Bahaya, Skor RI Jauh dari Ambang untuk Lolos “Middle Income Trap”
📅 Kamis, 10 Sep 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiTransformasi tersebut membutuhkan pergeseran menuju pertumbuhan yang didorong oleh produktivitas tinggi, inovasi, serta penguatan institusi. Salah satu pondasi penting untuk mendukung transformasi yaitu peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
“Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, pemerintah perlu meningkatkan kualitas pendidikan, memperbaiki sistem kesehatan, dan memperkuat perlindungan sosial,” katanya.
Visi pembangunan jangka panjang jelasnya bukan sekadar memprediksi kondisi masa depan, melainkan membentuk masa depan yang ingin dicapai suatu negara. Sebab itu, perencanaan pembangunan perlu diperkuat agar pemerintah tidak hanya mampu merespons perubahan dalam jangka pendek, tetapi juga dapat mengantisipasi berbagai risiko dan peluang yang muncul. Apalagi, tantangan pembangunan kini semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, bencana yang disebabkan aktivitas manusia, hingga bencana alam yang sulit dihindari.
Peringatan Dini
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Telisa Aulia Falianty yang diminta tanggapannya mengatakan persoalan utama Indonesia bukan pada potensi pertumbuhan, tetapi kemampuan mengubah pertumbuhan menjadi produktivitas dan nilai tambah yang berkelanjutan.
Skor 0,44 dari ADBI sebagai sinyal bahaya. “Skor 0,44 merupakan early warning bahwa Indonesia belum berada pada jalur yang cukup kuat untuk memastikan keluar dari middle-income trap,” tegas Telisa.
Tantangannya kata Telisa, bukan sekadar mengejar pertumbuhan tinggi, termasuk target 8 persen. Pemerintah harus memastikan kualitas pertumbuhan itu mampu mendorong transformasi struktural. Sebab, pertumbuhan tinggi tanpa transformasi struktural justru berisiko.
“Pertumbuhan tinggi tanpa transformasi struktural berisiko hanya memperbesar output tanpa cukup meningkatkan kapasitas produktif ekonomi,” kata Telisa.
Temuan ADBI kata Telisa menjadi penting karena menunjukkan bahwa transformasi struktural, kualitas institusi, dan political feasibility merupakan faktor yang sangat menentukan. “Ini mempertegas bahwa agenda keluar dari middle-income trap bukan hanya agenda ekonomi, tetapi juga agenda reformasi institusi dan tata kelola pembangunan,” katanya.
Ia pun mendorong perlunya pergeseran arah kebijakan. “Prioritas kebijakan perlu bergeser dari growth-oriented menjadi productivity-led growth, dengan reformasi struktural yang konsisten, feasible secara politik, dan mampu menjaga stabilitas, inklusivitas, serta keberlanjutan,” tegasnya.
Pada akhirnya, keberhasilan tidak diukur dari seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi, tetapi sejauh mana pertumbuhan tersebut menghasilkan pekerjaan yang layak, meningkatkan produktivitas dan nilai tambah domestik, memperluas kesejahteraan, serta memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!