Kain Tenun Bima Diperkenalkan ke Wisatawan Peserta Sail to Indonesia
Senin, 14 Sep 2026, 09:25 WIBBIMA - Tari Wura Bongi Monca menyambut kedatangan wisatawan mancanegara di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, sekaligus menjadi pembuka rangkaian kunjungan peserta Sail to Indonesia Yacht Rally 2026.
Sail to Indonesia merupakan rangkaian pelayaran wisata bahari yang berlangsung sejak Juli hingga Oktober 2026 dengan menghubungkan sejumlah destinasi di Indonesia. Pelayaran tersebut membuka peluang bagi daerah persinggahan untuk memperkenalkan potensi wisata, budaya dan ekonomi kreatif kepada wisatawan mancanegara.
Sebanyak 43 wisatawan dari 15 negara yang menggunakan 15 kapal yacht singgah di Kota Bima pada 11â15 September 2026. Sebelum tiba di Bima, rombongan tersebut berlayar dari Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, dan akan melanjutkan perjalanannya menuju Kabupaten Sumbawa.
Kota Bima yang berada di ujung timur Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu titik dalam jalur wisata bahari tersebut. Posisi geografisnya juga menempatkan kota tepian air ini dalam konektivitas perjalanan wisata antara Destinasi Pariwisata Super Prioritas Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur dan kawasan Mandalika di Pulau Lombok.
Kehadiran wisatawan mancanegara di Kota Bima tidak hanya diisi dengan kunjungan ke sejumlah destinasi, tetapi juga kegiatan yang mempertemukan wisatawan dengan budaya dan produk ekonomi kreatif masyarakat setempat.
Salah satunya melalui Lawata Fashion Week 2026 yang digelar di kawasan wisata Lawata. Event ini pun dimanfaatkan untuk memamerkan keindahan tenunan khas Bima.
Di bawah langit sore, panggung sederhana yang menghadap ke laut itu perlahan menjelma ruang perjumpaan antara tradisi dan gaya masa kini.
âSatu per satu model melangkah anggun di atas panggung. Tenunan Bima yang selama ini lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat tampil dalam wajah baru. Kain-kain dengan warna dan motif khas Bima terwujud dalam busana anggun yang bergerak seirama langkah para peraga.
âDi tepian panggung, para wisatawan mancanegara menyaksikan pertunjukan dengan takjub. Kamera dan telepon genggam sesekali terangkat, mengabadikan ragam busana tenun yang diperagakan oleh anak-anak hingga orang dewasa.
âSetiap gerak peraga tidak sekadar memamerkan rancangan busana. Di balik tiap helai kain yang dikenakan, tersirat keterampilan jemari para penenun serta nilai-nilai budaya masyarakat Bima yang diwariskan lintas generasi.
Sore itu, Pantai Lawata menjadi titik temu antara budaya lokal dan wisatawan dunia. Laut menjadi latar, tenunan menjadi bahasa, dan langkah para peraga membawa identitas budaya Bima ke hadapan pengunjung dari berbagai negara.
âAjang Lawata Fashion Week ini diikuti oleh 112 peserta dari Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) se-Kota Bima. Rinciannya terdiri atas 57 peserta tingkat sekolah dasar, 42 perempuan dewasa, dan 13 laki-laki dewasa. Seluruh peserta mengenakan busana berbahan utama tenunan khas Bima.
Peragaan ini memperlihatkan bagaimana tenunan Bima mampu berkembang melampaui fungsi tradisionalnya. Motif dan warna yang biasa hadir dalam pakaian sehari-hari masyarakat dikemas ulang dengan sentuhan kreativitas yang segar.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Bima, H. Sukarno, menegaskan pentingnya pemanfaatan tradisi untuk mendorong perekonomian daerah.
ââTenunan khas Bima tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif,â ujarnya. Ia menambahkan bahwa pendekatan kreatif ini akan memperluas fungsi tenunan sekaligus menjaga kelestariannya di tengah masyarakat.
âDukungan senada disampaikan Wali Kota Bima, H. A. Rahman H. Abidin.
âIni merupakan panggung kreativitas, panggung budaya, dan panggung seni bagi anak-anak muda untuk menyalurkan bakat dan kemampuannya,â tutur Rahman. Melalui wadah ini, ia berharap hasil karya desainer lokal mampu menembus pasar nasional hingga internasional.
Kawasan Pantai Lawata tak hanya menjadi ruang pamer busana. Pada 12 September 2026, panggung berlanjut lewat kemeriahan Lawata Classic Dangdut Night yang meleburkan masyarakat lokal dan para peserta Sail to Indonesia dalam irama musik daerah.
Di sekitarnya, etalase bazar UMKM turut riuh menawarkan produk-produk lokal kepada wisatawan.
âBagi Rubiah, salah seorang perajin UMKM, momen ini membawakan harapan baru. "Saya sangat senang ada kunjungan wisatawan mancanegara sehingga produk lokal bisa lebih dikenal. Harapannya event seperti ini terus tumbuh dan makin sering digelar," tuturnya.
âPerjalanan para wisman yang berasal dari Swedia, Inggris, hingga Selandia Baru ini diisi dengan menjelajahi jejak sejarah dan budaya Bima. Mereka menjadwalkan kunjungan ke Car Free Day Amahami, Istana Bima, sentra kriya Kelurahan Ntobo, Kompleks Makam Raja Dana Traha, hingga lanskap tradisional Uma Lengge di Wawo.
âTahun ini, Sail to Indonesia Yacht Rally menetapkan 16 titik persinggahan. Kota Bima yang pernah menjadi tuan rumah serupa pada 2007, kembali terpilih berkat kesiapannya menyambut turis mancanegara, sementara beberapa daerah lain seperti Buton, Selayar, dan Kolaka belum dapat disinggahi tahun ini.
âPelayaran yang menghubungkan Labuan Bajo, Kota Bima, hingga Kabupaten Sumbawa ini menegaskan posisi Pulau Sumbawa sebagai jembatan wisata bahari menuju Mandalika.
Di Pantai Lawata, potensi itu diwujudkan lewat langkah-langkah anggun para peraga busana. Dari jemari penenun lokal, keanggunan tenun Bima bergerak mengetuk mata dunia.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pemerintah Siapkan Program Desa Tematik Perikanan, Desa-Desa Siap Jadi Motor Ekonomi Baru
-
El Nino Makin Ganas Bikin Suhu Dunia Makin Panas Mendidih
-
Mural Lingkungan Warnai Kampung Bahari Tambaklorok Semarang
-
3 Jembatan Garuda Perintis Merah Putih Diresmikan di Bima, Akses Warga Kini Makin Mudah
-
IHSG Hari Ini Ditutup Hijau, Optimisme Ekonomi Kalahkan Kekhawatiran Pasar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.