Bisnis Madu Tawarkan Ekonomi Riau Tanpa Tebang Hutan
📅 Rabu, 23 Sep 2026, 23:00 WIB | Oleh: Tim PenulisMemelihara lebah di hutan akasia
Di tengah hubungan antara lebah, petani, dan pasar tersebut, ada Bambang Sugeng, peternak lebah Apis mellifera yang memproduksi madu akasia.
Bambang memiliki sekitar 850 kotak sarang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 126 kotak ditempatkan di kawasan hutan akasia di Riau.
Setiap bulan, produksinya dapat mencapai sekitar 500 kilogram madu akasia.
Apis mellifera merupakan salah satu jenis lebah madu yang banyak dibudidayakan. Lebah pekerja mengumpulkan nektar dari bunga dan membawanya kembali ke koloni.
Nektar tersebut kemudian mengalami proses alami di dalam koloni hingga menjadi madu yang disimpan dalam sel-sel sarang.
Pada kawasan akasia, bunga menjadi sumber penting bagi lebah untuk memperoleh nektar. Dari aktivitas tersebut lahirlah madu akasia yang memiliki karakter rasa dan aroma khas yang dipengaruhi oleh sumber nektarnya.
Kotak-kotak sarang milik Bambang di kawasan hutan menjadi gambaran bagaimana aktivitas ekonomi dapat berjalan berdampingan dengan ekosistem.
Lebah membutuhkan pohon untuk berbunga. Jika pohon ditebang, sumber pakan lebah berkurang. Jika kawasan dibakar, habitat dan sumber kehidupan berbagai organisme ikut terganggu.
Sebaliknya, ketika vegetasi tetap dipertahankan, lebah mendapatkan ruang untuk mencari makan dan peternak mendapatkan peluang untuk memperoleh madu.
Aktivitas lebah juga berkaitan dengan proses penyerbukan tanaman. Ketika berpindah dari satu bunga ke bunga lainnya untuk mencari makanan, serbuk sari dapat ikut berpindah dan membantu proses reproduksi tanaman.
Karena itu, peternakan lebah tidak hanya berkaitan dengan produksi madu, tetapi juga dengan kondisi lingkungan tempat koloni memperoleh sumber makanan.
Leni melihatnya dari sisi pemasaran dan pemberdayaan petani. Citot menjembatani kelompok tani dengan konsumen melalui berbagai bentuk produk madu. Bambang menjalankan usaha itu dengan ratusan kotak sarang yang ditempatkan di berbagai lokasi, termasuk kawasan hutan akasia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!