• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Dukung Pembelajaran Kreati...

Dukung Pembelajaran Kreatif, Oreo Berbagi Seru Hadir di Tujuh Provinsi

Senin, 21 Sep 2026, 17:25 WIB

JAKARTA—Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, menjadi lokasi terakhir rangkaian program “Oreo Berbagi Seru” pada 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 16–21 September 2026 tersebut melibatkan siswa, guru, orang tua, dan komunitas dalam berbagai aktivitas pembelajaran yang menggabungkan unsur bermain, interaksi, dan kreativitas.

Pada pelaksanaan terakhir ini, program yang diinisiasi Oreo bersama Indonesia Mengajar menjangkau 1.280 siswa sekolah dasar di Langkat. Kegiatan tersebut sekaligus melengkapi rangkaian yang sebelumnya digelar di enam kabupaten lain di enam provinsi.

Ket. Foto: Setelah mendapatkan bekal dari pelatihan program “Oreo Berbagi Seru”, para guru mengaktualisasikan penggunaan alat belajar seru di kelas kepada siswa-siswi untuk menciptakan proses belajar mengajar yang interaktif, kreatif, dan menyenangkan. — Sumber: Oreo

Secara keseluruhan, sepanjang 2026 program “Oreo Berbagi Seru” telah hadir di tujuh kabupaten di tujuh provinsi dan menjangkau lebih dari 7.000 anak Indonesia. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Langkat karena dinilai sejalan dengan upaya penguatan ekosistem pendidikan, termasuk pemberdayaan guru sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran.

Muhammad Yunus, Jabatan Fungsional Pengembang Kurikulum Ahli Muda, mengatakan kegiatan tersebut sejalan dengan program “Guru Penggerak” yang telah diinisiasi pemerintah daerah sejak 2024. Program itu diarahkan untuk mendorong guru menjadi agen transformasi pendidikan.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada Oreo atas inisiatif program ‘Oreo Berbagi Seru’ karena mendukung salah satu program kami yaitu ‘Guru Penggerak’ yang diinisiasi sejak 2024 untuk memberdayakan guru menjadi agen transformasi pendidikan,” ujar Yunus melalui keterangannya pada hari Senin (21/9).

Menurut dia, guru memiliki posisi penting dalam menciptakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Pendekatan yang memadukan permainan, interaksi, dan kreativitas dinilai dapat membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa.

“Kami berharap seluruh pengetahuan yang diperoleh melalui program ini dapat terus diterapkan setelah kegiatan berakhir, baik oleh guru maupun orang tua yang mendampingi anak belajar di rumah,” tambahnya.

Belajar Melalui Permainan

Marketing Director Mondelēz Indonesia, Anggya Kumala, mengatakan program tersebut berangkat dari pandangan bahwa proses belajar anak tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademis. Aktivitas pembelajaran juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan rasa ingin tahu, kreativitas, kemampuan bekerja sama, dan kepercayaan diri.

“Oreo meyakini bahwa belajar tidak hanya berfokus pada pencapaian akademis, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi anak untuk mengembangkan rasa ingin tahu, kreativitas, kemampuan bekerja sama, dan kepercayaan diri,” ujar Anggya.

Menurut dia, permainan yang dekat dengan keseharian anak dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan untuk membangun interaksi belajar antara siswa, guru, dan orang tua. Dalam rangkaian kegiatan di Langkat, Oreo kembali mendistribusikan 270 alat belajar yang dirancang untuk mendukung pembelajaran Literasi, Numerasi, Sains, dan Bahasa Inggris. Perangkat tersebut menggunakan pendekatan belajar sambil bermain dan disesuaikan dengan kurikulum nasional.

“Program ‘Oreo Berbagi Seru’ telah hadir di Banten, Jawa Barat, Lampung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, dan hari ini diakhiri di Sumatera Utara sebagai provinsi ke-7,” papar Anggya.

Melibatkan Guru, Orang Tua, dan Komunitas

Program di Langkat tidak hanya ditujukan kepada siswa. Sepanjang 16–21 September 2026, kegiatan juga mencakup pelatihan bagi 35 guru, 70 orang tua, dan 35 anggota komunitas. Pelatihan untuk guru membahas pendekatan belajar seru sekaligus penggunaan alat belajar melalui simulasi yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Guru juga diperkenalkan pada cara mengintegrasikan aktivitas bermain dengan materi pembelajaran.

