Menaker Desak Pendidikan dan Industri Sinkron, Mismatch Jadi Ancaman

Rabu, 02 Sep 2026, 22:20 WIB

JAKARTA – Kompetensi angkatan kerja menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas di tengah perubahan kebutuhan pasar kerja.

Kemampuan tenaga kerja kini tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal, tetapi juga membutuhkan keterampilan teknis, digital, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan industri.

Ket. Foto: Ilustrasi-Buruh dan karyawan mendengarkan pidato dari direksi perusahaan di Pabrik Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah. — Sumber: ANTARA FOTO-Mohammad Ayudha.

Karena itu, penguatan kompetensi melalui pendidikan, pelatihan vokasi, sertifikasi, dan kolaborasi dengan dunia usaha menjadi semakin penting.

Langkah tersebut diperlukan agar angkatan kerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri sekaligus mampu memanfaatkan peluang kerja baru yang terus berkembang.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan bahwa penyesuaian antara kebutuhan dunia usaha dan industri dengan kompetensi angkatan kerja baru serta dunia pendidikan diharapkan mampu menekan ketidaksesuaian (mismatch) ketenagakerjaan.

“Maka kemudian kita yang harus dari institusi pendidikan dan tentu didukung oleh pemerintah, kita yang harus terus untuk melakukan penyesuaian agar mismatch yang tadi disebutkan itu tidak terjadi,” kata Menaker saat ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu.

Menurut dia, mismatch antara kebutuhan industri dengan kemampuan pekerja yang relevan semakin menantang menyusul dinamika ketenagakerjaan global.

“Mismatch itu kan memang tantangan yang sudah lama. Jadi tidak hanya di Indonesia, hampir di semua negara. Apalagi ketika di industri sendiri selalu terjadi perubahan terkait dengan proses mereka,” kata Menaker.

“Kemudian adanya disrupsi akibat AI, otomasi, dan seterusnya. Jadi memang di satu sisi, tuntutan dari industri terkait dengan kebutuhan skill pekerja itu semakin cepat berubah,” ujarnya menambahkan.

Menurut Menaker, Magang Nasional dan Pelatihan Vokasi Nasional merupakan dua program strategis pemerintah untuk mencapai target tersebut.

“Dan kita tidak berbicara terkait dengan normatif. Makanya program pemerintah, Magang Nasional, Pelatihan Vokasi Nasional, sebenarnya tujuan utamanya adalah untuk mengurangi mismatch tadi,” ujarnya.

Tahun ini, pemerintah menargetkan total peserta Magang Nasional sebanyak 150 ribu orang lulusan baru (fresh graduate) perguruan tinggi. Sementara, Pelatihan Vokasi Nasional ditargetkan mampu menggaet lebih dari 200 ribu orang peserta.

Ia mengatakan, kedua program ini merupakan salah satu bentuk kehadiran pemerintah untuk memberikan kesempatan bagi angkatan kerja muda mendapatkan pengalaman kerja secara langsung.

“Ini yang kita lakukan dan alhamdulillah hasil evaluasi sampai sekarang kan baik, ya. Tantangan kita untuk terus memperbaiki, agar tujuannya itu nanti adalah mereka bisa terserap di tempat kerja itu peluangnya meningkat,” kata Menaker Yassierli.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.