Dari Pulau Rengit Menuju Swasembada Energi Hijau: Mimpi Besar Bangsa dan Komitmen PLN Kembangkan PLTS 100 GWp

Selasa, 01 Sep 2026, 18:50 WIB

JAKARTA - PT PLN (Persero) menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto, Selasa (1/9).

“PLN siap melaksanakan penugasan Bapak Presiden untuk mempercepat pengembangan PLTS 100 GWp,” ujar Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam keterangan resminya yang dikonfirmasi ANTARA dari Jakarta, Selasa.

Ket. Foto: Petugas PLN memantau kinerja PLTS dan Battery Energy Storage System (BESS) di Pulau Rengit, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. BESS terintegrasi dengan PLTS dan sumber energi terbarukan lainnya untuk menjaga kontinuitas pasokan listrik sehingga masyarakat Pulau Rengit dapat menikmati layanan listrik selama 24 jam. — Sumber: ANTARA/HO-PLN

Sebagai bagian dari ekosistem kelistrikan nasional, tutur dia, PLN akan totalitas agar pengembangan energi surya dapat terintegrasi dengan sistem kelistrikan secara andal, aman, dan berkelanjutan.

“Ini merupakan bagian dari komitmen PLN untuk mendukung terwujudnya swasembada energi melalui pemanfaatan energi hijau domestik dan ramah lingkungan,” ujar Darmawan.

Senada dengan hal tersebut, General Manager PLN Unit Induk Pembangkitan Dwipantara, Rita Triani menjelaskan bahwa keberhasilan menghadirkan listrik 24 jam di Pulau Rengit dicapai melalui inovasi integrasi multi-EBT yang mampu mendongkrak keandalan sekaligus efisiensi pasokan listrik.

“Sebelumnya, sistem PLTD berkapasitas 2x100 kilowatt menghasilkan energi sekitar 72 kilowatt hour per hari. Setelah penerapan sistem multi-EBT, ketersediaan energi meningkat signifikan. Yang paling penting, kini masyarakat dapat menikmati listrik 24 jam dan mulai memanfaatkannya untuk berbagai kegiatan produktif,” tutur Rita.

Melalui integrasi panel surya, Battery Energy Storage System (BESS), turbin angin, hingga fuel cell hidrogen ke dalam Green Energy Ecosystem Technopark (GEET), PLN mampu memangkas Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik di Pulau Rengit dari Rp16.700 menjadi Rp12.300 per kilowatt hour (kWh), sekaligus memangkas potensi emisi karbon hingga sekitar 99,5 ton karbon dioksida per tahun.

“Listrik ramah lingkungan dari PLN di Pulau Rengit bukan sekadar soal hadirnya terang, tetapi bagaimana energi ini bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Aktivitas bisa berjalan lebih leluasa dan roda ekonomi di pesisir pun semakin hidup. Inilah bagaimana energi bersih kami hadir untuk mendorong kemandirian dan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” kata Rita.

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.