Tim IPB Bekali Eks TKW Sukabumi Keterampilan Hilirisasi Lele, Bukan Sekadar Budidaya

Rabu, 16 Sep 2026, 18:10 WIB

BOGOR – Kepulangan pekerja migran Indonesia ke tanah air menjadi momentum penting untuk mengubah pengalaman kerja di luar negeri menjadi modal ekonomi di dalam negeri.

Karena itu, pembekalan keterampilan bagi eks pekerja migran menjadi langkah strategis agar mereka memiliki kemampuan yang lebih relevan untuk membuka usaha, memasuki pasar kerja, maupun mengembangkan potensi ekonomi di daerah asal.

Ket. Foto: Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat IPB University beri pelatihan hilirisasi budidaya lele kepada sejumlah perempuan mantan pekerja migran di Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. — Sumber: ANTARA/HO-Humas-IPB

Penguatan keterampilan tersebut diharapkan dapat memperluas pilihan penghidupan sekaligus mendorong eks pekerja migran menjadi bagian dari penggerak ekonomi masyarakat.

Sejumlah purna pekerja migran perempuan alias tenaga kerja wanita di luar negeri (TKW) di Kabupaten Sukabumi mendapat pembekalan keterampilan hilirisasi terpadu hasil budidaya lele dengan pengolahan melalui system integrated multi-tropic agriculture dari tim program kreatifitas mahasiswa bidang pengabdian kepada masyarakat dari Kampus IPB University.

Perwakilan Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) IPB University Soni Kurniawan di Bogor, Rabu, menyebutkan program bertajuk "Mindshift 5: Kreasi Wargi" merupakan bagian dari program Mindshift (Mindset & Independent) yang menekankan pentingnya hilirisasi hasil budidaya.

“Setelah memahami proses budidaya lele secara berkelanjutan, peserta diajak mengembangkan kreativitas dalam mengolah hasil panen menjadi berbagai produk kuliner yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi,” kata Sony.

Kegiatan pendampingan perempuan pekerja migran purna itu tepatnya di Kampung Muara, Desa Jambenenggang, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi. Tim fokus pada peningkatan keterampilan pengolahan hasil budidaya menjadi produk pangan bernilai tambah.

Melalui pendekatan "learning by doing", peserta tidak hanya mempelajari teknik pengolahan, tetapi juga didorong untuk berinovasi sesuai potensi dan kreativitas kelompok masing-masing.

Kegiatan diawali dengan pengenalan potensi nilai tambah ikan lele melalui pengolahan produk pangan, termasuk pentingnya menjaga mutu produk, menerapkan prinsip keamanan pangan, serta mengenali peluang pemasaran produk olahan sebagai bekal dalam mengembangkan usaha berbasis hasil budi daya.

Pendampingan dilakukan melalui tahapan persiapan bahan baku, pengolahan daging lele, pencampuran bahan, pembentukan patty burger berbahan dasar fillet lele, hingga teknik pengemasan produk.

Para peserta pelatihan melakukan praktik secara langsung dengan pendampingan tim PKM-PM IPB University. Setiap kelompok membuat burger fillet lele sebagai produk utama dan mengembangkan satu menu kreasi olahan lele.

Kelompok pertama menghadirkan lele krispi saus asam manis, kelompok kedua mengolah pecel lele dengan nasi liwet, sedangkan kelompok ketiga menyajikan pepes lele dengan sambal ijo.

“Peserta tidak hanya mampu mengolah hasil budidaya, tetapi juga mulai memiliki kepercayaan diri untuk menciptakan produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi,” kata Soni.

Selain itu dibuatkan resep dan standar produksi sebagai acuan pengolahan. Resep dasar burger fillet lele dan hasil kreasi masing-masing kelompok didokumentasikan agar dapat diproduksi kembali secara konsisten dengan kualitas yang terjaga.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan evaluasi produk berdasarkan rasa, tekstur, kebersihan, tampilan produk, serta kesesuaian proses produksi.

Melalui Mindshift 5: Kreasi Wargi, Sonny dan tim berharap para peserta semakin siap mengembangkan usaha berbasis pengolahan hasil budi daya yang inovatif dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.