Foto: Panas Ekstrem Ancam Warga Miskin Kota, BeHousing Dorong Kebijakan Adaptasi Terintegrasi

Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di kawasan perkotaan telah mengembangkan berbagai cara untuk menghadapi panas, mulai dari menyesuaikan aktivitas sehari-hari hingga mengupayakan adaptasi hunian. Namun, upaya tersebut masih banyak bergantung pada kemampuan individu dan rumah tangga, sementara akses terhadap hunian yang nyaman, pembiayaan adaptasi, dan perlindungan kebijakan belum memadai. Temuan ini mengemuka dalam Dialog Diseminasi Nasional Riset Beyond Housing Types (BeHousing), yang mempertemukan peneliti, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, komunitas, dan media untuk membahas adaptasi hunian terhadap panas perkotaan serta masa depan kota yang inklusif.

Keadaan ini turut diperburuk oleh fenomena penumpukan panas kota (urban heat island) – yakni penggunaan bahan-bahan konstruksi di perkotaan seperti beton, aspal, dan kaca yang menyerap panas, kemudian membuat sengatan suhu panas terasa bahkan hingga malam hari; belum lagi diperparah oleh gedung-gedung pencakar langit yang menghalangi laju angin serta ketiadaan ruang terbuka hijau yang memadai. Apabila dibiarkan begitu saja, panas dapat berdampak pada aspek kesehatan, ekonomi, dan sosial yang sangat berbahaya, terutama bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah yang tinggal di pemukiman padat perkotaan; dikarenakan kualitas bangunan yang rendah (tiadanya sirkulasi udara yang memadai serta penggunaan bahan seperti atap seng yang memerangkap panas). Di sinilah riset ini bersandar.

Sebagaimana bunyi pidato kunci dari Ir. Diana Kusumastuti, M.T., Wakil Menteri Pekerjaan Umum, “Riset ini dibutuhkan. Hasil penelitian BeHousing penting sebagai masukan bagi pengembangan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan yang inklusif dan responsif. Sebab urban heat merupakan tantangan pembangunan yang membutuhkan kerjasama multipihak dalam menjamin terwujudnya hunian tangguh dan inklusif di berbagai skala,” tegasnya. 

Mengenali urgensi dari permasalahan ini, konsorsium BeHousing yang dipimpin oleh Rujak Center for Urban Studies (RCUS), bersama Kota Kita Foundation, Arkom Indonesia, dan Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) di Universiti Kebangsaan Malaysia, melakukan diseminasi riset yang mengemukakan kelindan antara tipologi hunian, kondisi sosial-ekonomi, tata kelola, dan kemampuan masyarakat berpenghasilan rendah untuk beradaptasi terhadap panas perkotaan di 4 lokasi studi di Indonesia (Jakarta, Semarang, Surabaya) dan Malaysia (Selangor).

“Terima kasih kepada 1.125 warga. Riset ini tentang seluruh warga kampung dan rusun di tiap lokasi penelitian; tentang panas yang dihadapi oleh bapak, ibu, lansia, dan anak-anak setiap hari; dan tentang cara-cara cerdas warga temukan untuk tetap bertahan, baik secara individu maupun kolektif. Kami hanya membantu mengangkat ceritanya kepada publik dan para pengambil kebijakan,” ungkap Elisa Sutanudjaja, Direktur Eksekutif RCUS dalam sambutannya.

Dampak panas juga melampaui ketidaknyamanan fisik. Warga turut mengalami hambatan pada aktivitas produktif dan waktu pemulihan, termasuk ketika bekerja dari rumah, memasak, dan beristirahat. Keluhan yang muncul antara lain pusing, sakit kepala, keringat berlebih, batuk, dan sakit tenggorokan, serta dampak terhadap kesejahteraan psikologis. Pada saat yang sama, keterbatasan ekonomi membuat penggunaan pendingin aktif seperti AC menjadi pilihan yang sulit terjangkau.

Dalam diskusi yang dimoderatori Silvania Utami, Program Manager for Urban Resilience Initiative Kota Kita, para panelis menyoroti belum terintegrasinya penanganan panas ke dalam kerangka kebijakan kebencanaan dan pelayanan publik. Kajian risiko panas, pemetaan wilayah rentan, dan penganggaran dinilai penting untuk mendorong intervensi yang lebih terarah, termasuk perlindungan kesehatan bagi masyarakat yang paling terdampak. 

Doc. Foto: Koran Jakarta/Wahyu AP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.