• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Panggul Neanderthal Ungkap...

Panggul Neanderthal Ungkap Mengapa Cara Berjalan Pria dan Wanita Berbeda

Selasa, 01 Sep 2026, 07:18 WIB

PETUNJUK mengenai persoalan tersebut datang dari penelitian Departemen Anatomi dan Antropologi Tel Aviv University yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports. Studi ini menunjukkan bahwa bentuk panggul Neanderthal bukan merupakan penyimpangan dari pola anatomi manusia modern seperti yang selama ini diperkirakan. Sebaliknya, hasil perbandingan anatomi mengarah pada dugaan bahwa panggul pria modern justru mengalami inovasi evolusioner yang cukup besar.

Para peneliti mengusulkan bahwa perubahan pada panggul pria modern menghasilkan suatu sistem biomekanik yang dapat menyerap guncangan, menyimpan energi, kemudian mengembalikannya pada setiap langkah. Mekanisme ini berpotensi membuat aktivitas berjalan menjadi lebih efisien, terutama ketika manusia harus menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki.

Ket. Foto: Sebuah foto memperlihatkan tengkorak yang telah disusun kembali serta rekonstruksi fisik wajah dan kepala seorang wanita Neanderthal berusia 75.000 tahun—yang diberi nama Shanidar Z sesuai nama gua di Kurdistan Irak tempat tengkoraknya ditemukan pada tahun 2018—di Universitas Cambridge, Inggris. — Sumber: Justin TALLIS / AFP

Berjalan dengan dua kaki atau bipedalisme merupakan salah satu karakteristik penting manusia. Ketika seseorang berjalan, tubuh tidak bergerak dalam garis lurus. Pusat massa tubuh bergerak naik dan turun secara berulang pada setiap langkah.

Saat tubuh bergerak turun, panggul dan tungkai menerima beban mekanis. Tubuh kemudian harus kembali bergerak ke atas untuk melanjutkan langkah berikutnya. Proses sederhana ini sebenarnya merupakan rangkaian mekanisme biomekanik yang kompleks. Otot, tulang, sendi, tendon, dan ligamen bekerja bersama untuk menjaga keseimbangan sekaligus menggerakkan tubuh ke depan.

Menurut model yang diajukan para peneliti, bentuk panggul tertentu dapat membantu mengurangi energi yang diperlukan dalam proses tersebut. Kuncinya berada pada hubungan antara posisi sendi panggul, bentuk tulang panggul, serta otot paha bagian depan. Perbedaan struktur ini pada manusia modern diduga berkaitan erat dengan perjalanan evolusi manusia di masa lalu.

Dua Panggul

Penelitian dipimpin oleh Profesor Yoel Rak dari Tel Aviv University, dengan melibatkan peneliti dari sejumlah institusi di Spanyol, Technion, Bar-Ilan University, dan Ono Academic College.

Para peneliti memusatkan perhatian pada dua panggul Neanderthal jantan yang kondisinya relatif lengkap. Salah satu spesimen berasal dari Gua Kebara di Israel, sedangkan spesimen lainnya ditemukan di Sima de los Huesos, Spanyol. Keduanya kemudian dibandingkan dengan puluhan panggul manusia modern.

Meskipun berukuran besar dan memiliki karakteristik tubuh yang kokoh, panggul Neanderthal jantan ternyata dalam banyak ukuran dan proporsi lebih menyerupai panggul wanita modern daripada panggul pria modern. Temuan ini menjadi bagian penting dari interpretasi baru mengenai evolusi panggul.

Selama beberapa dekade, peneliti cenderung menempatkan panggul Neanderthal sebagai bentuk anatomi yang menyimpang. Namun, hasil penelitian terbaru menawarkan kemungkinan sebaliknya: jika panggul Neanderthal jantan memiliki kemiripan dengan panggul wanita modern, konfigurasi tersebut kemungkinan besar merupakan bentuk yang lebih dekat dengan kondisi leluhur (ancestral state).

Dengan kata lain, panggul Neanderthal dan wanita modern mempertahankan karakteristik leluhur, sementara panggul pria modern mengalami pergeseran bentuk yang lebih signifikan. Alih-alih bertanya mengapa panggul Neanderthal berbeda, peneliti kini bertanya mengapa panggul pria modern berkembang menjadi bentuk baru tersebut.

