Dibangun Bersama Guru Disabilitas, Papan Tulis AI Buatan Siswa Bandung Raih Juara Google
Selasa, 25 Agu 2026, 00:00 WIBBANDUNG â Keterbatasan fisik seorang guru menjadi titik awal lahirnya TRIDO, papan tulis digital berbasis Artificial intelligence (AI) yang dikembangkan dua siswa SMA Kartika XIX-1 Bandung. Inovasi tersebut baru-baru ini mengantarkan Ardellio Satria Anindito dan Muhammad Azhar Ayyatullah Al Farizi meraih juara kedua kategori utama dalam The Gemma 4 Good Hackathon yang diselenggarakan Google melalui Kaggle.
TRIDO dirancang untuk membantu guru mengoperasikan papan tulis digital menggunakan perintah suara. Dengan teknologi tersebut, guru tidak harus bergantung pada mouse, keyboard, maupun layar sentuh untuk menjalankan berbagai fungsi saat mengajar.
Yang membuat proyek ini berbeda, pengembangannya melibatkan langsung pengguna yang menjadi sasaran teknologi tersebut. Ardellio dan Azhar bekerja bersama Dadan Mochammad Ramdhan, guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 20 Bandung yang dikenal sebagai Pak Damar dan merupakan penyandang disabilitas.
Pak Damar tidak hanya menjadi sumber inspirasi. Ia ikut menguji purwarupa, memberikan masukan, serta membantu kedua siswa tersebut menentukan fitur yang benar-benar dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Dari proses itu, muncul gagasan membuat papan tulis yang dapat dikendalikan melalui suara. Guru cukup memberikan instruksi, kemudian sistem menerjemahkannya menjadi tindakan pada kanvas digital.
Perintah seperti âbuatkan mind map tentang angkatan sastra puisiâ dapat diproses menjadi diagram. TRIDO juga memiliki fitur untuk membuat kuis, merangkum materi, serta mengatur penghitung waktu pembelajaran.
Aplikasi tersebut menggunakan pendekatan voice-first dengan dukungan bahasa Indonesia dan Inggris. Sistem juga dilengkapi animasi kursor AI sehingga siswa dapat melihat perubahan yang dilakukan pada papan tulis.
Materi pembelajaran yang dibuat guru dapat dibagikan secara waktu nyata ke perangkat siswa melalui peramban tanpa mengharuskan mereka masuk menggunakan akun.
Nama TRIDO merupakan singkatan dari Teacher, Student, Technology and Do. Bagi pengembangnya, nama tersebut menggambarkan tujuan teknologi yang tidak berhenti sebagai konsep, tetapi digunakan secara langsung dalam proses belajar.
Ide TRIDO bermula ketika Ardellio dan Azhar awalnya ingin membuat konten untuk meningkatkan kesadaran mengenai aksesibilitas. Namun, mereka kemudian mengubah pendekatan dan memilih membuat teknologi yang dapat digunakan secara langsung.
âKami ingin membuat sesuatu yang dapat digunakan, bukan hanya dibicarakan,â demikian gagasan yang menjadi dasar pengembangan proyek tersebut.
Ketika berdiskusi dengan Pak Damar, keduanya menemukan bahwa hambatan dalam penggunaan teknologi pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Ketersediaan perangkat, koneksi internet, serta desain aplikasi yang tidak mempertimbangkan aksesibilitas juga dapat menjadi persoalan.
âProyek ini muncul dari kepedulian terhadap keterbatasan yang dialami oleh seorang guru kami. Kami juga tahu bahwa masih ada banyak orang yang memiliki keterbatasan fisik, atau berkebutuhan khusus. Jadi, proyek ini sebenarnya berawal dari kecintaan kami kepada guru kami,â kata Ardellio.
Masukan dari Pak Damar kemudian diterjemahkan menjadi sejumlah fungsi di dalam TRIDO, termasuk analisis puisi, pembuatan kuis, dan pengaturan waktu pembelajaran.
