Jejak Kemegahan Sisi Eropa Istanbul di Kala Senja

Kamis, 03 Sep 2026, 18:24 WIB

ISTANBUL. TURKI - Istanbul, Turki, tidak hanya membelah dua benua, tetapi juga menyimpan peninggalan sekaligus saksi bisu era dua imperium raksasa, yakni Kekaisaran Bizantium dan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman).

Di sisi Eropa, Istana Topkapi salah satunya. Berada di bukit Sarayburnu yang menghadap langsung ke Selat Bosphorus dan Laut Marmara, istana dengan perpaduan gaya Ottoman, Bizantium, dan Persia itu berdiri megah.

Kompleks istana seluas 700 ribu meter persegi itu dibangun Sultan Mehmed II (1444–1445 dan 1451–1481) pada kurun waktu 1460–1478, menyusul penaklukan Istanbul, yang difungsikan sebagai kediaman utama sultan dan pusat pemerintahan hingga pertengahan abad ke-19.

Kompleks bangunan terbagi menjadi empat bagian, yakni Istana Luar yang mencakup bangunan penunjang dan pos penjagaan, lalu gedung dewan negara yang merupakan pusat administrasi kesultanan, kemudian sekolah istana, serta harem yang merupakan kediaman pribadi sultan.

Memasuki 1840-an, istana itu dinilai tidak lagi memadai untuk kebutuhan protokol negara, sehingga Istana Dolmabahçe dibangun antara tahun 1843 dan 1856 sebagai kediaman resmi serta pusat administrasi kekaisaran yang baru.

Tak lama setelah Republik Turki didirikan pada 29 Oktober 1923, Istana Topkapı beralih fungsi menjadi museum; museum pertama yang didirikan pada masa Republik.

Kini, salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO itu menjadi salah satu bangunan paling ikonik di Istanbul, khususnya di sisi Eropa. Istana meliputi bangunan dengan kubah tinggi dan bangunan tempat tinggal yang terbuat dari batu dan kayu dengan kubah berlapis timah.

20260903182021_1000334078.jpg

Ket. Foto: Suasana sore di Selat Bosphorus, Istanbul, Turki, Sabtu (29/8). — Sumber: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa

Aula Kekaisaran (Hunkar Sofasi) yang menampilkan takhta emas Sultan di dalam area Harem Istana Topkapi di Istanbul, Turki. Antara/Lia Wanadriani Santosa

Harem

Di antara bangunan di Istana Topkapi, Harem  mencuri perhatian pengunjung dari segi arsitekturnya. Ini merupakan rumah bagi sultan, anggota dinasti Ottoman, serta mereka yang bertanggung jawab melayani dan melindungi rumah tangga kesultanan, salah satunya para kasim hitam.

Harem bukan ruangan tunggal melainkan jaringan kompleks yang terdiri dari banyak ruangan dengan berbagai ukuran termasuk apartemen sultan, dapur, halaman, dan pemandian.

Gerbang Utama Harem bukan sekadar jalan masuk fisik tetapi juga berfungsi sebagai ambang batas arsitektural yang menentukan batasan privasi, ketertiban, dan kesucian antara Harem dan dunia luar.

Pada bagian depan gerbang dihiasi motif rumi, gaya hiasan melengkung, pada bagian puncaknya, berfungsi sebagai tabir yang menghalangi pandangan ke arah gerbang utama dari pelataran berlantai batu untuk mempertegas aspek privasi dan spiritualitas Harem. Daun pintu gerbang juga memiliki lengkungan, terbuat dari perunggu.

Sementara itu, permukaan dinding yang mengelilingi gerbang Harem dihiasi dengan ubin iznik bermotif cemara, gaya klasik Ottoman.

Dalam seni Ottoman, pohon cemara melambangkan keabadian, martabat, dan persatuan. Daunnya yang selalu hijau melambangkan kehidupan abadi, sedangkan posturnya yang tegak melambangkan ketundukan kepada Allah, Sang Pencipta.

20260903182118_1000334060.jpg

Menara Keadilan (Tower of Justice) di halaman kedua Istana Topkapi, Istanbul, Turki. Antara/Lia Wanadriani Santosa

Secara khusus, ubin iznik yang dibuat dengan bahan dasar kuarsa memiliki warna yang cerah dan daya tahan tinggi berkat teknik underglaze (pewarnaan di bawah lapisan glasir).

Karena itu, gerbang Harem dengan bentuk arsitektur dan dekorasi ubinnya bukan sekadar elemen estetika namun merupakan ekspresi simbolis dari privasi, spiritualitas, dan orientasi terhadap tatanan ilahi.

Harem juga memiliki aula besar dengan kubah berhiaskan mozaik iznik abad ke-17 dan panel lukisan bergaya Eropa. Aula ini menjadi tempat upacara dan area sultan menerima penghuni Harem dalam rangka upacara penobatan dan perayaan hari raya.

Tak hanya Harem, di Istana Topkapi juga terdapat ruang suci menyimpan berbagai benda penting, seperti jubah suci dan helai janggut Nabi Muhammad, serta potongan gigi Rasulullah yang tanggal saat Perang Uhud, pedang, busur panah, stempel, dan jejak kaki Nabi.

Selain itu, dipamerkan pula berbagai peninggalan dari keluarga dan sahabat Nabi Muhammad, benda-benda dari Ka'bah di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah, serta peninggalan dari sejumlah tokoh penting Islam.

20260903182155_1000334068.jpg

Deretan bangunan yang bisa dilihat dari Selat Bosphorus, Istanbul, Turki, Sabtu (29/8). Antara/Lia Wanadriani Santosa

Pada satu bagian sisi istana, tepatnya area teras dan paviliun yang terletak di paling belakang kompleks, pemandangan Selat Bosphorus terhampar.

Menjelang petang, bentangan air itu menjadi saksi perubahan warna langit Istanbul. Mentari mulai ditelan ufuk, menyisakan semburat jingga memantul di permukaan air.

Belum terlambat untuk mencoba mendekat ke sana. Kapal-kapal masih ada yang bersandar, mengajak orang-orang menikmati goldenhour saat matahari terbenam di balik siluet bangunan dan jembatan ikonik.

Seorang warga lokal mengatakan, pukul 19.00 adalah waktu terbaik menjelajah perairan Bosphorus. Kapal bergerak membelah perairan yang membelah Istanbul menjadi dua. Angin berhembus pelan menambah semarak senja.

Dari kapal, Istana Topkapi terlihat dari sudut berbeda, begitu juga dengan bangunan-bangunan bersejarah seperti Istana Dolmabache, Paviliun Küçüksu rumah panggung merah marun HekimbaşıYalısı, OrtaköyMosque, dan bangunan mewah salah satunya DadyanYalısı.

20260903182244_1000334065.jpg

Aula Kekaisaran (Kesultanan) di dalam bagian Harem Istana Topkapi di Istanbul, Turki. Antara/Lia Wanadriani Santosa

Satu ikon lagi yang juga menarik yakni jembatan Bosphorus, yang menghubungkan sisi Eropa dan Asia Istanbul. Saat malam, lampu LED dengan warna-warna yang berubah terpantul di permukaan air yang gelap.

Menjelajahi Istana Topkapi termasuk Harem menjadi cara memahami estetika seni hias Ottoman klasik, dan dari sana manjakan juga mata dengan memandangi Selat Bosphorus. Ant

  • Istanbul di Kala Senja

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.