Status Tetap Level II, namun Aktivitas Gunung Lewotolok Sudah Menurun

Senin, 10 Agu 2026, 10:01 WIB

KUPANG – Pos Pengamat Gunung Lewotolok melaporkan, aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, menunjukkan penurunan selama periode 16-31 Juli 2026, namun statusnya tetap Level II atau Waspada dengan radius bahaya dua kilometer.

Pengamat Gunung Lewotolok, Stanislaus Ara Kian dari Lembata, Senin (10/8), mengatakan berdasarkan evaluasi Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas erupsi dan hembusan Gunung Ili Lewotolok mengalami penurunan dengan tinggi kolom erupsi mencapai 600 meter dari puncak.

Ket. Foto: Gunung Lewotolok Erupsi. — Sumber: ANTARA

"Pengamatan visual periode 16-31 Juli 2026 menunjukkan aktivitas erupsi dan hembusan mengalami penurunan. Tinggi kolom erupsi mencapai 600 meter, sedangkan kolom asap hembusan mencapai 200 meter dari puncak," katanya.

Erupsi yang terjadi terkadang disertai suara gemuruh dan dentuman dengan intensitas lemah hingga sedang. Petugas juga mengamati sinar api di puncak serta lontaran material pijar yang jatuh ke dalam kawah saat terjadi erupsi.

Dalam periode tersebut, tidak teramati adanya aktivitas aliran lava. Dari pengamatan kegempaan, tercatat 821 kali gempa erupsi, empat kali gempa guguran, 1.312 kali gempa hembusan, 15 kali gempa harmonik, dan 17 kali tremor nonharmonik.

Selain itu, tercatat dua kali gempa frekuensi rendah, empat kali gempa hybrid, tujuh kali gempa vulkanik dangkal, 27 kali gempa vulkanik dalam, 10 kali gempa tektonik lokal, serta sembilan kali gempa tektonik jauh.

PVMBG menyebutkan jumlah kegempaan pada periode tersebut secara umum mengalami penurunan, dengan gempa hembusan mendominasi rekaman seismik.

Gempa vulkanik dangkal dan dalam masih terekam dengan jumlah yang relatif stabil. Kemunculan gempa tersebut menunjukkan adanya proses peretakan batuan akibat suplai magma dari dalam menuju kedalaman yang lebih dangkal.

"Kondisi itu dapat meningkatkan tekanan pada tubuh Gunung Ile Lewotolok," ujar dia.

Sementara itu, pengamatan deformasi menggunakan metode Electronic Distance Measurements (EDM) menunjukkan fluktuasi jarak miring yang cenderung memanjang.

Pengamatan deformasi juga menunjukkan adanya deflasi atau pengempisan tubuh gunung yang diperkirakan berkaitan dengan material erupsi yang masih cukup banyak dikeluarkan selama aktivitas vulkanik.

PVMBG merekomendasikan masyarakat maupun wisatawan tidak memasuki dan melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari pusat aktivitas Gunung Ili Lewotolok.

Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi guguran atau longsoran lava dan awan panas pada sektor selatan dan tenggara, sektor barat, serta sektor timur laut gunung api tersebut.

PVMBG mengingatkan masyarakat tidak panik ketika mendengar suara gemuruh atau dentuman dari kawah karena fenomena tersebut merupakan bagian dari aktivitas gunung api yang sedang mengalami fase erupsi.

Untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik, masyarakat diimbau menggunakan masker pelindung hidung dan mulut serta perlengkapan untuk melindungi mata dan kulit.

Redaktur: Bambang Wijanarko

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.