• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Apa Itu 'Cloud Seeding', T...

Apa Itu 'Cloud Seeding', Teknologi untuk Memicu Hujan dari Awan? Kenali Disini!

Senin, 14 Sep 2026, 20:09 WIB

JAKARTA - Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda membuat abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Lampung. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada penerbangan karena abu vulkanik dapat membahayakan operasional pesawat.

Untuk membantu mengurangi dampak sebaran abu tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada Minggu (6/9). Salah satu teknik yang digunakan adalah menstimulasi awan agar menghasilkan hujan. Jika tidak terdapat pertumbuhan awan hujan yang memadai, BNPB bersama BMKG juga menyiapkan metode water mist untuk membantu mengurai partikel abu di wilayah terdampak.

Ket. Foto: Pesawat Cessna 208 Caravan PK-SNM BNPB yang melaksanakan misi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) Jawa Tengah lepas landas dari Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Kota Semarang, Jawa Tengah. — Sumber: ANTARA/Aji Styawan

Upaya tersebut membuat istilah cloud seeding atau penyemaian awan kembali menjadi perhatian. Teknologi ini sering disebut sebagai "hujan buatan", meski sebenarnya manusia tidak bisa begitu saja menciptakan hujan dari langit yang cerah.

Lantas, apa itu cloud seeding dan bagaimana teknologi ini bisa membantu memicu turunnya hujan?

Apa itu cloud seeding?

Cloud seeding merupakan teknik penyemaian awan yang bertujuan memengaruhi proses pembentukan hujan di dalam awan.

Sederhananya, teknologi ini bekerja dengan memasukkan bahan tertentu yang terdiri dari natrium klorida (NaCl) / garam halus, urea, perak Iodida, hingga karbon dioksida padat ke dalam awan yang sudah memiliki potensi untuk menghasilkan hujan. Bahan tersebut membantu proses pembentukan atau pertumbuhan butiran air maupun kristal es sehingga ukurannya dapat menjadi lebih besar dan akhirnya jatuh ke permukaan sebagai hujan.

Karena itu, cloud seeding bukan berarti membuat awan dari kondisi langit yang kosong. Awan yang sesuai tetap menjadi syarat utama.

Tanpa awan yang memiliki kandungan air dan kondisi atmosfer yang mendukung, penyemaian tidak serta-merta menghasilkan hujan.

Bagaimana cara kerja cloud seeding?

Prosesnya diawali dengan pemantauan kondisi atmosfer. Tim meteorologi mencari awan yang memiliki karakteristik sesuai untuk dilakukan penyemaian.

Setelah awan potensial ditemukan, pesawat dapat digunakan untuk membawa dan menyebarkan bahan semai ke wilayah awan yang telah ditentukan.

Bahan tersebut kemudian membantu proses fisik di dalam awan. Pada awan tertentu, partikel semai dapat menjadi inti tempat uap air berkondensasi atau membantu pembentukan kristal es.

Seiring proses tersebut berlangsung, butiran air atau kristal es dapat tumbuh semakin besar. Ketika beratnya sudah cukup untuk mengatasi gaya yang menahannya tetap berada di awan, butiran tersebut kemudian jatuh ke permukaan sebagai presipitasi atau hujan.

Jadi, pesawat bukanlah "mesin pembuat hujan". Pesawat hanya menjadi salah satu sarana untuk mengantarkan bahan semai ke awan yang sudah memenuhi kondisi tertentu.

Bahan apa yang digunakan?

Bahan yang digunakan dalam penyemaian awan dapat berbeda-beda, tergantung jenis awan dan metode yang diterapkan.

Salah satu bahan yang umum dikenal adalah partikel higroskopis, seperti garam, yang dapat membantu proses pertumbuhan tetesan air pada awan hangat. Pada sistem awan yang melibatkan proses pembekuan, bahan tertentu juga dapat digunakan untuk membantu pembentukan kristal es.

Pemilihan bahan, jumlah, waktu, dan lokasi penyemaian tidak dilakukan sembarangan. Semua disesuaikan dengan analisis kondisi atmosfer dan tujuan operasi.

Mengapa tidak semua awan bisa dibuat hujan?

Ini bagian yang sering disalahpahami dari istilah "hujan buatan".

Tidak semua awan dapat disemai. Tim OMC harus mencari awan dengan kondisi yang mendukung, kemudian menentukan kapan dan di mana penyemaian dilakukan.

Keberadaan awan saja belum cukup. Kondisi suhu, kelembapan, angin, kandungan air, perkembangan awan, serta dinamika atmosfer juga perlu diperhitungkan.

Karena itu, OMC sangat bergantung pada data cuaca dan pemantauan atmosfer secara real time.

BNPB bahkan pernah menjelaskan bahwa OMC tidak dapat dilakukan ketika pertumbuhan awan hujan belum memadai. Artinya, ketika kondisi alam tidak mendukung, penyemaian tidak bisa dipaksakan.

Bagaimana cloud seeding digunakan untuk abu Anak Krakatau?

Dalam penanganan erupsi Gunung Anak Krakatau, BNPB menggunakan OMC sebagai salah satu upaya untuk membantu meluruhkan abu vulkanik yang masih berada di atmosfer.

Jika terdapat awan yang sesuai, tim dapat melakukan penyemaian untuk menstimulasi terjadinya hujan. Air hujan yang turun diharapkan membantu membawa partikel abu dari atmosfer ke permukaan sehingga konsentrasinya di udara dapat berkurang.

Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan OMC dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan keselamatan penerbangan. Hal ini penting karena sebaran abu vulkanik Anak Krakatau sebelumnya telah mengganggu sejumlah bandara.

Namun, apabila awan hujan tidak tumbuh dengan cukup, BNPB menyiapkan pendekatan lain berupa water mist. Teknik tersebut ditujukan untuk membantu mengurai partikel abu yang berbahaya di wilayah terdampak, termasuk DKI Jakarta, Banten, dan Lampung.

Di Indonesia, modifikasi cuaca telah digunakan dalam berbagai kebutuhan mitigasi bencana.

Selain membantu menangani sebaran abu vulkanik, OMC juga dapat digunakan untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Hujan yang dihasilkan atau ditingkatkan di wilayah sasaran dapat membantu membasahi lahan dan mengurangi kondisi kering yang mendukung penyebaran api.

BNPB juga menggunakan OMC untuk membasahi lahan gambut sebagai bagian dari upaya pencegahan agar kawasan tersebut tidak mudah terbakar kembali.

Pada kondisi tertentu, modifikasi cuaca juga dapat digunakan dalam mitigasi risiko hujan ekstrem dengan memanfaatkan awan yang sudah ada sebelum sistem awan tersebut berkembang lebih jauh atau mencapai wilayah yang menjadi target mitigasi. Ant

  • Cloud Seeding"

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.