Atasi Antrean Panjang di SPBU, Pertamina Siagakan Dua Kapal Minyak Pasok BBM di Sulsel

Senin, 14 Sep 2026, 12:08 WIB

MAKASSAR - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menginstruksikan PT Pertamina Patra Niaga Sulawesi menambah pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dengan menyiagakan dua kapal minyak guna percepatan pasokan mengurai fenomena antrean pada semua SPBU di wilayah Sulawesi Selatan.

"Untuk stok di Sulsel sekitar 16.000 KL. Konsumsi Pertalite kurang lebih 2.000-an Kilo Liter (per hari), kita rata-ratakan saja sekitar delapan sampai dengan 16 hari (ketahanan). Untuk solar konsumsinya 1.800 KL (per hari)," kata Kepala BPH Migas Wahyudi di Makassar, Senin.

Menurut dia, apabila ketahanan stok berkurang maka akan ditambahkan dengan mendatangkan dua kapal pengangkut BBM yang disiagakan dari Kilang Minyak di Tuban, Jawa Timur dan Kilang Minyak di Balikpapan, Kalimantan Timur untuk menyuplai BBM.

Ket. Foto: Suasana antrean panjang yang dijaga aparat kepolisian di SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan depan Kantor Gubernur Sulsel, di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (13/9). — Sumber: Antara foto

"Tapi tergantung, kalau nanti delapan hari (mulai berkurang) maka satu kapal turun, kurang lebih nambah delapan hari (ke depan), dan itu tidak pernah turun (volumenya) di lebih rendah. Untuk solar juga demikian sama," tuturnya.

Wahyudi mengemukakan, satu kapal minyak tersebut mengangkut dan membawa BBM 16.000 KL dari kilang minyak. Jika dihitung rerata konsumsi BBM di wilayah Sulsel per hari diperkirakan 2.000 KL, dan Solar 1.800 KL. Sedangkan stok BBM non subsidi masih bisa bertahan 30 hari.

"Jadi, ini sudah diukur dan sudah dijadwalkan oleh Pertamina Patra Niaga suplainya dari kilang yang ada. Di Kilang Tuban, dan Kilang di Balikpapan. Jadi aman. Perjalanannya berapa hari dari sini?, kurang dari dua hari. Kami sudah pastikan semuanya aman," ucap mantan Anggota Komite BPH Migas ini.

Untuk pengiriman BBM melalui kapal, kata dia, juga dijalankan secara kontinu dan terjadwal dua sampai tiga hari sudah dikirim dari kilang yang ada di Tuban maupun Balikpapan ke Sulsel.

Secara kontinu suplai juga dijaga dengan kapal, baik itu dari Tuban maupun dari Balikpapan, termasuk Biosolar. Kondisinya ketahanan BBM saaat ini masih normal. Rata-rata stok yang tersimpan antara tujuh sampai dengan 12 hari ke depan dan terjaga dengan baik.

Sejauh ini, BBM Pertalite di Sulsel stoknya masih 80 persen, setelah dicek. Namun, sejak terjadinya antrean panjang, pengiriman ditambah setiap harinya dua kali DO atau drop order ke SPBU. Satu pengiriman mobil tanki itu volume BBM berisi 24 KL.

"Kalau satu hari itu konsumsinya, sebelum terjadi antrian jualan pertalitenya 24 KL sampai 25 KL per hari. Kalau sekarang, tertinggi bisa mencapai 51 KL (per hari), jadi cukup besar. Dan itu tiap hari (BBM) dikirim," katanya menampik adanya isu pengiriman BBM ke SPBU dikurangi.

Ia menekankan, para prinsipnya masyarakat tak perlu khawatir bahwa ketersediaan BBM kurang, sebab stoknya tersedia. Selain itu, menggunakannya secara bijak dan wajar dengan tidak membeli secara berlebihan.

"Sebenarnya kebutuhannya pas, kalau mengisi untuk dua hari sekali, tidak usah berlebihan. Tadi kita tarik data, kebutuhannya ada 0,6 liter per hari, ada yang satu sampai tiga liter per hari, (di luar transportasi umum) kurang lebih sekitar itu. Kalau nambah berlebihan, itu buat apa," kata sarjana teknik mesin ini menganalisa.

Menurutnya, jika dilihat konsumen yang mengantre membeli BBM pada saat siang menjelang sore, rata-rata pekerja mengisi bensin untuk persiapan besok bekerja. Sedangkan saat malam hari mengantre, pakai pakaian seadanya, tanpa helm. Bisa jadi mereka tidak mau panas-panas, makanya dibuka SPBU 24 jam.

Sebelumnya, salah seorang pengemudi bajaj memprotes pembatasan pembelian BBM subsidi maksimal Rp50 ribu untuk kendaraan roda dua dan Rp300 ribu untuk roda empat di SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan. Sementara Bajaj-nya beroda tiga dengan kapasitas maksimal 15 liter, ikut syarat roda dua.

"Saya minta diisi Rp80 ribu supaya bisa jalan cari penumpang satu hari, tapi dibatasi hanya bisa diisi Rp50 ribu. Jelas itu tidak cukup, makanya saya protes, kasihan kita ini driver (pengemudi daring), tapi tidak digubris. Perhatikan juga kami ini pak, harusnya adil," tutur Khalid dengan nada kecewa.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.