- Home
-
- Luar Negeri
-
- Hasil Rekayasa Ginjal Babi...
Hasil Rekayasa Ginjal Babi Genetika Bertahan 9 Bulan, Jadi Jembatan Sebelum Transplantasi Ginjal Manusia
Jumat, 04 Sep 2026, 22:10 WIBMASSACHUSETTS â Seorang pria berusia 66 tahun dengan gagal ginjal berhasil hidup selama sembilan bulan menggunakan ginjal babi yang telah direkayasa secara genetika. Masa bertahan tersebut menjadi yang terlama yang pernah tercatat dalam transplantasi ginjal babi ke manusia hidup.
Dari The Guaesian, kasus tersebut dialami Tim Andrews, pasien asal New Hampshire, Amerika Serikat. Ginjal babi yang ditransplantasikan kepadanya berfungsi selama 271 hari, membuat Andrews tidak perlu menjalani dialisis selama periode tersebut.
Transplantasi dilakukan tim ahli bedah di Massachusetts General Hospital pada Januari 2025. Ginjal berasal dari babi mini Yucatan bernama Wilma yang telah mengalami 69 perubahan pada genomnya untuk meningkatkan kompatibilitas dengan tubuh manusia.
Rekayasa genetika tersebut antara lain ditujukan untuk mengurangi risiko penolakan oleh sistem kekebalan tubuh serta menghilangkan risiko tertentu dari virus yang dapat berasal dari babi.
Keberhasilan ini memiliki fungsi lain yang belum pernah dicapai sebelumnya. Ginjal babi tersebut digunakan sebagai "jembatan" sementara hingga pasien memperoleh ginjal manusia dari donor.
Andrews kemudian menerima ginjal manusia dari donor yang telah meninggal setelah ginjal babi mulai mengalami kegagalan. Ginjal manusia tersebut dilaporkan masih berfungsi dengan baik selama enam bulan masa pemantauan.
Terhindar dari dialisis selama sembilan bulan
Andrews mengalami penyakit ginjal stadium akhir yang berkaitan dengan diabetes tipe 2. Sebelum transplantasi, peluangnya memperoleh ginjal manusia dalam lima tahun diperkirakan hanya sekitar 9 persen.
Setelah transplantasi ginjal babi, Andrews dapat kembali menjalani sejumlah aktivitas sehari-hari tanpa dialisis. Ia mengatakan dirinya bisa memasak, membersihkan rumah, serta berjalan-jalan bersama anjingnya, Cupcake.
Andrews menyebut pengalaman tersebut sebagai sebuah "mukjizat".
"Saya masih hidup, dan sudah lama saya tidak merasakannya," kata Andrews.
Namun, ginjal babi tersebut akhirnya mengalami kerusakan pada pembuluh darah setelah sekitar enam bulan. Kondisi itu kemudian berkembang menjadi kegagalan organ sehingga ginjal babi diangkat sekitar sembilan bulan setelah transplantasi.
Setelah kembali menjalani dialisis selama beberapa bulan, Andrews memperoleh ginjal manusia dari donor yang telah meninggal.
Kekurangan organ menjadi persoalan utama
Para peneliti mengatakan keberhasilan transplantasi tersebut berkaitan dengan persoalan utama dalam dunia transplantasi, yakni terbatasnya jumlah organ manusia yang tersedia.
"Kelangkaan organ adalah krisis terbesar yang kita hadapi saat ini dalam transplantasi," kata Leonardo Riella dari Mass General Brigham.
Menurut Riella, transplantasi merupakan pilihan pengobatan terbaik bagi pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir, tetapi jumlah organ manusia tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pasien.
"Visi kami adalah bahwa xenotransplantasi dapat membantu mengatasi kesenjangan ini â awalnya sebagai jembatan untuk menghentikan dialisis pada pasien sementara mereka menunggu ginjal donor manusia, dan berpotensi, seiring dengan penetapan keamanan dan daya tahan jangka panjang, sebagai terapi tujuan akhir tersendiri," ujarnya.
Belum menjadi terapi umum
Transplantasi organ hewan ke manusia atau xenotransplantasi telah lama diteliti sebagai salah satu cara mengatasi kekurangan organ.
Transplantasi ginjal babi ke manusia hidup sebelumnya pernah dilakukan pada 2024. Namun, pasien tersebut meninggal setelah 52 hari akibat masalah jantung yang tidak berkaitan dengan transplantasi.
Menurut laporan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet, belum ada penelitian sebelumnya yang mencatat kelangsungan hidup penerima ginjal babi lebih dari dua bulan.
Kasus Andrews juga menjadi yang pertama ketika ginjal babi digunakan sebagai jembatan menuju transplantasi ginjal manusia.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil tersebut berasal dari satu pasien tanpa kelompok pembanding. Kondisi Andrews juga melibatkan pemilihan pasien secara cermat serta perawatan medis intensif yang belum tentu tersedia di semua fasilitas kesehatan.
Penelitian dan uji klinis lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui keamanan serta daya tahan transplantasi ginjal babi dalam jangka panjang.
Tidak ditemukan antibodi baru terhadap jaringan manusia setelah transplantasi ginjal babi. Pemeriksaan juga tidak mendeteksi virus maupun patogen babi pada pasien selama masa pemantauan.
Riella mengatakan pasien yang bersedia mengikuti penelitian tahap awal memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi tersebut.
"Para pasienlah yang benar-benar menjadi pelopor di sini," kata Riella. "Dengan melangkah maju dan bersedia berpartisipasi dalam studi tahap awal ini, mereka memajukan ilmu pengetahuan."
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.