Sementara bagi orang tua, kegiatan diarahkan untuk memberikan pemahaman mengenai perkembangan anak dan cara menciptakan aktivitas belajar yang interaktif di rumah. Permainan sederhana dan percakapan sehari-hari diperkenalkan sebagai bagian dari aktivitas yang dapat membantu menumbuhkan rasa ingin tahu anak.

Adapun pelibatan komunitas diarahkan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam membangun lingkungan belajar yang berkelanjutan di sekitar anak. Bagi Evi Destari Br Tarigan, guru SD Negeri 050647 Timbang Lawan, pendekatan tersebut memberikan perspektif baru mengenai proses pembelajaran di kelas.

“Sebagai guru, terkadang kami terlalu fokus pada bagaimana menyampaikan seluruh materi kepada anak, padahal yang tidak kalah penting adalah bagaimana membuat mereka menikmati proses belajarnya,” ujar Evi.

Menurut dia, aktivitas dalam program tersebut memberikan inspirasi bahwa materi pembelajaran dapat dikemas dalam bentuk permainan sederhana dan interaktif.

“Saat anak merasa senang, mereka menjadi lebih aktif bertanya, lebih berani mencoba, dan lebih mudah terlibat dalam pembelajaran,” katanya.

Evi berharap pengalaman tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan setelah program selesai, terutama dalam kegiatan belajar sehari-hari di ruang kelas.

Peran Orang Tua dalam Pembelajaran di Rumah

Pelibatan orang tua menjadi bagian lain dari program tersebut. Siti Fatimah, salah seorang perwakilan orang tua siswa, mengatakan mendampingi anak belajar di rumah terkadang menjadi tantangan karena anak juga membutuhkan waktu untuk beristirahat dan bermain setelah mengikuti kegiatan sekolah.

“Setelah seharian belajar di sekolah, sampai rumah biasanya anak ingin beristirahat, bermain, atau menghabiskan waktu dengan gadget. Karena itu, mengajak mereka belajar di rumah kadang menjadi tantangan tersendiri,” ujar Siti.

Setelah mengikuti pelatihan, ia mengatakan memperoleh pemahaman bahwa kegiatan belajar tidak harus selalu dilakukan dengan cara formal, seperti meminta anak duduk dan membaca buku.

“Mendampingi anak belajar tidak selalu harus dilakukan dengan menyuruh mereka duduk dan membuka buku, tetapi dengan menciptakan momen-momen seru yang mengasah rasa ingin tahu mereka,” katanya.

Pendekatan tersebut menempatkan orang tua bukan hanya sebagai pihak yang membantu mengawasi tugas sekolah, tetapi juga sebagai bagian dari lingkungan belajar anak di rumah.

Menjangkau Tujuh Provinsi

Pelaksanaan di Langkat menjadi penutup perjalanan “Oreo Berbagi Seru” sepanjang 2026. Sebelum Sumatera Utara, program tersebut telah digelar di Banten, Jawa Barat, Lampung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan.

Dengan tujuh lokasi tersebut, program secara keseluruhan menjangkau lebih dari 7.000 anak. Selain kegiatan untuk siswa, program juga melibatkan guru, orang tua, dan komunitas untuk memperluas penerapan pendekatan pembelajaran berbasis aktivitas dan permainan.

Program ini juga melibatkan konsumen melalui mekanisme donasi dari sebagian keuntungan penjualan produk Oreo untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan.

Anggya mengatakan rangkaian di Langkat menjadi kesempatan untuk melihat kembali pelaksanaan program di berbagai daerah sepanjang 2026. Menurut dia, keterlibatan berbagai unsur pendidikan menunjukkan bahwa pengalaman belajar anak dapat dibangun melalui peran bersama.

“Dari satu wilayah ke wilayah lainnya, program ini menemukan bahwa semangat untuk menghadirkan pengalaman belajar terbaik bagi anak bisa hadir dalam berbagai bentuk—melalui kreativitas guru di ruang kelas, keterlibatan orang tua di rumah, hingga dukungan komunitas di lingkungan sekitar anak,” ujar Anggya.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat membantu anak mengembangkan karakter yang disebut sebagai Generasi Seru, yakni Solutif, Eksploratif, Responsif, dan Unggul dalam menghadapi tantangan di masa mendatang.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.