Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
Senin, 21 Sep 2026, 00:00 WIBJAKARTA â Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi sebagai pusat produksi, inovasi, dan investasi pangan di tingkat global karena ditopang solidnya industri manufaktur, kekayaan sumber daya alam, dan besarnya pasar domestik. Namun, saat ini tantangan semakin kompleks, bukan hanya soal harga tetapi juga standar keamanan dan mutu yang kian ketat di pasar ekspor.
Berdasarkan data Manufacturing Value Added (MVA) 2025 yang dirilis World Bank, nilai tambah manufaktur Indonesia mencapai 275,61 miliar dollar AS. Capaian ini menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia dan tertinggi di Asia Tenggara, mengungguli Thailand, Vietnam, Singapura, dan Malaysia.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan capaian tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan peran Indonesia dalam rantai nilai pangan global. âIndustri manufaktur kita semakin solid. Ke depan, kekuatan ini harus diterjemahkan menjadi produk yang bernilai tambah, berkualitas, inovatif, dan berdaya saing di pasar global,â ujar Faisol saat pembukaan Food Ingredients Asia (Fi Asia) Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta tengah pekan lalu.
Menurut Faisol, industri makanan dan minuman (mamin) adalah sektor strategis dalam struktur manufaktur nasional. Pemerintah, kata dia, berkomitmen membangun ekosistem industri pangan yang halal, sehat, inovatif, dan berkelanjutan.
âPenyelenggaraan Fi Asia 2026 menjadi momentum penting untuk mempertemukan pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan mitra internasional dalam memperkuat kolaborasi, termasuk transfer teknologi dan pengetahuan,â jelasnya.
Kemenperin menargetkan ekspor produk mamin mencapai 83,08 miliar dollar AS pada 2029 dengan rata-rata pertumbuhan 10,9 persen per tahun. Untuk mencapai itu, kebijakan difokuskan pada percepatan hilirisasi berbasis sumber daya alam lokal, peningkatan utilisasi pabrik hingga 70 persen, peningkatan ekspor produk hilir bernilai tambah tinggi, serta perluasan penetrasi ke 20 negara tujuan ekspor baru di kawasan Amerika, Eropa Timur, Timur Tengah, dan Asia Selatan.
Kinerja Solid
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika mengatakan perkembangan industri mamin perlu diselaraskan dengan perubahan perilaku konsumen. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan rasa dan harga, tetapi juga kandungan gizi, keamanan pangan, kualitas bahan baku, dan keberlanjutan.
âIndustri harus terus beradaptasi dengan menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, termasuk dari sisi kesehatan, keamanan, kualitas, dan keberlanjutan,â ujar Putu.
Pada Semester I-2026, industri mamin tumbuh 6,77 persen dan memberikan kontribusi 41,86 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas serta 7,16 persen terhadap PDB nasional. Di tengah kinerja tersebut, industri pangan menghadapi tuntutan pasar global yang semakin kompleks.
Persyaratan perdagangan tidak lagi hanya berkaitan dengan harga dan kapasitas produksi, tetapi juga keamanan pangan, standar mutu, jejak lingkungan, serta tuntutan terhadap produk yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Gelar IFI 2026, Kemenperin Kembangkan Inovasi Produk Antara Pangan Lokal
-
DPR Usulkan Penerapan AI di Indonesia Dibagi 3 Klaster: Kota, Desa, dan Daerah Tertinggal
-
Benarkah MSG Berbahaya? Kampanye Edukasi Sajikan Temuan Ilmiah
-
Masyarakat Diimbau Tak Tergiur Haji Non-prosedural
-
PT Pertamina Patra Niaga: Stok BBM Pertamax, Pertalite, dan Biosolar di Kalimantan Tengah Aman
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.