Metatah Massal di Singaraja Diikuti 351 Peserta, IAHN Mpu Kuturan Bantu Ringankan Beban Umat.
Senin, 31 Agu 2026, 03:50 WIBÂ Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja Bali meringankan beban ratusan umat Hindu dengan menggelar ritual "metatah" atau potong gigi massal yang diikuti 351 peserta dari sejumlah daerah di Bali dan luar Bali.
"Sebanyak 351 peserta mengikuti upacara metatah bersama Ke-10 yang diselenggarakan di Kampus Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja," kata Ketua Panitia Pelaksana Metatah Ida Bhawati Dr. Ketut Agus Nova di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, Minggu.
Peserta kegiatan tersebut berasal dari Kabupaten Buleleng, Jembrana, Karangasem, dan Tabanan.
Selain dari Bali, peserta juga datang dari Kediri, Blitar, serta Nusa Tenggara Timur.
Metatah merupakan upacara potong gigi dalam agama Hindu yang dimaknai sebagai proses pengendalian sifat-sifat buruk dalam diri manusia sekaligus penanda kedewasaan secara keagamaan.
Ida Bhawati menjelaskan rangkaian kegiatan dimulai dengan registrasi peserta, kemudian dilanjutkan dengan upacara "penyekeban" atau "magekeb", yaitu prosesi persiapan dan penyucian diri sebelum pelaksanaan upacara utama.
Prosesi itu diawali dengan "mabiyakala", yaitu upacara pembersihan dari pengaruh negatif, "durmanggala" atau penyucian dari hal-hal yang tidak baik, serta "prayascita", yakni upacara penyucian lahir dan batin.
"Peserta kemudian mengikuti persembahyangan untuk memohon anugerah kepada Dewaning Tatah, yaitu manifestasi Tuhan yang diyakini memberikan perlindungan dan kelancaran dalam pelaksanaan upacara potong gigi," papar dia.
Rangkaian selanjutnya adalah "natab banten menek bajang", yaitu menerima dan memohon berkah melalui sarana persembahan dalam upacara menuju kedewasaan. Prosesi tersebut mencakup "ngeraja swala" bagi perempuan dan "ngeraja singa" bagi laki-laki sebagai simbol memasuki masa dewasa.
Peserta juga menjalani prosesi "mapetik", yakni pemotongan rambut secara simbolis, kemudian "merajah" atau pemberian simbol-simbol suci pada tubuh. Setelah itu, peserta menjalani prosesi metatah di balai yang telah disiapkan dengan didampingi keluarga masing-masing.
Setelah prosesi utama selesai, sulinggih melaksanakan "ngarga tirta", yaitu membuat atau memohon air suci, dan "mapedudusan", yakni upacara penyucian. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan "natab banten petatahan" atau menerima berkah dari sarana upacara metatah serta "pangubaktian", yaitu persembahyangan sebagai wujud bakti kepada Tuhan.
"Kegiatan ditutup dengan acara seremonial, sembah sungkem atau penghormatan kepada orang tua, serta pembacaan 'Parama Santi', yaitu doa penutup untuk memohon kedamaian dan keselamatan," katanya.
Sementara itu, Wakil Rektor III IAHN Mpu Kuturan Singaraja Dr. I Nyoman Miarta Putra, M.Ag., mengatakan kegiatan Metatah Bersama tersebut merupakan bentuk nyata komitmen kampus dalam mendukung program "Kementerian Agama Berdampak" yang digagas Kementerian Agama RI dan Ditjen Bimas Hindu.
"Melalui UKM Upakara yang didukung civitas akademika, IAHN Mpu Kuturan kembali menyelenggarakan Metatah Bersama yang diikuti ratusan masyarakat dari berbagai wilayah di Bali hingga Jawa Timur," katanya.
Ia mengatakan kegiatan tersebut mendapat dukungan dan apresiasi dari Rektor IAHN Mpu Kuturan beserta jajaran karena menjadi wujud nyata pengabdian kepada masyarakat sekaligus pelayanan keagamaan Hindu yang inklusif dan memberikan dampak langsung bagi umat.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat yang telah mempercayakan pelaksanaan kegiatan ini kepada IAHN Mpu Kuturan. Semoga kegiatan serupa dapat terus terlaksana dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat pada masa yang akan datang."Â
- "metatah" atau potong gigi
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.