Aktivitas Sejumlah Gunung Api Meningkat, Semeru dan Merapi Diwaspadai
📅 Selasa, 08 Sep 2026, 03:05 WIB | Oleh: Tim RedaksiSurabaya– Masyarakat diminta mewaspadai Gunung Semeru dan Gunung Merapi di tengah aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia yang terjadi dalam waktu berdekatan. Pakar Departemen Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Alutsyah Luthfian mengatakan kedua gunung tersebut perlu mendapat perhatian karena berada dekat dengan kawasan dengan konsentrasi penduduk tinggi.
“Kalau untuk gunung api yang perlu diwaspadai saat ini, saya pikir Semeru dan Merapi. Keduanya perlu mendapat perhatian, karena berada dekat dengan zona-zona pusat penduduk,” kata Fian, sapaan Alutsyah, sebagaimana diberitakan Antara di Surabaya, Senin (7/9).
Menurut dia, aktivitas beberapa gunung api yang terjadi hampir bersamaan tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan langsung. Setiap gunung memiliki sistem magmatik, siklus, dan karakteristik masing-masing.
“Gunung api itu punya siklus dan karakter masing-masing. Jadi, ketika beberapa gunung api aktif dalam waktu berdekatan, belum tentu aktivitasnya saling berkaitan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (FTG Unpad) Prof. Nana Sulaksana. Ia mengatakan perbedaan kedalaman dapur magma, jalur perjalanan magma, serta kondisi geologi dan batuan membuat aktivitas setiap gunung api tidak dapat langsung dikaitkan satu sama lain.
“Jadi secara langsung tidak ada hubungan antara satu gunung dengan gunung lainnya,” kata Nana di Sumedang, Jawa Barat, Senin.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul aktivitas sejumlah gunung api yang tercatat mengalami erupsi dalam periode berdekatan, antara lain Gunung Anak Krakatau, Gunung Ibu, Gunung Semeru, Gunung Lewotobi Laki-laki, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Sinabung.
Fian menilai Gunung Semeru perlu mendapat perhatian lebih karena perilaku erupsinya dinilai tidak selalu mudah diprediksi dan dapat mengalami letusan besar tanpa tanda yang mudah dikenali sebelumnya.
“Semeru ini lebih perlu diwaspadai karena perilaku letusannya tidak bisa diprediksi dengan baik. Kadang-kadang Semeru bisa meletus besar tanpa ada aba-aba sebelumnya,” katanya.
Pemantauan Geofisika
Lebih lanjut, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga tetap perlu dipantau. Menurut Fian, karakter gunung tersebut berbeda karena berada di lingkungan laut sehingga potensi longsoran tubuh gunung ke laut perlu menjadi perhatian dalam mitigasi.
Peristiwa longsoran tubuh Anak Krakatau ke laut pernah memicu tsunami Selat Sunda pada 2018. Namun, Fian mengingatkan masyarakat tidak menghubungkan aktivitas Anak Krakatau dengan Semeru maupun gunung api lainnya tanpa dukungan data ilmiah.
“Setiap gunung punya sistem magmatik sendiri. Jadi kita tidak bisa mengatakan karena Anak Krakatau aktif, kemudian Semeru ikut aktif atau sebaliknya,” ujarnya.
Nana mengatakan aktivitas Anak Krakatau dipantau menggunakan berbagai instrumen, antara lain seismograf untuk mendeteksi kegempaan akibat pergerakan magma dan perangkat geodetik berbasis GPS untuk mengukur perubahan tubuh gunung.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!