Kemenekraf Pasang Rem: AI Boleh Canggih, Kreativitas Manusia Jangan Tergusur

Selasa, 08 Sep 2026, 17:35 WIB

JAKARTA – Pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) kini semakin meluas dan mulai menjadi bagian dari berbagai aktivitas, mulai dari bisnis, pemerintahan, hingga kehidupan sehari-hari.

Teknologi ini menawarkan peluang untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas, namun di saat yang sama membutuhkan kesiapan sumber daya manusia serta tata kelola agar penggunaannya tetap aman, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat nyata.

Ket. Foto: Ilustrasi-Suasana World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai World Expo Exhibition and Convention Center, Shanghai, Tiongkok, — Sumber: ANTARA/ Desca Lidya Natalia

Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf)/ Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendorong pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) dengan pendekatan human-centric untuk memastikan manusia tetap menjadi pusat dalam proses penciptaan karya kreatif.

Direktur Kreativitas Teknologi Kementerian Ekraf Dandy Yudha Feryawan mengatakan kehadiran AI tidak serta-merta menghilangkan peran manusia dalam menghasilkan karya. Menurutnya, perlu dibedakan antara karya yang dibuat dengan bantuan AI (AI-assisted) dan karya yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI (AI-generated).

“Penggunaan AI sebagai alat bantu tidak otomatis membuat sebuah karya kehilangan orisinalitas. Sebaliknya, hal yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana manusia memberikan kontribusi kreatif dan memiliki kendali atas hasil akhirnya. AI bisa menghasilkan sesuatu, tetapi manusia yang menentukan apa yang paling berarti dari karya itu,” ujar Dandy dalam keterangan yang diterima, Selasa (8/9).

Menurut Dandy, pendekatan human-centric menjadi semakin penting seiring pemanfaatan AI berkembang di 21 subsektor ekonomi kreatif. Pemerintah perlu memastikan perkembangan teknologi tetap berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap kreativitas dan hak para kreator.

Dalam konteks hak cipta, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 mendefinisikan pencipta sebagai seorang atau beberapa orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama menghasilkan suatu ciptaan yang bersifat khas dan pribadi.

Karena itu, kontribusi manusia menjadi salah satu aspek penting dalam menentukan karakter dan autentisitas sebuah karya. Kontribusi tersebut dapat berupa ide, pilihan, ekspresi, pengalaman, hingga keputusan dalam melakukan kurasi terhadap hasil yang dibuat menggunakan AI.

Dandy juga menyoroti sejumlah tantangan yang muncul seiring perkembangan AI, antara lain penggunaan karya sebagai data latih, kepemilikan hak cipta, serta traceability atau kemampuan menelusuri keterlibatan manusia dalam proses penciptaan.

“Hal ini menjadi semakin penting ketika AI membuat proses produksi konten menjadi jauh lebih mudah serta cepat. Saat kemampuan teknis untuk menghasilkan karya mudah diakses, nilai manusia justru semakin terletak pada ide, perspektif, pengalaman, selera, konteks, dan kemampuan melakukan kurasi,” katanya.

Menurutnya, pemerintah bersama ekosistem ekonomi kreatif perlu menemukan keseimbangan antara mendorong inovasi teknologi dan memberikan perlindungan serta kepastian bagi kreator.

Untuk itu, Kementerian Ekraf mendorong arah pemanfaatan teknologi dengan prinsip creating with AI. Dalam pendekatan tersebut, AI ditempatkan sebagai alat untuk memperluas kemampuan manusia dalam bereksperimen dan berkarya, bukan menggantikan peran manusia sebagai pusat proses kreatif.

Dengan pendekatan tersebut, perkembangan AI diharapkan dapat memperkuat produktivitas dan eksplorasi kreator sekaligus tetap mempertahankan ide, makna, nilai, serta karakter manusia dalam setiap karya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.