TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari
Minggu, 23 Agu 2026, 17:15 WIBKota Bandung - Pemerintah Kota Bandung menargetkan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Organik dan Sirkular (TPOS) Gedebage dapat rampung pada 2027 untuk mengembangkan fasilitas pengolahan sampah berkapasitas hingga 300 ton per hari.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan pembangunan fasilitas tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
âDalam hal ini, kami akan membangun satu fasilitas pengolahan sampah dengan menggunakan sebuah teknologi yang baru,â ujar Farhan dalam keterangan yang diterima di Bandung, Minggu (23/8).
Menurut Farhan, fasilitas tersebut akan dibangun di kawasan Gedebage setelah Pemkot Bandung bersama pihak terkait melakukan survei lokasi dan menilai kawasan tersebut layak dikembangkan sebagai lokasi fasilitas pengolahan sampah berkapasitas hingga 300 ton per hari.
Ia mengatakan pembangunan fasilitas tersebut menjadi salah satu langkah cepat yang ditempuh Pemkot Bandung untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah dengan teknologi baru.
âTerus terang Kota Bandung itu satu-satunya ibu kota provinsi yang tidak punya TPA. Jadi kami sangat tergantung kepada TPA-TPA yang dibangun oleh provinsi, baik yang di Sarimukti maupun yang sekarang sedang dibangun di Legok Nangka,â katanya.
Farhan mengatakan pembangunan TPA Legok Nangka masih membutuhkan waktu sehingga Kota Bandung perlu menyiapkan solusi pengelolaan sampah sembari menunggu fasilitas tersebut beroperasi.
âWaktu itu, Pak Gubernur memberikan pekerjaan rumah. Sambil menunggu tiga tahun Legok Nangka jadi, kalian bisa bikin apa? Nah, ini salah satu terobosan yang kami lakukan,â ujarnya.
Ia menargetkan pembangunan dan persiapan fasilitas TPOS Gedebage dapat dipercepat sehingga mulai beroperasi pada akhir 2026 atau awal 2027.
Sementara itu, Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara Sigit Puji Santosa mengatakan teknologi yang disiapkan mengusung konsep pengolahan sampah secara terdesentralisasi sehingga sampah tidak seluruhnya harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir.
âIni adalah solusi yang kita sebut desentralisasi. Artinya tidak perlu dibawa ke TPA, tempat penimbunan akhir, tapi kita selesaikan di regional masing-masing,â kata Sigit.
Ia menjelaskan teknologi tersebut akan memproses sampah menjadi Solid Recovered Fuel (SRF), yakni material dengan nilai kalor tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk refinery, pabrik, serta boiler.
Menurut Sigit, konsep tersebut tidak hanya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri.
Ia mengatakan teknologi yang dipilih harus memenuhi aspek lingkungan dan sosial, termasuk memastikan proses pengolahan tidak menimbulkan bau yang mengganggu masyarakat sekitar.
âKita pastikan teknologi yang kita pilih adalah teknologi yang ter-contained dan ter-capture sehingga tidak ada bau yang mengganggu lingkungan sekitarnya,â ujarnya.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Resmi Hadir di Indonesia, Maliao Perkenalkan 22 Produk Eksklusif untuk Perempuan Modern
-
Otak Sindikat Perdagangan Bayi di Indonesia dan Singapura Dijatuhi Hukuman 7 Tahun Penjara
-
Merasakan Ketegangan Persiapan Navy SEAL Menculik Diktator Panama Jenderal Noriega
-
Program Magang Nasional 2026 Target 150.000 Peserta, 30 Persen Berpeluang Langsung Direkrut Kerja
-
Jennie Blackpink Siapkan Single Baru
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.