Pemerintah Perkuat Pembelajaran Adaptif Hadapi Bencana

Rabu, 26 Agu 2026, 01:48 WIB

JAKARTA - Pemerintah diminta membangun mekanisme pembelajaran yang adaptif di sejumlah wilayah guna menjamin keberlangsungan pendidikan di tengah ancaman bencana alam yang melanda saat ini.

Indonesia adalah negara yang berada di kawasan rawan bencana sehingga sistem pendidikan harus bisa beradaptasi dengan kondisi-kondisi yang tak terduga itu dan bukan hanya reaksi sesaat.

Ket. Foto: Seorang warga berada di reruntuhan rumah di Dampek, Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). — Sumber: ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

“Pembangunan sistem pendidikan yang responsif terhadap ancaman bencana harus diwujudkan,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan rentetan bencana alam yang melanda Indonesia dalam sepekan terakhir, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan hingga gempa bumi dahsyat di Nusa Tenggara Timur, kembali menguji ketahanan sektor pendidikan nasional.

Maka dari itu, pemerintah perlu segera menjawab tantangan teknis pembelajaran darurat di tengah kondisi pasca bencana.

Dengan begitu, menurut Rerie, kegiatan belajar dan mengajar tetap berlangsung guna memastikan hak anak tidak terlupakan di tengah krisis.

Menurut dia, data yang ada saat ini menunjukkan urgensi untuk menghadirkan mekanisme pembelajaran yang adaptif dalam merespons tantangan yang beragam.

Rerie menyampaikan bahwa Peta Risiko Bencana BNPB 2023 mencatat terdapat lebih dari 70.000 satuan pendidikan dari PAUD hingga SMA/SMK yang berada di wilayah berpotensi bencana dengan risiko bahaya sedang hingga tinggi.

Bahkan, UNICEF menempatkan Indonesia dalam 50 negara dengan anak-anak paling berisiko terdampak perubahan iklim dan degradasi lingkungan.

Korban Gempa NTT

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 103 jiwa. “Ada ketambahan tiga jiwa meninggal menjadi 103 untuk hari ini catatan kami,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers terkait penanganan gempa di NTT yang diikuti secara daring dari Jakarta, Selasa (25/8).

Diketahui sebelumnya sejak gempa terjadi di NTT pada 15 Agustus 2026 hingga Senin (24/8) lalu, jumlah korban adalah sebanyak 100 jiwa. Ant/S-2

Redaktur: Sriyono

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.