51 Macan Tutul Jawa Teridentifikasi di Gunung Halimun Salak, Termasuk 3 Anakan.
Kamis, 27 Agu 2026, 19:57 WIBBertepatan dengan momentum Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati setiap 10 Agustus, sebanyak 51 individu Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), termasuk tiga anakan, teridentifikasi melalui Java-Wide Leopard Survey (JWLS) yang dilakukan pada periode Januari 2024âJuni 2026 di kawasan Gunung Halimun Salak.
Di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, sebanyak 240 kamera pengintai dipasang pada 120 petak survei. Dari 119 stasiun kamera yang dapat dianalisis, 113 merekam keberadaan Macan Tutul Jawa. Peneliti mengidentifikasi 23 individu jantan, 24 betina, serta empat individu yang jenis kelaminnya belum dapat ditentukan. Kamera pengintai juga merekam berbagai satwa lain, termasuk Trenggiling, Lutung Jawa, Surili Jawa, Elang Jawa, Kucing Kuwuk, dan Landak Jawa. Survei menunjukkan Macan Tutul Jawa lebih banyak terdeteksi pada kawasan dengan kondisi hutan yang relatif terjaga.
Taman Nasional Gunung Halimun Salak merupakan salah satu habitat utama Macan Tutul Jawa, predator puncak dalam ekosistem hutan di Pulau Jawa. Namun, temuan 51 individu Macan Tutul Jawa bukan kesimpulan bahwa pekerjaan konservasi telah selesai. Justru, temuan ini membuka pertanyaan yang lebih penting: bagaimana menjaga habitat, sumber pakan, dan konektivitasnya ketika satwa liar, masyarakat, dan berbagai aktivitas manusia berbagi bentang alam yang sama untuk menjamin kelestarian Macan Tutul Jawa dan keberlanjutan ekosistemnya?
Menurut Direktur Yayasan SINTAS Indonesia Dr. Hariyo T. Wibisono, nilai penting temuan tersebut bukan hanya terletak pada jumlah individu yang berhasil diidentifikasi, tetapi pada pengetahuan yang dapat digunakan untuk menentukan langkah konservasi berikutnya.
âAngka 51 memberi kita informasi yang sangat berharga, tetapi konservasi tidak berhenti pada berapa individu yang berhasil terekam. Yang lebih penting adalah apakah populasi ini dapat bertahan dalam jangka panjang. Itu bergantung pada kualitas habitat, ketersediaan mangsa, konektivitas antar-habitat, dan bagaimana berbagai tekanan terhadap kawasan dikelola.â
Tiga Dekade Berbagi Ruang
Taman Nasional Gunung Halimun Salak tidak hanya tentang bentang alam yang terisolasi, tapi merupakan harmoni yang dihasilkan dari sinergi antara alam dan manusia. Masyarakat hidup dan beraktivitas di dalam dan di sekitarnya. Pada sejumlah bagian kawasan, survei juga merekam tekanan terhadap habitat, termasuk perburuan, pembalakan, perambahan, dan aktivitas kendaraan.
Di bentang alam yang sama, energi panas bumi telah dimanfaatkan selama lebih dari tiga dekade. Saat ini, Star Energy Geothermal Salak mengoperasikan pembangkit panas bumi berkapasitas 403,2 MW. Artinya, konservasi dan produksi energi telah berbagi ruang di Taman Nasional Gunung Halimun Salak selama lebih dari tiga dekade.
Temuan tersebut menunjukkan kualitas habitat dan perubahan yang terjadi di dalamnya harus terus dipantau secara ilmiah.
Bagi Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak Didid Sulastiyo, S.Hut., M.Si., ukuran keberhasilan pengelolaan kawasan bukan hanya apakah satwa masih dapat ditemukan hari ini, tetapi apakah habitatnya tetap mampu menopang kehidupan mereka dalam jangka panjang sehingga terjaga kelestarian ekosistem dan keberlanjutannya.
