Transformasi Berlanjut, Telkom Perkuat Fundamental dan Kejar Target Pertumbuhan 2026

Senin, 07 Sep 2026, 16:45 WIB

JAKARTA - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) terus memperkuat transformasi bisnis untuk membangun fundamental perusahaan yang lebih sehat sekaligus menciptakan nilai jangka panjang. Perkembangan tersebut dipaparkan dalam Public Expose Live 2026 yang digelar secara daring pada Senin (7/9), dengan Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menjelaskan perkembangan transformasi TelkomGroup melalui empat pilar strategis TLKM 30.

Empat pilar tersebut mencakup operational & service excellence, streamlining, unlocking value, serta modus-operandi shift. Implementasi strategi tersebut diarahkan untuk membuat struktur bisnis TelkomGroup lebih fokus, meningkatkan visibilitas kinerja, serta memperjelas akuntabilitas pada masing-masing lini bisnis.

Ket. Foto: PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) terus memperkuat transformasi bisnis untuk membangun fundamental perusahaan yang lebih sehat sekaligus menciptakan nilai jangka panjang. Perkembangan tersebut dipaparkan dalam Public Expose Live 2026 yang digelar secara daring pada Senin (7/9). — Sumber: Telkom

Dalam agenda tersebut turut hadir Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Arthur Angelo Syailendra, Direktur Wholesale and International Service Telkom Budi Satria Dharma Purba, Direktur Enterprise and Business Service Telkom Veranita Yosephine, serta Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel Daru Mulyawan. Para jajaran direksi tersebut turut menyampaikan perkembangan kinerja Semester I 2026 sekaligus arah eksekusi transformasi untuk mencapai target perusahaan sepanjang tahun.

Salah satu fokus TLKM 30 adalah menyederhanakan struktur bisnis melalui pengurangan tumpang tindih kegiatan usaha serta penguatan pengelolaan dan pelaporan berbasis segmen. Saat ini, Telkom melakukan delayering bisnis ke dalam lima segmen utama, yaitu:

  • B2C
  • B2B Infrastructure
  • B2B ICT
  • International
  • Others dan Ancillary

Langkah tersebut menjadi bagian dari transisi Telkom menuju model Strategic Holding Company–Operating Company (HoldCo–OpCo). Model ini ditujukan untuk menciptakan struktur bisnis yang lebih terintegrasi, transparan, serta berorientasi pada penciptaan nilai.

“Sebagai bagian dari implementasi TLKM 30, delayering ini sangat penting karena kami ingin setiap bisnis di TelkomGroup memiliki akuntabilitas dan yang lebih jelas dan fokus pada bisnis inti, dengan visibilitas yang lebih baik terhadap kinerja, arus kas, dan investasi pada masing-masing bisnis,” ujar Dian.

Menurut Dian, struktur bisnis yang lebih sederhana juga memungkinkan Telkom mengambil keputusan strategis secara lebih cepat dan tepat. Perusahaan dapat menentukan arah sumber daya dan modal berdasarkan kebutuhan serta potensi masing-masing lini bisnis.

Dari sisi kinerja, Telkom membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp75,9 triliun hingga Semester I 2026. Angka tersebut tumbuh 3,9 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY).

Sementara itu, EBITDA Telkom meningkat 3,8 persen YoY menjadi Rp37,5 triliun dengan margin 49,4 persen. Laba bersih tercatat mencapai Rp10,6 triliun, tumbuh 1,4 persen YoY, sedangkan laba bersih ternormalisasi mencapai Rp11,3 triliun atau meningkat 6,2 persen YoY.

Kinerja tersebut ditopang oleh perbaikan monetisasi bisnis seluler serta penerapan disiplin operasional di lingkungan TelkomGroup. Perusahaan juga terus memperkuat efisiensi biaya dan memastikan alokasi modal diarahkan pada bisnis yang memiliki kontribusi strategis terhadap pertumbuhan jangka panjang.

Lebih dari 94 persen CAPEX Telkom dialokasikan untuk bisnis inti pada segmen B2C dan B2B Infrastructure. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga agar investasi tetap fokus pada area yang memiliki peran penting terhadap pengembangan bisnis.

“Secara keseluruhan, hasil Semester I menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan earnings yang tetap positif. Kami juga melihat perkembangan yang semakin baik pada profitabilitas, khususnya pada kuartal kedua,” kata Angelo.

Ia menambahkan, Telkom akan melanjutkan penerapan disiplin biaya dan menjaga kualitas pertumbuhan hingga akhir tahun. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung pencapaian target profitabilitas perusahaan sepanjang 2026.

