Usia 61 Tahun, IKPI Tegaskan Peran Sebagai Jembatan Pemerintah dan Wajib Pajak

Kamis, 27 Agu 2026, 17:42 WIB

JAKARTA — Memasuki usia ke-61, Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI) memantapkan diri sebagai organisasi profesi yang tidak hanya fokus pada peningkatan kompetensi anggota, tetapi juga menjadi mitra strategis pemerintah dan jembatan antara otoritas pajak dengan masyarakat.

Hal itu disampaikan Sekretaris Umum IKPI, Associate Professor Edy Gunawan, saat puncak perayaan HUT ke-61 IKPI di Ballroom Pullman Central Park, Jakarta, Kamis (27/8).

Ket. Foto: Sekretaris Umum Ikatan Konsultan Pajak Indonesia (IKPI), Associate Professor Edy Gunawan (kiri) bersama Ketua Umum IKPI Vaudy Starworld di sela puncak perayaan HUT ke-61 IKPI di Ballroom Pullman Central Park, Jakarta, Kamis (27/8) — Sumber: istimewa

“Enam puluh satu tahun adalah perjalanan panjang membangun organisasi, menjaga profesionalisme, dan beradaptasi dengan perubahan sistem perpajakan. Ke depan IKPI akan terus bersinergi dengan pemerintah, sekaligus menjalankan fungsi edukasi kepada masyarakat,” ujar Edy.

Edukasi dan Jaringan Daerah Jadi Kekuatan

Menurut Edy, kompleksitas regulasi perpajakan saat ini menuntut organisasi profesi melampaui kepentingan internal. IKPI memandang edukasi perpajakan sebagai bagian dari pengabdian profesi, bukan agenda seremonial.

Selama ini IKPI rutin menggelar seminar nasional, webinar, pelatihan teknis, hingga sosialisasi ke UMKM. Jaringan Pengurus Daerah dan Cabang di berbagai wilayah menjadi ujung tombak untuk berkolaborasi dengan kantor pajak, pemda, kampus, asosiasi usaha, dan komunitas.

“Edukasi tidak boleh insidental. Pemahaman hak dan kewajiban pajak harus dibangun terus-menerus. Ini bagian dari pola kemitraan agar kebijakan pajak dipahami masyarakat secara benar,” katanya.

Gabungkan Digital dan Tatap Muka

Edy juga menyoroti peran teknologi dalam memperluas literasi pajak. Webinar dan platform digital memungkinkan materi menjangkau peserta di berbagai daerah. Namun pertemuan tatap muka tetap diperlukan untuk dialog dan konsultasi langsung.

“Kita kombinasikan keduanya. Teknologi memperbesar jangkauan, pertemuan langsung memperkuat komunikasi. Keduanya harus jalan beriringan,” jelasnya.

Semangat itu terlihat pada rangkaian HUT ke-61. Selain Seminar Nasional Hybrid yang diikuti 1.600 peserta, IKPI juga menggelar Lomba Cerdas Cermat Perpajakan untuk SMA, SMK, hingga perguruan tinggi.

“Bagi kami, kesadaran pajak harus dibangun sejak dini. Pajak bukan hanya kewajiban administratif, tapi bagian dari kehidupan bernegara. Ini investasi untuk masa depan sistem perpajakan,” kata Edy.

Mitra, bukan Lawan

Edy menegaskan konsultan pajak memiliki posisi unik. Di satu sisi mendampingi wajib pajak memenuhi kewajiban, di sisi lain mendorong kepatuhan pada aturan.

Karena itu, kemitraan dengan pemerintah tidak mengurangi independensi profesi. “Organisasi profesi harus bangun komunikasi konstruktif, sampaikan kondisi di lapangan, sekaligus bantu masyarakat pahami aturan dengan benar,” ujarnya.

Memasuki usia 61 tahun, Edy mengajak anggota IKPI bersiap menghadapi tantangan digitalisasi administrasi, perubahan regulasi, dan model bisnis baru. 

“Usia 61 tahun harus jadi fondasi melangkah lebih kuat. Anggota IKPI harus terus tingkatkan kompetensi, jaga integritas, dan beri kontribusi nyata bagi negara,” pungkasnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.