Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hati-hati, Pemerintah Jangan Terjebak Beban Cicilan Utang yang Beratkan APBN

📅 Rabu, 19 Agu 2026, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Hati-hati, Pemerintah Jangan Terjebak Beban Cicilan Utang yang Beratkan APBN Doc: istimewa

Utang Luar Negeri

JAKARTA - Upaya Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) yang gencar mencari sumber pembiayaan dengan menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menyebabkan kenaikan Utang Luar Negeri (ULN) pada kuartal II-2026.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (18/8) mengatakan posisi utang luar negeri pada kuartal kedua naik 4,4 persen mencapai 453,4 miliar dollar AS yang berasal dari utang pemerintah dan bank sentral (pembiayaan publik).

Utang luar negeri pemerintah tumbuh 1,62 miliar dollar AS setara dengan 2,9 persen menjadi 216,29 miliar dollar AS, sementara sektor swasta masih terkontraksi 0,6 persen di posisi 194,6 miliar dollar AS.

Perkembangan ULN Pemerintah tersebut kata Ramdan terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) sebagai salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Sementara itu, peningkatan ULN bank sentral terutama didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak ketidakpastian global yang kembali meningkat.

Menanggapi kenaikan ULN tersebut, Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indomesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky, menilai kenaikan ULN meski masih dalam batas wajar, namun kehatian hatian harus diutamakan.

“Dengan kenaikan ULN tersebut, perlu diantisipasi besarnya DSR (Debt Service Ratio) Indonesia apalagi dengan tren suku bunga yang sedang tinggi sehingga debt service kita meningkat,”kata Riefky.

Menurutnya, rasio ULN terhadap PDB sebesar 30,6 persen masih tergolong aman jika dibandingkan standar kehati- hatian internasional.

Namun ia mengingatkan, indikator yang lebih krusial ke depan adalah Debt Service Ratio atau kemampuan membayar bunga dan pokok utang.

Dengan tren suku bunga acuan global yang masih berada di level tinggi, beban cicilan utang Indonesia berpotensi semakin besar.

Hal itu bisa menekan ruang fiskal pemerintah dan mengurangi fleksibilitas kebijakan ekonomi.

“Kenaikan suku bunga The Fed dan bank sentral negara maju lainnya membuat biaya pinjaman luar negeri jadi lebih mahal. Jadi walaupun jumlah utangnya naik tidak terlalu tajam, tapi cicilannya yang akan terasa,” paparnya.

Dorong Pertumbuhan

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Rona
Film Dokumenter Lisa Blackp...
Nasional
Kemenperin Dorong Gen Z Kem...
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Luar Negeri
PBB akan Alokasikan Dana un...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.