Furnitur RI Raup Potensi Transaksi Rp39,7 Miliar di India

Jumat, 11 Sep 2026, 18:50 WIB

JAKARTA – India menjadi salah satu pasar potensial bagi produk furnitur Indonesia seiring pertumbuhan kebutuhan terhadap produk interior dan perlengkapan rumah tangga.

Peluang tersebut perlu dimanfaatkan dengan memperkuat kualitas, desain, serta daya saing harga agar produk furnitur Indonesia mampu memenuhi selera dan kebutuhan konsumen India.

Ket. Foto: Sejumlah pengunjung melihat produk furnitur asal Indonesia dalam pameran INDEXPLUS 2026 di New Delhi, India pada Agustus 2026. — Sumber: ANTARA/ HO-Kemendag

Ekspansi ke pasar India juga dapat menjadi momentum bagi industri furnitur nasional untuk memperluas pasar ekspor sekaligus meningkatkan nilai tambah produk berbasis kayu dan kerajinan lokal.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut produk furnitur Indonesia mencatatkan potensi transaksi sebesar 2,26 juta dolar AS atau Rp39,7 miliar dalam pameran INDEXPLUS 2026 di New Delhi, India.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi mengatakan kementeriannya mengajak pelaku usaha Indonesia untuk melirik India sebagai salah satu pasar ekspor furnitur yang potensial.

"Kemendag mengajak pelaku usaha furnitur Indonesia, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk mempelajari tren konsumen produk furnitur India dan semakin menggencarkan ekspor," kata Puntodewi dalam keterangan di Jakarta, Jumat (11/9).

Puntodewi menyampaikan makin terbukanya peluang ekspor furnitur Indonesia ke India sejalan dengan perkembangan preferensi konsumen urban India.

Di kota-kota besar seperti Mumbai, Delhi National Capital Region, dan Bengaluru, selera konsumen mulai bergeser dari furnitur bergaya tradisional menuju desain minimalis-modern atau scandinavian-industrial.

Dalam pameran ini, Indonesia melibatkan empat pelaku usaha yang memamerkan produk seperti furnitur dalam paduan desain kontemporer, keahlian craftsmanship, material premium, serta kekayaan warisan budaya Indonesia.

Realisasi dan potensi transaksi yang dihasilkan turut didukung melalui fasilitasi penjajakan bisnis (business matching) secara proaktif oleh Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Chennai sebelum dan sesudah pameran.

Kepala ITPC Chennai Amesta Yisca Putri menyampaikan komitmen perwakilan perdagangan RI di India untuk merealisasikan setiap peluang ekspor yang ada. Salah satunya melalui fasilitasi business matching.

"Kami aktif memfasilitasi business matching langsung dengan para pelaku usaha dan pembeli potensial di India. Dengan begitu, kami dapat memastikan potensi kerja sama terealisasi menjadi transaksi konkret," kata Amesta.

Amesta juga menyampaikan, produk furnitur Indonesia dikenal unggul di India dalam hal detail pengerjaan (craftsmanship) dan estetika alami.

Kepatuhan pelaku usaha Indonesia terhadap aspek legalitas dan keberlanjutan produk, melalui sertifikasi Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK), juga turut memberikan nilai tambah dan rasa aman bagi mitra dagang di India.

Selain memiliki produk yang sesuai dengan preferensi pasar, pelaku usaha Indonesia perlu memperhatikan daya saing dan ketentuan perdagangan yang berlaku di India. Salah satunya, melalui pemanfaatan skema ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA) yang dapat memberikan keuntungan tarif bagi produk Indonesia sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Eksportir juga perlu memperhatikan ketentuan teknis dari Pemerintah India melalui Bureau Indian Standards (BIS).

Pemerintah India telah menerapkan Furniture (Quality Control) Order 2025 terhadap sejumlah produk furnitur, antara lain, kursi kerja, kursi dan bangku umum, meja dan meja kerja, unit penyimpanan, tempat tidur, serta tempat tidur susun.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.