Posisi Sendi Panggul

Salah satu perbedaan utama berkaitan dengan lokasi sendi panggul. Pada pria modern, sendi panggul berada lebih ke depan pada cincin panggul dibandingkan dengan wanita modern dan Neanderthal jantan.

Dalam model penelitian tersebut, posisi sendi panggul yang lebih ke depan memungkinkan otot paha bagian depan berperan seperti pegas. Ketika tubuh bergerak turun saat berjalan, energi mekanis disimpan sementara dan dilepaskan kembali ketika tubuh bergerak ke atas.

Dengan mekanisme tersebut, setiap langkah tidak sepenuhnya dimulai dari nol. Sebagian energi dimanfaatkan kembali untuk langkah berikutnya. Para peneliti menggambarkan susunan ini sebagai peredam kejut alami sekaligus sistem pengembalian energi kinetik.

Kemampuan berjalan secara efisien memiliki arti penting dalam evolusi manusia untuk mencari makanan, mengikuti sumber daya, dan mengarungi bentang alam yang luas. Penghematan energi yang tampak kecil dalam satu langkah akan terakumulasi menjadi perbedaan signifikan setelah ribuan langkah.

Namun, penelitian ini tidak berarti bahwa salah satu jenis kelamin memiliki kemampuan berjalan yang lebih baik atau buruk secara mutlak. Fokus penelitian adalah bagaimana konfigurasi anatomi yang berbeda menghasilkan mekanisme biomekanik yang berbeda pula.

Pergeseran posisi sendi panggul diikuti oleh modifikasi anatomi lain, seperti tulang kemaluan yang lebih tebal dan bagian depan panggul yang lebih dalam untuk menahan beban mekanis baru. Hal ini menunjukkan bahwa evolusi bipedalisme melibatkan koordinasi menyeluruh antarstruktur kerangka.

Mengapa Panggul Wanita Tidak Mengikuti Jalur yang Sama?

Panggul wanita tidak mengalami perubahan serupa karena menghadapi tuntutan reproduksi dan persalinan. Kanal kelahiran membutuhkan ruang yang memadai untuk dilalui bayi, sehingga perubahan anatomi demi efisiensi berjalan tidak dapat dilakukan tanpa mengorbankan fungsi persalinan.

Kondisi ini mempertahankan konfigurasi panggul wanita tetap dekat dengan bentuk leluhur. Dengan demikian, bentuk panggul manusia merupakan hasil dari dua tekanan evolusioner yang saling memengaruhi: efisiensi lokomosi dan fungsi reproduksi.

Perbedaan anatomi antara pria dan wanita (dimorfisme seksual) pada panggul selama ini hanya dikaitkan dengan fungsi melahirkan. Temuan ini membuktikan bahwa mekanisme berjalan juga memegang peranan penting dalam mendorong perbedaan tersebut.

Fosil Neanderthal menjadi titik pembanding penting. Perbandingan ini membantu ilmuwan menyadari bahwa struktur tubuh pria modern yang selama ini dianggap sebagai standar “normal” sebenarnya merupakan hasil dari inovasi evolusioner yang relatif baru.

Kedokteran Modern

Profesor Ella Been dari Ono Academic College menekankan bahwa pemahaman biomekanika evolusioner ini berpotensi memberikan kontribusi pada bidang kedokteran muskuloskeletal, rehabilitasi medis, dan pencegahan cedera, karena bentuk serta posisi tulang menentukan bagaimana gaya beban diserap oleh tubuh.

Penelitian ini menunjukkan bagaimana perubahan geometris sederhana pada posisi sendi dapat memberikan konsekuensi besar terhadap cara tubuh bergerak. Anatomi manusia masih menyimpan banyak rahasia evolusi yang dapat terungkap melalui bantuan teknologi analisis bentuk modern.

Dua fosil panggul Neanderthal ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan pembanding kunci yang membantu memahami bagaimana tubuh manusia modern terbentuk—termasuk bukti bahwa setiap langkah yang kita ambil hari ini merupakan hasil adaptasi evolusi yang berlangsung selama ratusan ribu ­tahun. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.