Legislator: Hilirisasi Kopi Gagal Jika Bahan Baku dan Kemasan Masih Impor!

Minggu, 06 Sep 2026, 20:50 WIB

JAKARTA-Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty menegaskan agenda hilirisasi kopi nasional belum akan berhasil jika ketergantungan terhadap bahan baku dan material impor belum ditekan. 

Pernyataan itu disampaikan Evita saat mengunjungi pabrik PT Santos Jaya Abadi, produsen kopi Kapal Api, di Semarang, Jumat (4/9) dikutip dari laman resmi DPR RI.

Ket. Foto: Komisi VII DPR RI menegaskan agenda hilirisasi kopi nasional belum akan berhasil jika ketergantungan terhadap bahan baku dan material impor belum ditekan — Sumber: Antara

Evita menilai Kapal Api sudah menjadi contoh keberhasilan hilirisasi. Dengan penguasaan sekitar 60% pasar kopi domestik dan ekspansi ke pasar global termasuk pembangunan pabrik di Jeddah, Arab Saudi, industri ini dinilai memiliki fondasi kuat untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Namun ia menyoroti adanya ketimpangan. Di sisi hilir, industri pengolahan sudah maju. Di sisi hulu dan bahan penunjang, ketergantungan impor masih tinggi.

Salah satu contohnya adalah gula rafinasi. Manajemen PT Santos Jaya Abadi menyampaikan telah beberapa kali mengupayakan izin membangun pabrik gula rafinasi sendiri. “Kalau kita bicara hilirisasi total, kita menginginkan kita ini ekspor, sudah tidak impor lagi,” tegas Evita, legislator Dapil Jawa Tengah III.

Menurutnya, pemerintah harus memberikan dukungan kebijakan bagi perusahaan yang serius membangun industri bahan baku di dalam negeri. “Jangan sampai kita bicara hilirisasi, tetapi bahan bakunya masih impor. Ini yang harus kita benahi,” ujarnya.

Masalah impor tidak hanya pada bahan baku utama. Evita juga menyoroti material pendukung seperti bahan kemasan berbasis plastik yang masih diimpor. Kondisi itu menunjukkan penguatan industri hilir harus dilakukan menyeluruh dari hulu sampai hilir.

Ia juga menyinggung praktik ekspor kopi dalam bentuk green bean atau biji mentah yang masih terjadi. Evita menilai itu menjadi pekerjaan rumah besar. “Yang kita inginkan ke depan, kita ekspor dan bisa mempergunakan bahan baku yang memang diproduksi di dalam negeri,” katanya.

Evita mengapresiasi standar produksi PT Santos Jaya Abadi yang dinilai bersih, higienis, dan sudah menerapkan teknologi pengolahan baik. Kapasitas itu membuktikan industri makanan dan minuman nasional mampu menghasilkan produk berstandar tinggi.

Ke depan, Komisi VII DPR RI akan membawa persoalan rantai pasok ini ke pembahasan bersama Kementerian Perindustrian. Evita mendorong kebijakan industri yang memberi ruang lebih besar bagi penguatan bahan baku domestik.

“Hilirisasi kopi bukan sekadar mengubah biji kopi menjadi produk kemasan. Ukurannya bukan hanya produknya sudah jadi, tetapi seberapa besar nilai tambah dan bahan baku itu bisa kita hasilkan sendiri di dalam negeri. Harapannya ekspor kita bukan barang mentah, tapi sudah dilakukan pengolahan di dalam negeri,” pungkasnya

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.