Bukan Sekadar Volume, Investasi Harus Mampu Mendorong Produktivitas

Kamis, 10 Sep 2026, 03:05 WIB

JAKARTA - Tantangan Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan bukan hanya meningkatkan volume investasi, tetapi juga memastikan investasi tersebut mampu mendorong produktivitas.

Dalam diskusi yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas dan Asian Development Bank Institute (ADBI) di Jakarta, Rabu (9/9), Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Noor Faisal Achmad mengatakan investasi tetap menjadi faktor penting untuk menopang pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak cukup untuk menghasilkan pertumbuhan tinggi secara berkelanjutan.

Ket. Foto: Indonesia katanya perlu lebih fokus pada peningkatan produktivitas dan efisiensi investasi agar modal yang masuk dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian. — Sumber: afp

Indonesia katanya perlu lebih fokus pada peningkatan produktivitas dan efisiensi investasi agar modal yang masuk dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian.

Sejumlah persoalan struktural masih menjadi tantangan, antara lain kesenjangan keterampilan, tingkat informalitas yang tinggi, intermediasi keuangan yang relatif terbatas dan mahal, serta aturan terkait kemudahan berusaha dan pasar tenaga kerja yang perlu dibuat lebih terprediksi.

Berbagai persoalan tersebut saling berkaitan. Kesenjangan keterampilan dapat menekan produktivitas perusahaan, sementara produktivitas yang rendah membatasi peningkatan upah formal dan basis penerimaan pajak.

Di sisi lain, pembiayaan yang belum optimal dapat menghambat peningkatan kapasitas usaha.

Dalam jangka panjang, ia menyebut Kementerian Keuangan juga mendorong penguatan sektor manufaktur sebagai salah satu mesin produktivitas, ekspor, pembelajaran teknologi dan penciptaan lapangan kerja formal.

“Manufaktur perlu kembali memperoleh momentum sebagai mesin produktivitas, ekspor, pembelajaran teknologi dan penciptaan lapangan kerja formal,” katanya.

Ia menekankan pengembangan manufaktur bukan sekadar meningkatkan aktivitas pengolahan, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan nilai tambah domestik yang lebih tinggi, memperkuat kemampuan teknologi dan mendiversifikasi pasar.

Kebijakan sektor prioritas perlu menghasilkan tiga capaian terukur, yakni peningkatan investasi dan ekspor, pengurangan ketergantungan pada impor strategis melalui penguatan kemampuan domestik yang kompetitif, serta penciptaan lebih banyak lapangan kerja yang layak.

Dia juga menekankan pentingnya menjaga aturan fiskal sembari memperbaiki komposisi penerimaan dan belanja, mempertahankan kesinambungan kebijakan internasional, serta meningkatkan produktivitas faktor total (total factor productivity), dan efisiensi investasi.

Fokus kebijakan jelasnya tidak seharusnya hanya pada besarnya akumulasi modal, tetapi juga pada kemampuan investasi tersebut menghasilkan peningkatan produktivitas.

Output Belum Optimal

Pada kesempatan lain, Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendi Manilet menilai dengan rasio investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang bertahan di sekitar 30 persen, sementara pertumbuhan ekonomi masih berkisar 5 persen, menunjukkan tambahan modal belum menghasilkan output secara optimal.

“Ini tecermin dari ICOR yang masih relatif tinggi, sekitar 6. Artinya, Indonesia membutuhkan modal yang cukup besar untuk menghasilkan tambahan output, sementara sejumlah negara ASEAN mampu menggunakan modal secara lebih efisien,” katanya.

Masalah utamanya bukan investasi yang terlalu sedikit, melainkan kualitas investasi dan keterkaitannya dengan ekonomi domestik. Ia mencontohkan banyak investasi masih terkonsentrasi pada sektor yang padat modal dan bernilai tambah relatif rendah.

“Hilirisasi menjadi salah satu contoh. Nilai investasinya memang besar, tetapi sebagian proyek masih terkonsentrasi pada mineral tertentu, menyerap tenaga kerja relatif sedikit, dan belum selalu menciptakan transfer teknologi serta rantai pasok domestik yang kuat,” jelasnya.

  • tantangan perekonomian

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.