Biochar dan Briket dari Limbah Sawit Jadi Alternatif Pengembangan Ekonomi Sirkular

Selasa, 22 Sep 2026, 13:07 WIB

BENGKULU — Limbah dari perkebunan kelapa sawit kini mulai didorong untuk tidak sekadar dipandang sebagai sisa produksi, melainkan sebagai bahan baku bernilai tambah. Salah satu langkah konkretnya adalah melalui pengolahan tandan kosong kelapa sawit menjadi biochar (arang hayati) dan briket.

Upaya tersebut dibahas secara mendalam dalam lokakarya (workshop) bertajuk “Praktik Mengubah Limbah Kelapa Sawit Menjadi Produk Briket dan Biochar Guna Mengembangkan Perdagangan Karbon dari Sektor Sawit” yang digelar oleh Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Bengkulu, Selasa (15/9/2026).

Ket. Foto: Pelatihan Pengolahan Limbah Sawit — Para peserta workshop bertajuk “Praktik Mengubah Limbah Kelapa Sawit Menjadi Produk Briket dan Biochar Guna Mengembangkan Perdagangan Karbon dari Sektor Sawit” berfoto bersama di Bengkulu pada Selasa (15/9/2026). — Sumber: Aspekpir

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program “Pemberdayaan UMKM & Koperasi Petani Komoditas Perkebunan dan Sawit Baik.” Kegiatan diikuti oleh sekitar 100 peserta, yang terdiri atas unsur pemerintah daerah, akademisi, praktisi, penyuluh, kelompok tani, gabungan kelompok tani (gapoktan) sawit, petani mandiri, PTPN, mahasiswa, hingga pemangku kepentingan terkait.

Dalam lokarya selain diskusi teoretis, kegiatan ini juga menghadirkan sesi praktik langsung pembuatan biochar dan briket,tujuannya guna membekali peserta dengan keterampilan teknis yang aplikatif.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Sri Herlin Despita, mengatakan bahwa besarnya potensi perkebunan sawit di wilayahnya harus diiringi dengan pengelolaan limbah yang optimal.

“Besarnya potensi perkebunan sawit perlu diikuti dengan munculnya berbagai jenis limbah perkebunan. Karena itu, diperlukan pengelolaan yang dapat memberikan manfaat lebih besar bagi sektor perkebunan dan masyarakat,” ujar Sri melalui siaran pers pada hari Selasa (22/9).

Sementara itu, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, menegaskan pentingnya penguatan kapasitas petani yang berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi.

“BPDP memiliki sejumlah program sesuai tugas dan fungsinya untuk mendukung pengembangan sektor sawit dan peningkatan kompetensi petani,” ungkap Helmi, sekaligus menyambut baik inisiatif kolaboratif yang diinisiasi oleh Aspekpir Indonesia.

Sebagai bentuk nyata kolaborasi lintas sektor, acara ini juga dirangkai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Aspekpir Indonesia dan Universitas Bengkulu (UNIB). Dekan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, Prof. Dr. Ir. Suharyanto, S.Pt., M.Si., menyampaikan bahwa pemanfaatan kelapa sawit harus diperluas tidak hanya sebagai komoditas utama, tetapi juga sebagai sumber bahan baku produk turunan yang bernilai ekonomis tinggi.

Dalam sesi inti, peserta mendapatkan pelatihan pengolahan tandan kosong kelapa sawit (tankos) menjadi biochar—material kaya karbon yang dihasilkan melalui pemanasan biomassa dalam kondisi oksigen terbatas.

Berkat struktur berporinya, biochar berfungsi sangat baik sebagai pembenah tanah, membantu mempertahankan kelembapan, mengikat unsur hara, serta menciptakan lingkungan mikro yang mendukung perkembangan akar tanaman.

Praktik pembuatan briket dari biomassa limbah sawit juga diperkenalkan sebagai alternatif bahan bakar padat yang bernilai ekonomis. Model pengolahan ini sebelumnya telah dirintis oleh Aspekpir melalui Koperasi Produksi Tunas Muda di Siak, Riau.

Melalui penerapan ekonomi sirkular (circular economy), pengolahan limbah sawit menjadi biochar dan briket tidak hanya memperpanjang siklus guna biomassa, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi UMKM dan koperasi petani.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkuat kemandirian ekonomi petani sekaligus mendorong transformasi sektor perkebunan kelapa sawit Indonesia menuju praktik yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.