Bulog Indramayu Tak Mau Kehilangan Momentum, Penyerapan Panen Dikebut hingga Akhir 2026
Rabu, 16 Sep 2026, 00:03 WIBINDRAMAYU - Perum Bulog Cabang Indramayu, Jawa Barat, tetap mengoptimalkan penyerapan hasil panen petani hingga akhir 2026, meski realisasinya telah melampaui target sebesar 174 ribu ton setara beras.
Pimpinan Cabang Perum Bulog Indramayu Apip Wijaya di Indramayu, Selasa, mengatakan realisasi penyerapan saat ini telah mencapai 178 ribu ton setara beras atau melampaui target yang ditetapkan.
"Target tahun 2026 sebesar 174 ribu ton setara beras, sudah tercapai 178 ribu ton atau 102 persen dari target. Kami tetap optimalkan penyerapan sampai akhir tahun," katanya.
Menurut dia, penyerapan tetap dilakukan selama panen masih berlangsung dan mitra penggilingan siap melakukan pengadaan untuk memasok beras ke Bulog.
Apip mengatakan kondisi harga gabah yang berada di atas patokan Rp6.500 per kilogram, menjadi tantangan dalam pelaksanaan pengadaan saat ini.
"Sebetulnya tidak ada kendala, hanya harga saja karena harga sekarang berada di atas Rp6.500," ujarnya.
Ia menuturkan Bulog optimistia panen di sejumlah kecamatan dapat menambah pasokan, sekaligus membantu membuat harga bahan baku kembali stabil.
"Kami berharap dengan adanya panen di beberapa kecamatan, harga bahan baku sudah mulai stabil, sehingga kami bisa menyerap kembali," katanya.
Sementara itu, Ketua DPC Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Kabupaten Indramayu Oktavian Gatra Barbehen Sagala mengatakan harga gabah di lapangan kini mencapai Rp8.800 hingga Rp9.200 per kilogram.
Ia menyebutkan kenaikan harga tersebut membuat biaya bahan baku penggilingan meningkat, sementara harga beras hasil olahan masih dibatasi harga eceran tertinggi (HET) hingga Rp14.900 per kilogram untuk beras premium.
Ia menilai harga gabah sekitar Rp7.000 per kilogram lebih ideal karena memberikan ruang bagi petani, memperoleh harga yang baik sekaligus menjaga keberlangsungan usaha penggilingan.
Gatra mengatakan kenaikan harga turut dipengaruhi musim kemarau panjang yang berdampak pada ketersediaan air untuk pertanian.
"Untuk harga bahan baku sekitar Rp7.000 itu masuk untuk menyejahterakan para petani dan para penggiling juga," katanya.
Berita Terkait:
-
Korban Selamat Kecelakaan Laut KMP Virgo Dilarikan ke Sejumlah RS di Banjarmasin, Ini Kondisinya
-
Presiden Prabowo Pimpin Rapat Penanganan Kebakaran Hutan di Pontianak Kalimantan Barat
-
Heboh di Bengkalis! Pemilik Kebun Sawit Jadi Tersangka, Ini Kasusnya
-
Berikut Daftar Harga Emas Galeri24, Antam, dan UBS di Pegadaian yang Serempak Naik pada Selasa Ini
-
BULOG Gerak Cepat! Sidak Pasar Serentak Cegah Beras Mahal
-
RI Diminta Setop Jual Bahan Mentah, Kekayaan Tropis Harus Jadi Produk Bernilai Tinggi
-
Peternak Unggas Mikro Tak Lagi Cemas? Bapanas Tambah 150 Ribu Ton SPHP
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.