Bukan Beras Fortifikasi! Pengamat Bongkar Biang Kerok Asli Harga Beras Melonjak!

Kamis, 13 Agu 2026, 20:30 WIB

JAKARTA - Pengamat pertanian Khudori menilai beras fortifikasi bukan menjadi penyebab utama lonjakan harga beras yang terjadi sepanjang tahun 2026, Kamis (13/8). 

Menurut Khudori, beras fortifikasi yang beredar di pasar saat ini belum memiliki volume yang cukup besar untuk mempengaruhi harga beras secara keseluruhan.

Ket. Foto: Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Sutanto mengecek beras fortifikasi di ritel modern. — Sumber: ANTARA/HO-Bapanas

“Beras fortifikasi tidak signifikan dan tidak tepat dijadikan kambing hitam kenaikan harga beras saat ini,” ujar Khudori dalam sebuah pernyataan di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan beras fortifikasi merupakan beras yang diperkaya dengan vitamin dan mineral tertentu, sehingga memiliki nilai tambah dan harga lebih tinggi. Namun, jumlah produsen dan volume produksinya disebut masih terbatas.

Dia mengatakan munculnya lebih banyak beras fortifikasi di ritel modern juga tidak serta-merta menunjukkan bahwa produsen beras premium telah beralih memproduksi beras fortifikasi.

Khudori menilai kenaikan harga beras lebih dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain, terutama kenaikan harga gabah di tingkat petani dan mulai melandainya produksi setelah periode panen raya.

Khudori mengatakan harga gabah kering panen (GKP) di sejumlah daerah bahkan telah melampaui Rp8.000 per kilogram, sementara harga pembelian pemerintah (HPP) ditetapkan Rp6.500 per kilogram.

“Gabah adalah bahan baku beras. Ketika harga bahan baku naik, harga beras juga akan ikut naik,” ujarnya.

Selain harga gabah, ia menyebut produksi beras mulai melandai karena memasuki musim gadu, yakni Juni-September. Kondisi tersebut membuat pasokan beras tidak lagi sebesar saat puncak panen raya pada Maret dan April.

Ia mengatakan merujuk proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), produksi gabah kering giling (GKG) pada Juni, Juli, Agustus, dan September 2026 masing-masing diperkirakan mencapai 4,29 juta ton, 4,79 juta ton, 5,63 juta ton, dan 5,83 juta ton.

Proyeksi produksi tersebut lebih rendah dibandingkan produksi pada puncak panen raya di Maret dan April 2026 yang masing-masing mencapai 8,71 juta ton dan 7,63 juta ton GKG.

Mengutip data BPS, Khudori menyampaikan harga beras di tingkat penggilingan, grosir, dan konsumen terus meningkat sejak awal tahun.

Pada Juli 2026, harga beras di tingkat penggilingan naik 0,94 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan harga di tingkat grosir dan konsumen masing-masing meningkat 0,41 persen dan 0,49 persen.

Harga beras di tingkat konsumen pada pekan pertama Agustus 2026 juga mencapai rata-rata Rp15.545 per kilogram, naik 0,16 persen dibandingkan Juli dan berada di atas harga eceran tertinggi (HET) beras medium maupun premium di zona I yang masing-masing Rp13.500 per kg dan Rp14.900 per kg.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah ketersediaan stok beras pemerintah yang mencapai sekitar 5,25 juta ton di gudang Perum Bulog per 9 Agustus 2026.

  • harga beras
  • beras fortifikasi
  • pengamat pertanian

Redaktur: alfred

Penulis: Alfred, Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.