga memulai proyek baru bersama Mark van Bommel. Mantan gelandang Belanda itu memiliki 79 caps internasional dan pernah menjadi kapten negaranya. Dalam karier klub, Van Bommel memperkuat Fortuna Sittard, PSV, Barcelona, Bayern Munich dan Milan serta memenangkan gelar liga di empat negara dan satu Liga Champions.

Sebagai pelatih, dia pernah menangani PSV, Wolfsburg dan Royal Antwerp. Namun, menangani Belgia menjadi pengalaman pertamanya sebagai pelatih kepala di level internasional setelah sebelumnya bekerja sebagai asisten di Australia dan Arab Saudi.

“Kami memiliki pemain-pemain luar biasa dan potensi yang sangat besar. Bersama staf kepelatihan, kami ingin membangun tim yang disiplin, ambisius dan berani bersaing dengan tim terbaik,” ujar Van Bommel.

Kroasia kembali menggandeng Slaven Bilic. Ini merupakan perjalanan kedua Bilic bersama tim nasional setelah periode 2006 hingga 2012. Sebagai pelatih pada periode tersebut, ia memimpin 65 pertandingan dan hanya menelan delapan kekalahan.

Setelah meninggalkan timnas, Bilic menjalani perjalanan panjang di level klub, termasuk bersama BeÅŸiktaÅŸ, West Ham United, West Bromwich Albion dan terakhir Al-Fateh di Arab Saudi.

“Saya benar-benar bahagia memulai tantangan ini dan merasa sepenuhnya siap. Saya kini menjadi pelatih yang lebih matang dan berpengalaman dibandingkan 2006, tetapi memiliki motivasi dan keinginan yang sama untuk melihat Kroasia tetap kuat, berani dan sukses,” katanya.

Kroasia akan menghadapi Ceko pada tanggal 26 September.

Sementara itu, Ceko mempercayakan timnas kepada Santi Denia. Namanya dikenal luas lewat keberhasilannya menangani tim-tim muda Spanyol. Denia membawa Spanyol menjuarai Piala Eropa U-17 2017, Piala Eropa U-19 2019 dan mencapai pencapaian terbesar dengan memenangkan medali emas Olimpiade Paris 2024.

Kini, ia mendapatkan kesempatan membuktikan kemampuannya di level senior bersama Ceko.

“Saya sangat senang berada di sini dan sangat termotivasi. Saya melihat kesempatan memimpin tim nasional Ceko sebagai peluang besar. Sepak bola Ceko memiliki sejarah yang gemilang,” ujar Denia.

Dengan begitu banyak pelatih berpengalaman dan mantan bintang besar memasuki panggung baru, UNL 2026-27 menawarkan lebih dari sekadar persaingan antartim. Laga pertama akan menjadi ujian awal bagi filosofi, kepemimpinan dan kemampuan beradaptasi para pelatih

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.