DEN: Bisnis Migas Indonesia Belum Senjakala, Peluang Menuju Negara Maju 2045 Masih Terbuka
Kamis, 01 Okt 2026, 06:15 WIBJakarta - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) M. Kholid Syeirozi menilai bisnis minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia masih memiliki prospek yang cukup baik dan belum memasuki fase senjakala.
"Dengan prospek bisnis migas yang belum masuk fase senjakala, memberi peluang besar Indonesia menjadi negara maju di 2045," ucap Kholid dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (30/9).
Kholid menyampaikan hal tersebut dalam diskusi buku "Senjakala Industri Migas; Migas dan Pembangunan Indonesia 1899-2023" dan Seminar Tata Kelola Energi yang digelar Rumah Energi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu.
Dalam diskusi tersebut, Sekretaris Jenderal Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan Andang Bachtiar mengatakan Provinsi Kepulauan Riau memiliki aset migas yang sangat besar di Laut Natuna.
Namun, menurut dia, proses eksplorasi migas di Blok Natuna hingga kini belum berjalan optimal akibat berbagai persoalan tata kelola migas.
"Masih terdapat 110 area potensial di Indonesia dengan cadangan baru minyak dan gas yang belum dieksplorasi hingga Januari 2026," ungkap Andang.
Sementara itu, akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji Sayed Fauzan Riyadi menyampaikan perlunya pengawalan dan pendampingan terhadap proses revisi Undang-Undang Migas yang tengah berjalan di DPR RI.
Menurut Sayed, selama ini persoalan migas lebih banyak dibahas di tingkat elite, sementara masyarakat belum memperoleh pengetahuan yang cukup mengenai sektor tersebut. Karena itu, informasi mengenai migas perlu disampaikan secara lebih luas kepada masyarakat.
Untuk itu, Sayed mengajak kaum intelektual, khususnya mahasiswa, agar lebih peka terhadap kebijakan di sektor migas.
"Khususnya di Provinsi Kepulauan Riau agar perbaikan tata kelola migas nasional berdampak langsung bagi daerah penghasil migas," ucapnya.
Kepastian Politik
Sebelumnya, pengamat migas dari Universitas Trisakti sekaligus Founder ReforMiner Pri Agung Rakhmanto mengatakan penguatan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan seluruh pemangku kepentingan perlu terus didorong untuk meningkatkan daya saing investasi sektor hulu migas nasional.
"Sinergi tersebut menjadi salah satu kunci untuk mempercepat eksplorasi dan pengembangan proyek, mendorong peningkatan produksi serta memperkuat ketahanan energi nasional," kata Pri Agung.
Ia mengatakan Indonesia masih memiliki potensi sumber daya migas yang besar. Namun, daya tarik investasi tidak hanya ditentukan oleh potensi bawah permukaan (underground risk), tetapi juga faktor above ground risk, seperti kepastian politik, arah kebijakan ekonomi, regulasi, birokrasi perizinan, kepastian pasar, dan ketersediaan infrastruktur pendukung.
"Dari sisi underground risk, kita termasuk tiga atau empat besar di Asia Pasifik. Sementara dari sisi above ground risk, faktor yang diperhatikan antara lain kepastian politik, visi dan arah ekonomi, regulasi dan kebijakan, birokrasi perizinan, kejelasan market serta infrastruktur pendukung," kata Pri Agung.
Menurut dia, potensi sumber daya tersebut perlu didukung ekosistem investasi yang semakin kompetitif sehingga mampu menarik modal, terutama untuk kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan migas.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Lestari Moerdijat: Menuju Indonesia Emas, Bonus Demografi Harus Dikelola dengan Baik
-
Bayern Muenchen Pesta Gol! Bodo/Glimt Dihajar 5-0, Michel Olise Tampil Menggila
-
Mo Salah Tidak Masuk Skuad Liverpool di Liga Champions Pekan Ini, Mampukah The Reds Kalahkan Inter Milan?
-
Kemenperin: Penguatan Industri Penunjang Migas Modal Penting untuk Tekan Kebergantungan Impor
-
ESDM Jamin Harga BBM Subsidi Tak akan Naik Meski Kurs Rupiah Rp17.877
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.