âTugas kami bukan sekadar memastikan Macan Tutul Jawa masih ditemukan hari ini. Yang harus kami jaga adalah agar Taman Nasional Gunung Halimun Salak tetap menjadi rumah yang layak bagi mereka puluhan tahun ke depan. Itu berarti menjaga hutannya, koridornya, sumber pakannya, sekaligus memastikan setiap aktivitas di dalam dan sekitar kawasan mengikuti prinsip dan kaidah konservasi.â
Keberadaan energi panas bumi yang telah beroperasi pada bentang alam dengan kawasan bernilai keanekaragaman hayati tinggi menunjukkan pentingnya upaya untuk menyelaraskan kebutuhan energi dengan perlindungan biodiversitas, dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip konservasi dan keberlanjutan ekosistem.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc. mengatakan bahwa keduanya tidak seharusnya dipandang sebagai pilihan yang saling meniadakan.
âIndonesia membutuhkan energi, tetapi Indonesia juga harus menjaga kekayaan keanekaragaman hayatinya. Keduanya tidak harus menjadi pilihan yang saling meniadakan. Namun hidup berdampingan bukan sesuatu yang dapat diasumsikan. Pada bentang alam dengan nilai konservasi tinggi, setiap aktivitas harus dikelola dengan prinsip kehati-hatian, dipantau berdasarkan ilmu pengetahuan, dan disertai komitmen jangka panjang untuk menjaga fungsi ekologis kawasan, terutama di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.â
Menjaga Koridor antara Halimun dan Salak
Salah satu perhatian penting dalam konservasi Macan Tutul Jawa adalah menjaga konektivitas habitat. Bagi predator dengan ruang jelajah luas, kawasan hutan tidak cukup hanya terlindungi; koridor yang memungkinkan satwa bergerak dari satu habitat ke habitat lainnya juga harus tetap terjaga.
Di Halimun-Salak, upaya menjaga keterhubungan ekosistem Gunung Salak dan Gunung Halimun dilakukan melalui pemulihan habitat dan pengembangan Green Corridor, pemantauan satwa menggunakan camera trap, serta penguatan pengamanan kawasan bersama polisi hutan. Star Energy Geothermal Salak terlibat dalam sejumlah upaya tersebut sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan jangka panjang di sekitar wilayah operasinya.
Upaya tersebut menjawab persoalan yang juga muncul dari kajian JWLS. Jika konektivitas menjadi salah satu faktor penting bagi keberlangsungan populasi, maka koridor habitat perlu dijaga dan dipulihkan. Jika perubahan penggunaan ruang perlu dipahami, maka pemantauan satwa harus berlangsung dalam jangka panjang. Dan ketika terdapat aktivitas manusia dalam lanskap yang sama, interaksinya dengan satwa liar perlu terus diukur.
Data JWLS selanjutnya akan digunakan dalam Population Viability Analysis (PVA) untuk melihat berbagai kemungkinan masa depan populasi Macan Tutul Jawa dan menentukan intervensi konservasi yang diperlukan. Hasilnya juga akan menjadi salah satu masukan bagi pembaruan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Macan Tutul Jawa.
Pada Hari Konservasi Alam Nasional, Halimun-Salak memberikan sebuah pelajaran yang relevan jauh melampaui batas taman nasional. Konservasi hari ini tidak selalu berlangsung di bentang alam yang kosong dari manusia. Tantangannya adalah bagaimana manusia menggunakan ruang yang sama tanpa menghilangkan ruang yang dibutuhkan alam.
Halimun-Salak mungkin tidak memberikan jawaban sederhana tentang hubungan antara konservasi dan pembangunan. Lanskap ini justru menunjukkan bahwa hidup berdampingan membutuhkan sesuatu yang lebih sulit: mengetahui apa yang hidup di sana, memahami bagaimana mereka menggunakan ruang, mengukur perubahan, dan bersedia menyesuaikan cara kita bekerja ketika ilmu pengetahuan menunjukkan hal itu diperlukan.
Bagi 51 Macan Tutul Jawa yang terekam kamera, ukuran keberhasilannya jauh lebih sederhana: mereka tetap memiliki cukup ruang untuk hidup liar.
- Macan Tutul Jawa Halimun Salak
Redaktur: Yebdi Trismar
Penulis: Yebdi Trismar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.