- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ketegangan Mereda, Denmark...
Ketegangan Mereda, Denmark Sambut Kesepakatan Greenland yang 'Mengikat' dengan Trump
Minggu, 20 Sep 2026, 09:23 WIBKOPENHAGEN - Denmark menyambut baik kesepakatan "mengikat" yang diumumkan Presiden AS Donald Trump YANG memberikan Washington "kendali permanen" atas keamanan Greenland dan melarang pangkalan Russia dan Tiongkok di wilayah Arktik tersebut.
Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, Trump berulang kali menegaskan bahwa Amerika Serikat perlu mengendalikan Greenland karena alasan strategis, yang membuat sekutu NATO, Denmark, khawatir dan memicu penolakan keras dari aliansi tersebut.
Denmark dan Greenland -- wilayah otonom Denmark -- sama-sama menyambut baik perjanjian tersebut dan mengatakan mereka akan menandatanganinya di sela-sela Sidang Umum PBB di New York minggu depan.
"Semoga periode ketidakpastian yang panjang akan digantikan oleh perjanjian yang mengikat yang memperkuat keamanan di Arktik dan Atlantik Utara," kata Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen di media sosial, Minggu.
Kesepakatan itu menghormati "garis merah" Denmark dan "penting" mengingat situasi keamanan yang telah berubah, katanya.
Kedaulatan Denmark
Meskipun syarat-syaratnya masih belum jelas, Denmark menegaskan bahwa kedaulatannya tetap utuh.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mengatakan, perjanjian dengan Washington "mengakui kedaulatan dan integritas wilayah Kerajaan serta hak rakyat Greenland untuk menentukan nasib sendiri".
Hal itu "baik untuk NATO dan Eropa", katanya.
Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen mengatakan kesepakatan itu "mengakui kepentingan Greenland" dan "memperkuat" keamanannya.
Dan Presiden Prancis Emmanuel Macron juga memberikan komentarnya pada hari Sabtu, dengan mengatakan bahwa kesepakatan itu membantu "menegaskan kembali kedaulatan Denmark" atas wilayah Arktik tersebut.
Di Nuuk, ibu kota Greenland, penduduk mengungkapkan perasaan ambivalen.
"Saya tidak tahu persis apa isi kesepakatan itu atau apa yang telah ditandatangani. Tetapi setiap kali AS dan Trump disebutkan, saya memiliki perasaan campur aduk. Saya tidak sepenuhnya nyaman dengan banyaknya perhatian yang diberikan kepada Greenland saat ini," kata Soren Kreutzmann, seorang penata rambut berusia 29 tahun, kepada AFP.
"Kami berharap para pemimpin telah mencapai kesepakatan yang baik, karena negara kami perlu dilindungi, baik dari udara maupun laut. Denmark belum cukup memperhatikan hal itu selama bertahun-tahun," kata Bibbi Kleist Jepsen, seorang pendidik berusia 64 tahun.
Trump memuji kesepakatan itu sebagai "Perjanjian 'Kehidupan Abadi', tidak ada akhirnya!" Washington akan segera mulai membangun kehadiran militer besar-besaran di wilayah tersebut, tambahnya.
"Mulai sekarang, tidak ada musuh AS yang BOLEH memiliki pangkalan di Greenland, memiliki kehadiran militer di Greenland, atau melakukan investasi sensitif di Greenland, tanpa persetujuan tertulis kami."
Meskipun Trump mempresentasikan kesepakatan itu sebagai kemenangan besar, para komentator Denmark mengatakan kemungkinan besar ia hanya mendapatkan sedikit keuntungan.
Mereka mencatat, berdasarkan pakta pertahanan tahun 1951 yang diperbarui pada tahun 2004, Washington sudah dapat meningkatkan kehadiran militernya di pulau itu asalkan memberi tahu Denmark dan Greenland terlebih dahulu.
"Ssst. Jangan beritahu Trump bahwa Kerajaan Denmark-lah yang telah menang," tulis koresponden AS Jacob Heinel Jensen di surat kabar Denmark Berlingske pada hari Sabtu.
Ulrik Pram Gad, seorang peneliti di Institut Studi Internasional Denmark, mengatakan, Trump "jelas tidak mendapatkan dalam perjanjian ini apa yang awalnya ingin dia dapatkan, yaitu kendali kedaulatan atas seluruh Greenland sebagai bagian dari Amerika Serikat".
Kekhawatiran akan Tiongkok dan RussiaÂ
Trump telah berulang kali memperingatkan tentang upaya Russia dan Tiongkok untuk membangun pijakan di Greenland seiring dengan berlangsungnya pertempuran strategis untuk supremasi di Arktik yang memanas. Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa mereka tidak akan diizinkan untuk melakukan hal tersebut.
"Perjanjian ini menjamin bahwa Tiongkok dan Russia tidak dapat memiliki pangkalan di Greenland, mereka tidak dapat mengirim pasukan ke Greenland, dan mekanisme yang diperlukan telah tersedia untuk mencegah investasi di sektor-sektor sensitif," kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri.
Gad mencatat bahwa sementara Russia kurang tertarik pada Greenland, Tiongkok berinvestasi di industri ekstraktif untuk mendapatkan pijakan di Arktik.
"AS khawatir bahwa jejak Tiongkok dalam bentuk apa pun dapat diubah menjadi aset militer," katanya.
Sembari memperingatkan bahwa detail kesepakatan tersebut masih belum diketahui, Gad mengatakan kekhawatirannya adalah bagaimana "akses eksklusif" bagi AS untuk membangun pangkalan di Greenland akan memengaruhi sekutu NATO dari Eropa.
"Trump telah mengisyaratkan untuk membubarkan aliansi NATO... Jika Eropa adalah musuh, bagaimana posisi Eropa, Denmark, dan Greenland dalam situasi tersebut?"
Beberapa media melaporkan bahwa Washington ingin membuka tiga pangkalan militer baru di Greenland selatan, selain pangkalan Pituffik yang sudah ada di bagian utara wilayah tersebut.
Pada puncak sengketa Greenland, Trump tidak mengesampingkan kemungkinan menggunakan kekuatan untuk merebut wilayah berpenduduk 57.000 jiwa tersebut, yang menimbulkan kekhawatiran di dalam Uni Eropa dan NATO.
Ketegangan telah mereda. Dalam upaya untuk menenangkan Trump, NATO meluncurkan misi untuk memperkuat keamanan di Arktik.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Riset Ungkap Dampak Perubahan Iklim terhadap Migrasi dan Kehidupan Perempuan Pesisir
-
Kemenhut Perluas Perdagangan Karbon Lewat Perhutanan Sosial
-
Pemkot Jaktim Minta Pelamar Waspadai Modus Kerja Palsu
-
Tak Bisa Jalan Sendiri, Industri Besar Diminta Angkat IKM dan UMKM
-
Asap Karhutla Terus Meluas, Kasus ISPA di Kalsel Meningkat Tajam
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.