Dalam pengembangannya, kedua siswa tersebut juga menghadapi berbagai persoalan teknis. Pada tahap awal, sistem AI belum selalu memahami perintah dengan tepat. Instruksi untuk membuat teks terkadang menghasilkan mind map, sementara perintah membuat mind map dapat berubah menjadi kuis.
Tim kemudian memperbaiki instruksi dan memisahkan jenis tugas agar sistem dapat menentukan tindakan yang sesuai.
âKami mengalami banyak kegagalan saat membuat penugasan kecil untuk agen AI. Ada perintah membuat teks yang malah menghasilkan mind map, atau perintah membuat mind map yang berubah menjadi kuis. Bug dan error juga muncul setiap kali kami melakukan pengujian,â kata tim TRIDO.
Salah satu pengembangan yang kemudian disederhanakan adalah sistem penerjemahan. Awalnya, tim merancang lapisan tambahan untuk menerjemahkan perintah berbahasa Indonesia sebelum diproses AI. Setelah pengujian, mereka menemukan Gemma 4 dapat memahami instruksi berbahasa Indonesia, termasuk istilah sastra, dan mengubahnya langsung menjadi function call berbahasa Inggris.
TRIDO juga dirancang mempertimbangkan kondisi kelas dengan koneksi internet terbatas. Tim mengembangkan mode luring menggunakan Gemma 4 melalui Ollama. Menurut tim, sistem tersebut dirancang agar dapat dijalankan pada perangkat dengan kapasitas RAM 4â8 GB.
Untuk menghadapi kondisi ruang kelas yang bising, tim menggunakan sistem dual-path untuk input suara. Web Speech API menjadi jalur utama, sementara sistem perekaman digunakan sebagai fallback ketika pengenalan suara tidak bekerja secara optimal.
Perjalanan TRIDO kemudian berlanjut ke kompetisi global Gemma 4 Good Hackathon. Kompetisi tersebut menyediakan total hadiah US$200.000 dan mengajak peserta memanfaatkan model terbuka Gemma 4 untuk membuat solusi AI di berbagai bidang, termasuk pendidikan, kesehatan, pemerataan akses digital, dan ketahanan global.
Tim TRIDO meraih posisi kedua kategori utama dengan hadiah US$25.000. Pengumuman pemenang dilakukan melalui Kaggle pada 22 Agustus 2026.
Kompetisi tersebut diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai pelajar dan mahasiswa hingga pengembang perangkat lunak, peneliti, dan profesional AI. Data yang disampaikan tim mencatat 14.523 pendaftar, 2.235 peserta aktif, 1.608 tim, dan 1.609 proyek.
Bagi Ardellio dan Azhar, keterlibatan pengguna disabilitas sejak tahap awal menjadi bagian penting dalam pengembangan TRIDO. Mereka tidak menempatkan aksesibilitas sebagai fitur tambahan setelah produk selesai, tetapi menjadikannya dasar dalam merancang sistem.
Dukungan juga datang dari SMA Kartika XIX-1 Bandung yang menyediakan fasilitas dan laboratorium komputer untuk pengembangan proyek.
Kemenangan di kompetisi Google tersebut menjadi capaian bagi dua siswa Bandung sekaligus menunjukkan bagaimana kebutuhan seorang guru penyandang disabilitas dapat diterjemahkan menjadi inovasi teknologi pendidikan.
Ardellio dan Azhar berharap TRIDO dapat terus diuji bersama lebih banyak guru penyandang disabilitas, sekolah inklusif, dan Sekolah Luar Biasa sehingga pengembangannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna yang lebih beragam.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Xi Jinping Ingin AI Kuasai Seluruh Medan Perang, Tiongkok Siapkan Mesin Perang Masa Depan
-
Pembangunan Stasiun MRT Monas Gunakan Box Jacking, Ditargetkan Beroperasi Akhir 2027
-
Presiden Prabowo Pimpin Panen Raya Serentak Bersama TNI di 43 Lokasi, Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
-
Dari A24 Jadi 'AI24'? Kolaborasi dengan Google DeepMind Picu Gelombang Kritik
-
Pemberdayaan Petani Padi Melalui Pemanfaatan Lahan Kritis
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.