“Hati Mini” yang Bisa Disuntikkan untuk Atasi Kelangkaan Donor
📅 Selasa, 08 Sep 2026, 07:13 WIB | Oleh: Haryo BronoMenurutnya, penyuntikan hepatosit tanpa material pendukung membuat sel sulit berintegrasi secara efisien dengan jaringan tubuh. Mikrosfer hidrogel memberikan semacam niche atau tempat sel hati dapat tetap berada di lokasi yang ditentukan dan lebih cepat terhubung dengan sirkulasi darah tubuh.
Fibroblas yang turut dimasukkan dalam material berfungsi membantu mempertahankan kehidupan hepatosit sekaligus mendorong pertumbuhan pembuluh darah menuju jaringan baru.
Ultrasonografi
Tim MIT juga mengembangkan metode penyuntikan yang dipandu ultrasonografi bersama Nicole Henning, peneliti spesialis ultrasonografi di Koch Institute. Teknik tersebut memungkinkan material disuntikkan secara lebih terarah.
Setelah prosedur, ultrasonografi dapat digunakan untuk memantau keberadaan dan kestabilan jaringan yang terbentuk tanpa membutuhkan prosedur invasif tambahan. Dalam eksperimen terhadap tikus, para peneliti menyuntikkan campuran tersebut ke jaringan lemak di bagian perut yang dikenal sebagai perigonadal adipose tissue.
Sel-sel hati kemudian berkumpul membentuk struktur yang relatif stabil dan padat. Seiring waktu, pembuluh darah tumbuh ke dalam jaringan tersebut sehingga menyediakan nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan hepatosit untuk bertahan hidup.
“Pembuluh darah baru terbentuk tepat di dekat hepatosit. Itu sebabnya sel-sel tersebut dapat bertahan hidup,” kata Kumar.
Sel hati tetap hidup selama delapan minggu penelitian. Selama periode tersebut, hepatosit juga terus melepaskan protein khusus ke dalam aliran darah tikus.
Temuan tersebut menjadi indikasi awal bahwa jaringan hati hasil transplantasi dapat mempertahankan aktivitas dalam jangka waktu tertentu. Namun, penelitian tersebut masih berada pada tahap praklinis dan belum membuktikan efektivitas maupun keamanan teknologi pada manusia.
Tidak Harus Berada di Dekat Hati
Salah satu karakteristik yang menarik dari pendekatan ini adalah lokasi penempatan jaringan tidak harus berdekatan dengan organ hati yang rusak. Dalam eksperimen awal, jaringan hati mini ditempatkan pada jaringan lemak di rongga perut. Untuk pengembangan selanjutnya, para peneliti mempertimbangkan lokasi lain seperti limpa atau area di sekitar ginjal.
Menurut Kumar, selama jaringan hasil transplantasi memiliki ruang yang cukup serta mendapatkan pasokan darah yang memadai, hepatosit tetap berpotensi menjalankan fungsi yang serupa dengan sel hati yang berada di dalam organ.
“Untuk sebagian besar gangguan hati, jaringan hasil transplantasi tidak harus berada dekat dengan hati,” ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!