Pada bisnis infrastruktur digital, Telkom terus mengoptimalkan potensi penciptaan nilai melalui segmen B2B Infrastructure. InfraNexia diarahkan menjadi neutral carrier yang tidak hanya melayani kebutuhan ekosistem TelkomGroup, tetapi juga memiliki peluang memperluas bisnis melalui pelanggan eksternal.

Telkom saat ini mempersiapkan spin-off tahap kedua InfraNexia yang ditargetkan selesai pada kuartal III 2026. Setelah proses tersebut rampung, InfraNexia diharapkan dapat beroperasi sebagai entitas utama yang menangani bisnis wholesale connectivity TelkomGroup dan menangkap peluang pertumbuhan yang lebih besar.

Penguatan juga dilakukan pada bisnis data center melalui NeutraDC. Pada Semester I 2026, pendapatan NeutraDC mencapai Rp867 miliar, tumbuh 11 persen YoY, dengan total kapasitas efektif mencapai 49,9 MW.

Permintaan terhadap fasilitas hyperscale data center atau HDC masih menunjukkan tren positif. Tingkat okupansi HDC Cikarang telah mencapai 96 persen, sementara HDC Batam ditargetkan mulai beroperasi pada Semester II 2026 dengan kapasitas awal 6 MW.

NeutraDC juga akan terus menambah kapasitas secara terukur melalui pertumbuhan organik maupun strategic partnership. Strategi tersebut dilakukan untuk menyesuaikan pengembangan kapasitas dengan kebutuhan pasar sekaligus menjaga disiplin investasi.

Sementara itu, segmen B2B ICT masih mencatatkan pertumbuhan positif selama periode berjalan. Pendapatan SME tumbuh 11,5 persen, sedangkan jumlah pelanggan IndiBiz meningkat 11,7 persen menjadi 756 ribu pelanggan.

Telkom juga terus memperkuat bisnis enterprise untuk menangkap peluang dari meningkatnya kebutuhan transformasi digital di berbagai sektor. Salah satu langkah yang disiapkan adalah rencana pengambilalihan 100 persen Digiserve untuk memperkuat kapabilitas B2B ICT dalam menyediakan solusi end-to-end bagi pelanggan.

Di segmen B2C, Telkomsel juga mempertahankan pertumbuhan di tengah kondisi makroekonomi dan persaingan industri yang dinamis. Pendapatan Telkomsel tumbuh 5,3 persen YoY menjadi Rp28,0 triliun, sementara EBITDA meningkat 10,3 persen dan laba bersih tumbuh 24,9 persen.

Perbaikan kinerja Telkomsel juga terlihat dari mobile ARPU yang naik 11,6 persen secara tahunan menjadi Rp46 ribu. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan basis pelanggan yang semakin terkonsolidasi serta fokus perusahaan terhadap kualitas pelanggan, pengalaman layanan, dan efisiensi operasional.

Telkomsel turut memperkuat fondasi jaringan melalui tambahan 100 MHz spektrum pada pita 700 MHz dan 2.600 MHz. Dengan tambahan tersebut, total portofolio spektrum Telkomsel meningkat menjadi 265 MHz.

Tambahan spektrum tersebut akan dimanfaatkan untuk memperkuat cakupan dan kapasitas jaringan, mendukung pengembangan 5G, serta meningkatkan kualitas pengalaman digital pelanggan. Pemanfaatannya dilakukan secara bertahap berdasarkan kebutuhan pasar dengan tetap memperhatikan produktivitas spektrum dan tingkat pengembalian investasi.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkomsel Daru Mulyawan mengatakan tambahan spektrum tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam membangun pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.

“Ke depan, tambahan 100 MHz spektrum akan semakin memperkuat kapasitas dan kualitas jaringan serta mendukung pengembangan 5G,” ujar Daru.

Memasuki Semester II 2026, Telkom akan mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus mendorong peningkatan profitabilitas. Fokus perusahaan mencakup monetisasi mobile data, perbaikan fixed broadband, efisiensi biaya, serta percepatan implementasi transformasi TLKM 30.

Berdasarkan pencapaian hingga Semester I, Telkom tetap mempertahankan guidance kinerja 2026. Perusahaan menargetkan pertumbuhan normalized revenue sebesar 1–3 persen serta margin EBITDA di atas 50 persen.

Perbaikan profitabilitas juga mulai terlihat pada kuartal II 2026 ketika margin EBITDA Telkom kembali berada di atas 50 persen. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa upaya efisiensi dan penguatan kinerja mulai memberikan dampak terhadap profitabilitas perusahaan.

“Dengan fundamental yang semakin kuat dan transformasi yang terus berjalan, kami yakin Telkom berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target 2026,” tutup Angelo.

Menurutnya, Telkom akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, profitabilitas, dan disiplin modal agar transformasi memberikan dampak nyata terhadap kinerja serta menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.